
Kali ini, Ares sedang disidang oleh Papa mertua dan juga Daddynya. Cantika sudah dipindahkan ke ruang rawat, sementara dirinya ada di luar ruangan untuk berbicara. “Aku ingin kembali ke kamar dan melihat keadaan Cantika.”
“Cantika baik baik saja, kau sudah mendengarnya dari dokter tadi. Hanya tinggal menunggu dia sadar,” ucap David dengan tajam, kemudian dia bertanya pada sang anak. “Kenapa dia sudah hamil empat minggu? sedangkan usia pernikahan kalian baru saja satu minggu?”
“Kakatan cepat, Nak.” Papah mertuanya ikut menimpali.
Akhirnya, Ares menceritakan kejadian saat di Amerika tentang obat perangsang dan dirinya yang mabuk, tidak ada yang disembunyikan. Bahkan adegannya yang mana membuat David langsung membekap bibir sang anak kemudian berbisik, “Tidak usah sedetail itu, katakan saja apa yang terjadi, tidak usah posisi bagaimana kalian bercinta, Ares.” Kemudian melepaskan bekapan tangannya.
Membuat Ares terbatuk batuk. “Daddy habis makan sambel? Aromanya sungguh membuatku hampir mati,” ucapnya kemudian focus lagi pada sang Papa mertua yang menatap tajam. Ares jadi takut jika di posisi seperti ini. “Jadi, Papa mertua, aku dan Cantika sepakat untuk menjalin hubungan lagi setelah itu, aku juga akan bertanggung jawab. Makannya aku tidak mau menunda nunda lagi.”
David kasihan juga pada sang anak, akhirnya dia ikut andil ke dalam percakapan. “Aku tau kalau anak ini memang menyebalkan dan melakukan hal yang tidak pantas. Biarkan dia menebus dosa dosanya sekarang dengan bertanggung jawab terhadap Cantika dan juga anak mereka. kurasa, memberi hukuman pada Ares juga tidak akan bermanfaat apa apa.”
“Memang benar, melarang kalian berhubungan lagi juka mustahil. Akan ada anak diantara kalian.”
Ares melotot kaget, “Papa mertua tolong pahami aku, aku tidak berniat membuat Cantika rusak.”
“Papa memafkanmu karena kau sudah bertanggung jawab. Sekarang pergilah temui istrimu, pasti dia ingin mendengar kabar bahagia ini darimu,” ucapnya.
“Kemudian kalian? Tidak akan ikut ke sana?”
“Kami akan mengobrol sebentar di sini,” ucap David penuh penekanan dan tatapan yang tajam seolah menyuruh Ares untuk segera pergi dari sini. anak itu pun melangkah pergi meninggalkan sang Daddy dan mertuanya di sana.
Ketika kembali ke ruangan sang istri dirawat, ternyata Cantika sudah membuka mata, menatap Ares dengan tatapan yang berkaca kaca. “Ares,” panggilnya.
“Hmm? Kau hamil. Sudah tau?”
Cantika menganggukan kepala dan merentangkan tangan. Ares lega bukan main, dia pikir Cantika benar benar belum siap dengan berkeluarga seperti ini. namun kenyataannya, tangannya merentang membiarkan Ares mendekapnya. “Benihmu bagus, Ares.”
“Tidak sebagus ladangnya,” ucap Ares mengecup puncak kepala Cantika.
Lily yang melihat adegan itu langsung menoleh pada Oma, dimana wanita tua itu langsung mengatakan, “Begitu gambaran David di mata Oma, agak bodoh seperti mereka.”
“Apa aku juga begitu, Oma?”
“Ya, terkadang kau seperti itu.” oma menaikan bahunya dan memberikan ruang untuk mereka berdua dengan pindah ke ruang tamu. Begitupula dengan Lily.
Hanya ada Athena yang sejak tadi terlelap di sofa yang ada di pinggir ranjang. Ketika Athena membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah Cantika dan Ares yang sedang berciuman dengan melibatkan lidah. “Hoek.” Melihatnya membuat Athena mual dan langsung pergi ke kamar mandi.
David yang baru masuk dan melihat Athena itu langsung curiga, dia menyusul sang anak dan bertanya, “Siapa yang menghamilimu?”
***
Cantika cukup senang dirinya mendapatkan respon yang baik dari keluarga meskipun rahasianya dan Ares terbongkar. Cantika juga tidak mau menyudutkan Ares, jadi dia mengatakan, “Aku yang menggoda Ares.”
Dimana setelah mengatakan itu, Papanya langsung menatap tajam memberikan isyarat supaya Cantika diam dan menutup mulutnya. Tidak perlu dirawat, Cantika langsung diizinkan pulang maalam harinya. Hanya dia bersama dengan Ares yang kembali ke apartemen.
Keluarga Fernandez kembali ke rumah mereka yang sudah lama ditinggali, mereka akan kembali ke Amerika lusa. Nenek dan Papanya juga pulang ke rumah mereka untuk beristirahat. Jadi, Cantika senang bisa berduaan dengan Ares tanpa ada tamu di apartemen mereka dimana dirinya bisa bermanja manja pada sang suami.
“Kalau ingin apa apa, bilang ya. aku mencoba menjadi suami yang baik dan siap mendengarkan apapun yang diidamkan oleh anak kita.”
Cantika terkekeh dan mengangguk. Bahkan ketika sudah sampai di basement, Ares enggan melepaskan tangannya dari sang istri. “Malam ini mau makan apa?”
“Ada makanan dari Mommy, kita makan itu saja ya?”
“Okay,” ucap Ares. Dia senang bukan main, akan menjadi Papa? ares ingin menangis rasanya, tapi malu oleh anaknya yang baru sebiji kacang. “Kau menyimpan foto USG tadi?”
“Aman di kantongku,” ucap Cantika dengan senyumannya yang manis.
Ares yang mempersiapkan makan malam, sementara Cantika hanya duduk manis di sana. mereka makan malam bersama, kemudian menonton film di ruang keluarga sambil memakan mulut. Besok, Ares akan mulai bekerja, dirinya khawatir dengan Cantika yang sendirian di rumah. “Besok aku akan mulai bekerja, bagaimana kalau kau bosan di rumah? ingin ada pembantu tidak?”
“Tidak perlu, Ares, kalau aku bosan, aku akan ke rumah Nenek.”
“Tidak ingin melakukan hobby atau semacamnya? Aku tidak masalah jika kau ikut kelas music dan sejenisnya.”
“Tidak, aku akan mendalami tentang kehamilan. Mencari kelas hamil juga, fokusku saat ini hanya pada kalian saja.”
Senyuman Ares tidak bisa ditahan, dia menundukan kepalanya supaya bisa mencium sudut bibir Cantika yang terdapat yogurh di sana. “Pasti akan terasa menyenangkan jika reuni nanti, kau hamil. Aku akan dengan bangga memamerkannya.”
“Dua bulan lagi ya? besarnya tidak akan seberapa, tapi lumayan menonjol.”
“Hmm. Aku mengharapkan dia bukan hanya satu, berharap dokter salah memeriksa,” ucapnya dengan tangan yang mulai masuk ke dalam kaos Cantika, mengelus perut itu dengan pelan hingga membuat Cantika mendesah juga.
Tidak tahan dengan godaan yang diberikan sang suami, Cantika menyimpan salad buah di tangannya ke meja kemudian mencium bibir Ares. Mereka belum melakukannya lagi sejak kemarin. Terakhir kali juga, Ares hanya keluar dua kali karena kasihan dengan sang istri yang kelelahan. Namun sekarang, dengan kondisi Cantika yang sedang mengandung, Ares jadi was was dan menarik kepalanya hingga ciuman mereka terputus.
“Kenapa?” tanya Cantika.
“Kau sedang hamil, aku khawatir kau akan terluka.”
“Tidak akan, Ares. Ayo lakukan saja, setidaknya satu kali. Aku sedang menginginkannya,” ucap Cantika merengek.
Yang akhirnya membuat Ares terkekeh dan menyatukan bibir mereka. sayangnya, gangguan berupa bel yang berbunyi berulan ulang terjadi. Cantika mendorong pelan tubuh sang suami. “Sudah lebih dari dua menit bel ditekan, tolong periksa.”
Ares malas sekali, dia akhirnya beranjak dari sana dan membuka pintu. Maniknya membulat melihat itu adalah Samuel yang basah kuyup. “Nagapain ke sini, setan?”
“Gue nebeng tidur ya. Dompet gue ilang, mobil gue mogok jauh di sana. gue ke sini jalan kaki. Ya? boleh nginep ya?”
“Kenapa gak pulang jalan kaki aja?”
“Apartemen gue lagi direnovasi, tadinya mau ke hotel tapi gak punya duit.”
“Yaudah nih duit, sana ke hotel.” Ares mengeluarkan cek dari dompetnya.
“Izinin gue mandi dulu napa. Tega banget lu sama temen,” ucap Samuel.
Cantika mendengar percakapan itu, dia kasihan juga dan akhirnya melangkah mendekat. “Sam? Masuk saja, kau boleh mandi di sini. ares punya banyak baju baru. iya kan, Sayang?”
Ares berdecak malas melihat Samuel yang tersenyum. “Iya, masuk saja.”
***
“yasudah biarkan saja, lagipula dia hanya ikut berteduh,” ucap Cantika memberikan kecupan di pipi sang suami. “Dia juga sepertinya belum makan, aku akan menyiapkan makanan untuknya.”
“Jangan keluar kamar tanpaku,” ucap Ares dengan matanya yang tajam. Berjaga jaga, dia khawatir jika sang istri kenapa napa. Meskipun Samuel sahabatnya, tapi bisa saja dia diam diam menyukai Cantika.
“Dia sahabatmu, Ares.” Cantika terkekeh.
Cantika tertawa karenanya, dia menarik tangan Ares untuk ikut keluar dan menyiapkan makanan untuk Samuel. Dimana pria yang menjadi tamu juga baru saja keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lebih baik. “Woaw, apa makanan itu untukku?”
“Ya, bergegaslah makan,” ucap Cantika. “Apa kau demam? Aku punya obat untukmu.”
“Terima kasih, Cantika. Kau baik sekali. Kini aku tau kenapa pernikahan itu saling melengkapi. Ares setan, kau malaikat,” bisiknya yang berhasil membuat Cantika terkekeh.
“Kau menggoda istriku ya?” tanya Ares. Dia langsung mendekap Cantika dari belakang. “Jangan berani ya.”
“Ya tuhan, aku hanya akan makan, kemudian tidur dan segera pulang dari sini di pagi hari,” ucap Samuel duduk di kursi untuk menyantap makan malamnya.
“Kenapa tidak pulang sekarang saja?” tanya Ares yang langsung disikut oleh Cantika. Menatapnya tajam seolah memberi tanda kalau suaminya tidak boleh mengatakan kalimat seperti itu.
“Besok pagi aku akan pulang dan langsung mengerjakan tugasmu.”
“Ah benar, kalau kau ingin tidur di sini. lakukan pekerjaanku ya,” ucap Ares antusias. Dan sebelum Samuel protes, Ares langsung mengacungkan tangannya ke udara membentuk huruf V. bagi Samuel, itu adalah nominal yang membuatnya langsung mengangguk kuat.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Cantika penasaran.
“Bukan apa apa, Cantika,” ucap Samuel. “Haruskah aku memanggilmu Nona?”
“Tidak perlu astaga.” Cantika memalu. “Aku akan ke kamar. Jika sudah selesai, simpan saja di sana piring kotornya ya.”
Kemudian Cantika melangkah meninggalkan Ares dan Samuel di sana. berbeda dengan sang istri, Ares mengatakan, “Kau harus mencuci piringmu sendiri. jangan membuat istriku kesusahan.”
“Baik, Boss.”
“Semua pekerjaannya ada di meja, bawa ke kamarmu ya.”
“Baik, Pak boss.”
Kemudian Ares juga menyusul Cantika dan meninggalkannya sendiri di sana. yang mana membuat Samuel menggelengkan kepalanya heran melihat dua orang yang saling berkebalikan itu.
Setelah makan dan mencuci piring, Samuel membawa pekerjaan itu ke dalam kamar untuk diselesaikan. Sialnya, dia malah mendengar suara suara aneh. Yang mengingatkan Samuel pada perintah Ares dua hari yang lalu, “Peredam suara di kamarku rusak, lu ganti ya.”
Dan Samuel melupakannya. Sekarang, dia menanggung karmanya dengan mendengarkan suara suara aneh dari kamar sebelah. Dimana bahkan Samuel mendengar bagaimana Ares melakukan dirty talk.
“Bapak tolong aku,” ucapnya langsung mengubur diri di bawah selimut.
***
Ketika Cantika bangun, seperti biasa dia mendapati Ares yang masih terlelap. Karena Cantika mendapatkan pesan dari sang mertua yang akan berpamitan nanti siang, jadi Cantika harus menyiapkan sesuatu di sini.
Seperti membeli cookies atau hal lainnya. Cantika juga mandi lebih dulu dan berendam menenggelamkan rasa lelahnya akibat semalam. Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Cantika menoleh dan mendapati Ares yang ikut masuk ke sana. “Jangan lagi, aku masih lelah.”
Ares terkekeh. “Tidak, aku janji tidak akan melakukannya lagi.”
Sedikit tidak percaya. Karena seingat Cantika, jika milik Ares ditekan sedikit saja maka dirinya akan bangun. Namun ternyata, pria itu melakukan hal sebaliknya. Ares memilih untuk mandi di bawah guyuran shower, membuat Cantika bisa melihat dengan jelas bagaimana milik Ares bergelayut manja di sana dan membuat pipinya memanas. Cantika sampai berdehem karenanya dan mengalihkan perhatian.
Dia lebih dulu selesai dan berpakaian. Hal pertama yang dia lakukan adalah melihat ke kamar Samuel yang sudah terbuka, keningnya berkerut mendapati kasur yang rapi dan tidak ada siapa siapa di sana.
“Sayang, sedang apa?”
“Ares, kau membuatku kaget.” Cantika memegang dadaanya sendiri. “Samuel sudah tidak ada.”
Ares memastikan juga. “Sepertinya dia sudah pulang.”
“Pagi sekali?”
“Iya, dia memang giat. Ayo kita sarapan saja.”
“Mommy bilang akan berangkat setelah makan siang. Kita harus mempersiapkan sesuatu di sini.”
“Mempersiapkan apa? Kita minta orang lain saja yang memasak atau memesan, aku tidak mau kau kelelahan,” ucap Ares memaksa. Cantika hanya mengangguk, dia memilih untuk memesan menu yang dirinya inginkan.
Namun sebelum jam makan siang, Athena sudah datang duluan. Dia bilang ingin berlama lama dengan Cantika sebelum kembali ke Amerika dan focus pada pendidikannya. “Kau mengganggu waktuku berduaan dengan Cantika.” Ares berkata demikian yang dihadiahi pelototan oleh Athena.
“Aku ingin menyapa calon keponakanku. Yaa ampun, usianya sudah tua ya.”
“Berhenti menyinggungnya,” ucap Ares menjitak kepala sang adik yang kini sedang ikut memakan camilan sang istri. “Kau ini seharusnya mencari pacar, bukan mengganggu rumah tangga orang.”
“Bisakah kau meninggalkanku sebentar dengan sahabatku? Aku ingin curhat padanya.”
Ketika Cantika memberikan tatapan pada Ares yang hendak menjitak kepala Athena lagi, sang suami menurut dan berdehem kemudian mengatakan, “Aku akan mengerjakan sisa pekerjaan.”
Meninggalkan Athena yang terekeh dan berkata, “Kau benar benar hebat bisa mengendalikan makhluk itu.”
Cantika mengangkat bahunya. “Jadi, mau curhat apa?”
Ternyata, Athena curhat perihal Samuel yang mengejarnya. Dirinya masih tidak percaya pada sosok itu, tapi lama lama, Athena suka menyiksa Samuel jika dirinya sedang kesal dan pria itu berakhir menghiburnya.
“Kupikir kau menyukainya.”
“Pria bodoh sejenis Ares itu? tidak mungkin,” ucapnya sambil terkekeh. “Begitulah curhatanku. Aku mau istirahat di kamar ini sebelum orangtuaku datang. Terima kasih, Cantika.” Memasuki kamar yang sebelumnya ditiduri oleh Samuel.
Athena merebahkan dirinya di sana. bahkan dia bisa mencium aroma Samuel yang membuatnya merutuki diri sendiri. ketika hendak memejamkan mata, telinganya menangkap bunyi seseorang yang mengorok. Athena langsung was was. Dia melangkah menuju lemari dengan pemukul baseball yang sebelumnya jadi pajangan. “Apa Ares memelihara makhluk ya? Yang membuatnya kaya dengan cepat?” berspekulasi sendiri sampai tangannya membuka lemari.
“Huaaa!”
“Hwaaa!” sosok itu ikut berteriak
BUK! Athena memukul kepalanya.
“Aduh, sakit.”
“Loh, Samuel?”
“Thea, kenapa kau memukulku?” pria itu menunjukan senyuman mansinya untuk Athena.
“Apa yang kau lakukan di sini hah? Kenapa tidur di lemari?”
“Aku baru bisa tidur pagi tadi karena tetangga terus bertengkar,” ucapnya.
Keributan Athena dan Samuel memicu Cantika dan Ares yang bergegas masuk ke sana dan memeriksa apa yang terjadi.