
Membiarkan Cantika istirahat terlebih dahulu sebelum diajak diskusi perihal dengan apa yang akan dilakukan oleh Ares di California. Bukan semena mena membawanya ke tempat ini selama satu minggu. Ares benar benar ingin melihat dan mendengar pendapat dari perempuan yang dia sukai itu.
Menepikan dulu perasaan tentang kekesalan kalau Cantika dan Galuh menjalin percobaan selama dua bulan. Ares juga akan berusaha dengan keras membanggakan kedua orangtuanya dan juga membawa kembali Cantika ke dalam dekapannya.
saat ini, Ares sedang berada di kamarnya. Tubuhnya menempel pada dinding sambil duduk di atas ranjang. Telinganya terjepit oleh dinding, dia ingin tau apa yang sedang dilakukan Cantika di sana. Namun sayangnya, tidak ada suara apapun.
Membuat Ares yang tengah membaca berkas dalam tablet itu agak khawatir. "Cantika, mana suaranya?" kadang bergumam bodoh seperti itu.
sampai larut malam, akhirnya Ares tidak kuat untuk tidur. Dengan posisi yang tidak nyaman, Ares tertidur. Dan dalam tidurnya itu, dia beberapa kali bermimpi seram. Mendengar orang bernyanyi atau sesekali sosok itu berdiri di sampingnya. Hingga saat Ares bangun, dia merasakan lelah yang berkali kali lipat.
"Ughh… jam berapa ini?" Tanya Ares pada dirinya sendiri. "****! Sudah siang! sayangku pasti kelaparan!"
Ares kesal pada dirinya sendiri. Karena sengaja untuknya tidak memesan sarapan yang diantarkan, tapi dimana Ares akan turun dikarenakan dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Cantika.
Ares bahkan tidak mandi, dia langsung mengambil jaketnya dan mengetuk pintu yang terhubung dengan kamar Cantika. "Cantika, buka kuncinya. Ayo kita sarapan ke bawah. Maaf membuatmu kesal dan kelaparan, Sayangku."
kata terakhir, sengaja dikecilkan volumenya oleh Ares. Karena tidak ditanggapi terus, Ares membuka pintu. Kagetnya dia karena tidak dikunci oleh sisi bagian Cantika.
"Cantika?" panggilnya dengan pelan. "Kau tidak pingsan bukan? karena tidak diajak ke bawah?"
Ares memilih menemukan Cantika yang pingsan daripada…. Cantika yang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan hanya menggunakan bathrobe saja.
"Arggggggg! mesum!" Teriak Cantika seperti itu dan refleks melemparkan gelas kumur kumur yang ada di tangannya.
BUK! BRUG! Ares jatuh terkapar dengan darah keluar dari dahinya. Cantika diam saat menyadari perbuatannya.
"Tuan?" panggilnya sedikit panik. "Tuan Ares, apa anda baik baik saja?"
Melangkah mendekat. Gelas itu baik baik saja, tapi kening Ares berdarah membuat Cantika menutup mulutnya apalagi mata Ares terbuka. "Tuan Ares?!"
"Maaf!" Teriak Ares langsung memejamkan matanya. Kemudian pria itu berlari seketika kembali ke ruangannya. BRUK! Pintu ditutup secara kasar. "Cantika! Katakan padaku kalau kau sudah siap! aku benar benar minta maaf atas apa yang terjadi barusan!"
Ares berdiri di belakang pintu dengan jantung yang berdetak kencang. Apa yang dia lihat barusan? Oh Tuhan, Ares merasakan panas di pipinya. Entah apa yang terjadi, tapi Ares benar benar tidak berniat untuk mengintip sampai hari itu tiba.
"Cantik sekali," gumamnya sambil tersenyum. Ketengilannya luntur saat merasakan sesuatu menetes dari kepalanya. Ares memegangnya, dan baru menyadari kalau itu darah. "Huaaa, Mommy! Ares terluka!" Teriaknya seperti itu.
Cantika sudah menduganya. Jadi setelah berpakaian, dirinya langsung membuka pintu dengan kencang hingga membuat Ares tersungkur dan akhirnya pria itu benar benar tidak sadarkan diri.
Cantika panik, tangannya bergetar merangkup wajah Ares. "Jangan mati dulu," ucapnya sambil berusaha membalik tubuh pria itu jadi terlentang.