
Akhirnya hari ini datang juga, dimana ini adalah saatnya Ares membawa Cantika pulang ke hotel. Pagi ini, mereka kembali sarapan bersama sama. Diakhiri dengan tangisan kecil dari Oma untuk Cantika, dan juga Ares yang dipeluk sangat Daddy. Namun bukan sembarangan pelukan, ternyata itu adalah pelukan dengan kalimat menakutkan bagi Ares sendiri. "Kau harus bisa mendapatkannya dalam waktu dua bulan, Ares. Karena setelah dua bulan lagi, kau harus segera kembali ke sini dan meninggalkan Indonesia. Paham?"
Ares adalah orang yang menepati janji dan konsisten. Lagipula kenyataannya memang dia akan kembali ke Amerika mengingat di Indonesia hanya sementara. "Jangan ingatkan aku pada hal tersebut. Aku sudah mengukir nya dalam otak, Dad."
"Okay, jadilah pria yang membanggakan. Selamat bersenang senang untuk kalian."
"Kami akan bekerja, Daddy. Bukan bermain."
David memutar bola matanya malas, melihat Cantika dan juga Ares yang melangkah beriringan tanpa bergandengan tangan. Pemandangan di depannya mampu membuat David tertawa. "Mereka tidak berpengangan tangan ya?"
"Berhenti menggoda anakmu," Ucap Lily memberikan peringatan pada sangat suami.
Sementara di sana Athena memeluk Oma, menggelengkan kepalanya heran dengan pemikiran dua orang yang terjebak status pertemanan itu.
"Ayo sudah kembali bekerja di habitat kalian masing masing. Badut nya sudah pergi," Ucap Oma memimpin untuk melangkah pergi dari sana. "Thea, bantu Oma memakai masker ya. Tadi malam masker Oma rusak gara gara Daddymu."
"Siap, Oma."
Di sisi lain, diperjalanan Cantika tidak bisa berhenti tersenyum karena kebahagiaannya akibat bersama dengan Athena. "Terima kasih, Ares. Sudah membawaku menemui Athena. Aku benar benar merindukannya."
"Sama sama, Cantika. Aku senang karena kau senang."
Mengingat pada pekerjaannya, Cantika memastikan. "Apakah malam ini jadi? Sebuah pesta?"
"Ya, kita akan menghadirinya karena aku harus bertemu beberapa orang penting."
"Apa aku harus ikut? Keberadaanku sepertinya tidak terlalu penting."
"Kau sekretaris ku, tentu harus ikut. Jangan khawatir, di sana akan terasa menyenangkan. Aku sudah meminta seseorang menyiapkan gaunmu juga. Sekarang ada di kamar hotel."
"Ada sinyal!" Teriaknya tiba tiba seperti itu dan langsung mengangkat panggilan. "Hallo, Galuh?"
Oh astaga, jantung Ares terasa seperti di bom. Terdengar dramatis, tapi itulah kenyataannya. Ares bahkan dengan sendirinya memelankan kecepatan berharap bisa mendengar percakapan mereka.
"Aku baik baik saja. Jangan khawatir. Harusnya kau yang mengkhawatirkan dirimu sendiri." Bahkan, manik Cantika memperlihatkan kalau dirinya sedang khawatir. Ares cemburu jika Cantika khawatir dengan orang lain! "Bagaimana bisa? Ya Tuhan kenapa akhir akhir ini aku hanya mendengar berita buruk darimu? Galuh, cobalah untuk mengambil jalan aman. Dan kenapa mereka selalu menempatkan dirimu dalam bahaya?"
Ares mendengarkan bagaimana Cantika bicara. Sejauh ini, mereka hanya menceritakan kabar satu sama lain. Sampai akhirnya telpon terputus, Ares menghela napasnya dalam. "Itu Galuh yang saat itu menjadi ketua osis?"
"Hah? Iya," Jawab Cantika.
"Kalian sudah berpacaran atau bagaimana? Terlihat akrab sekali dari cara kalian bicara."
Cantika hanya tersenyum kecil. "Hubungan kami sedikit spesial."
Ares tersenyum kecut. Dirinya memang tidak spesial. Kalah jauh dari Galuh. Oleh sebab itu, saat lampu merah, Ares mengirim pesan pada Samuel.
Cantika tidak sengaja mengintip, dia melihat Ares mengirimkan emoji cium pada nomor seseorang tanpa nama, tapi poto profilnya adalah laki laki.
"Ares?" Panggil Cantika dengan pemikiran yang sudah aneh terhadap pria di hadapannya ini.
"Bagaimana, Cantika?"
"Tidak apa jika berbeda."
"Ya?"
***