
"Sudah! Aku lelah!" Teriak Cantika saat ada di lantai 16, dia tidak mau menuruni tangga lagi karena dikejar oleh Ares. Ditatap nya pria itu dengan mata yang berkaca kaca juga napas yang tidak beraturan.
Ares pun sama, dia lelah karena mengejar Cantika. Namun sorot matanya yang terluka membuat Ares sadar, dirinya bodoh jika sudah bersanding dengan sosok ini. "Dengar, Ares. Aku lelah dengan sikapmu. Kalau kau ingin aku terbiasa lagi denganmu, tolong beritahu aku alasan kenapa kau meninggalkanku dulu."
Mereka saling bertatapan dengan napas yang sama memburunya. Ares merasa bersalah. Dia memang bersikap bodoh untuk mendapatkan Cantika. Harusnya tidak seperti ini. "Kita bicara di luar ya? Supaya lebih nyaman. Aku janji akan memberitahu apa yang terjadi padaku dan keluarga waktu itu. Bisa?"
"Kau hanya modus. Setiap kali aku meminta penjelasan, kau selalu berubah ubah dan hanya ingin aku berada di sekitarmu bukan? Kau pikir aku tidak lelah. Ares, aku membencimu karena kau meninggalkan ku dahulu. Dan sekarang aku harus melayanimu, pura pura tidak terjadi apa apa dan menerima semua tingkah randommu ini?"
Ketika air mata Cantika menetes, tangan Ares terulur hendak menghapusnya. Namun sayangnya Cantika menepis nya pelan. "Tidak usah. Berhenti mempermainkanku Ares."
"Aku janji akan memberitahumu. Sekarang ayo kita pergi dulu. Ada makan malam yang menunggu kita."
"Bisa jangan menyentuh ku dan bertingkah seperti orang normal?"
Ares mengangguk. Dia membuka pintu untuk keluar dari tangga darurat. Bahkan Ares hanya terdiam ketika keduanya menaiki lift. Dia ingin minta maaf dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi Ares terlalu takut. "Aku akan memberitahu, aku janji. Malam ini kau akan tahu kenapa aku menjadi brengsek waktu itu."
Mungkin jika Ares menjelaskan, dia akan tahu dari sudut pandang alasan Ares meninggalkannya.
"Apa kalian baik baik saja?" Tanya pria tua itu yang sudah menunggu di lobi.
"Kami baik baik saja." Ares berusaha tersenyum.
"Anda menyetir sendirian, Tuan Ares. Ada yang harus saya kerjakan di sini. Dan juga, mungkin anda ingin jalan jalan setelahnya."
Ares menatap Cantika dulu. Khawatir sosok ini akan keberatan.
“Tidak,” jawab Ares. Senang ketika Cantika tidak menolaknya.
Namun ketika di dalam mobil, dirinya dan Cantika hanya terdiam saja. dengan Cantika yang focus ke jalanan. Sesekali dia mengecek ponselnya untuk melihat apakah sudah mendapatkan balasan dari Galuh atau tidak. Sayangnya belum ada, membuatnya merindukan sosok itu.
Ares melirik pada room chat tersebut. dia sedikit kesal, tapi tidak melakukan apapun. Oke, dia rasa ini saatnya untuk membicarakan masa lalu. Tidak apa untuknya merasa malu, karena jika tidak, Cantika mungkin akan bersama dengan Galuh. “Bisa kau menaruh perhatian padaku dulu?”
Cantika menoleh. Haduh, apa lagi yang akan dilakukan bocah ini?
“Aku ingin jujur tentang kenapa aku meninggalkanmu.”
Cantika masih mendengarkan.
“Sebenarnya, Cantika, waktuku tidak lama lagi.”
“Jangan bercanda, Ares,” ucap Cantika dengen kesal.
“Tidak. Aku memang sudah menyiapkan bukti. Aku membawanya kemana mana untuk menunjukan padamu. tapi aku baru berani sekarang. Lihat ini.” mengambil kertas dari dalam tasnya. “Itu waktu hasil pemeriksaanku ketika aku meninggalkanmu.”
Cantika terdiam, dia membuka kertas tersebut dan membacanya. “Kau tidak bercanda kan? Mana mungkin kau terkena kanker?”
***