STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Pertanyaan


“Apa kau lapar?” tanya Ares yang mana membuat Cantika sontak menghentikan langkahnya. Dia menatap Ares dengan tatapan yang heran. Mereka baru saja sarapan dengan makanan buatan Nenek tadi. “Hehehe, aku hanya khawatir kau tidak bisa bekerja dengan baik karena masih lapar.”


“Tidak, aku baik baik saja. kenapa Tuan datang ke sini? Pasti ada alasan bukan kenapa Tuan bisa di sini?” tanya Cantika mereka berdua masih bicara di koridor. “Apakah ada beberapa hal yang harus aku lakukan?”


“Tidak ada.”


“Lalu kenapa anda datang ke sini?”


“Aku… hanya khawatir denganmu, takut kejauhan, jadi aku jemput,” ucapnya dengan suara yang mulai mengecil, matanya menatap takut pada Cantika. Dia khawatir akan diberikan komentar jahat.


“Lain kali tidak usah melakukannya.” Cantika kembali melangkah. “Saya bisa pergi sendiri, jangan menjemput.”


“Tapi kebetulan tadi aku lewat, jadi mampir ke sini.”


“Lewat kemana? Bukannya apartemen anda bersebelahan dengan kantor anda sendiri?”


“Cantika,” ucap Ares mengerucutkan bibirnya.


Cantika menelan salivanya kasar, dia menarik napasnya dalam dan melangkah mundur melihat raut wajah yang seperti itu. Bahkan Cantika sampai berpaling karenanya.


“Maaf, aku hanya ingin lebih dekat dengan sekretarisku sendiri.”


Cantika kembali melangkah diikuti oleh Ares dari belakang. “Naik mobil aku, oke? Supaya hemat uang dan juga pengeluaran.”


Cantika memilih diam, kali ini dia ingin mengikuti alur dari permainan Ares. Namun saat dalam mobil, kenyataannya Cantika tidak sekuat itu. Dia menghembuskan napasnya kasar dan tidak bisa satu ruangan dengan mantannya.


Apalagi Ares terus mengajaknya berbicara, meskipun dia jawab dengan singkat.


“Tolong, lain kali jangan melakukan hal ini lagi. Mari kita professional dan hanya saling mengenal di dunia pekerjaan saja, Tuan. Jika di luar jam kerja, anda tidak perlu ikut campur dengan permasalahan ataupun kehidupan saya,” ucap Cantika sembari keluar dari dalam mobil.


Meninggalkan Ares yang terdiam dan lesu, dia hanya bisa menatap kepergian sosok tersebut. Sampai mata Ares melotot melihat kemana Cantika melangkah. Buru buru dia keluar dari mobil dan berlari menyusul sang mantan. “Cantika! Itu lift untuk para pembersih yang menuju langsung ruangan peralatan bersih bersih.!”


“Lift khusus pegawai yang itu.”


“Oh, oke,” ucapnya melangkah ke tempat yang ditunjuk oleh Ares.


*****


Siapa bilang bekerja dengan mantan itu mudah? Pada kenyataannya, Cantika merasa kesulitan karena hal ini. dia hanya bisa menarik napasnya dalam setiap kali Ares membicarakan hal yang tidak masuk akal seperti, “Sudah makan?”


Dan semakin hari, perhatian itu semakin menjadi jadi. Cantika tidak suka. Bahkan ini belum satu minggu dirinya bekerja di kantor Ares, tapi Cantika ingin resign saja. jika saja dia tidak ingat berapa nominal uang yang tertera di surat perjanjian, dia pasti akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini.


Yang paling Cantika benci adalah ketika dirinya terkurung hanya berdua bersama dengan Ares. Seperti sekarang ini, mereka baru saja melakukan pertemuan di sebuah resto China dan para orang orang itu pergi lebih dulu hingga belum menyentuh makan siangnya. Dan berakhir Cantika juga Ares yang harus menghabiskannya.


“Apa kau merindukan Athena?” tanya Ares secara tiba tiba, yang mana membuat Cantika menghentikan kunyahan di mulutnya. Dia lebih suka keheningan seperti tadi. “Tidak merindukannya?”


“Tentu aku merindukannya.”


“Dia juga sangat merindukanmu.”


Cantika diam, sampai akhirnya Ares kembali berkata, “Aku juga merindukanmu.”


Seketika Cantika menyimpan sumpit yang ada di tangannya kemudian menarik napasnya dalam. “Apa yang ingin kau katakan sebenarnya? Penjelasan ketika meninggalkanku dulu?”


Ares langsung terdiam.


“Ares, bisa kau jelaskan kemana dulu kau pergi? supaya aku tidak dilanda kebingungan lagi?”


****