
“Gimana, Mbak?” tanya Cantika memastikan. Dia dipindahkan ke kantor pusat? Setelah kemarin dia tiba tiba menjadi sekretaris, kini dirinya harus pindah kantor juga yang membuatnya harus pindah apartemen juga? Gila memang Ares ini. baru semalam Cantika mempelajari tatacara menjadi sekretaris yang baik dan benar, sekarang dirinya harus pergi ke kantor baru yang bahkan tidak tau letaknya dimana.
“Cepat ke bawah, mereka bilang ada supir yang menunggumu di sana.”
“Bagaimana nasib barang baarangku, Mbak?”
“Sudah pergi dulu, nanti ada yang mengantarkan. Aku tidak mau dimarahi atasan, Cantika. Ini sudah pukul tujuh dan kau belum apa apa. Kalau di sana banyak pekerjaan bagaimana? Sudah sana pergi.”
Cantika diusir, akhirnya dia turun kembali ke lantai utama dimana seorang pria sudah menunggunya di sana. “Mbak Cantika? Saya supir suruhannya Pak Ares untuk jemput Mbak.”
“Oh iya.”
“Mari, Mbak. Saya antarkan ke kantor yang baru.”
Sepanjang perjalanan, Cantika hanya diam. Kenapa? kenapa harus dirinya yang berada dalam posisi seperti ini? cantika ingin keluar, bukan hal mudah memisahkan antara pekerjaan dan juga perasaan pribadi. Jika ditanya bagaimana perasaannya pada Ares? Cantika membencinya.
Maka dari itu dia tidak ingin lebih lama di samping pria itu, Cantika takut dirinya semakin membenci Ares, dia tidak mau hal itu terjadi. namun niatnya untuk keluar dari perusahaan harus terhentikan tatkala Cantika mendapatkan pesan dari sang Ayah yang mengatakan kalau Nenek sakit dan butuh uang.
Membuatnya harus bertahan.
“Hallo, pah? Bagaimana Nenek?”
“Sakit biasa, hanya butuh dirawat. Maaf Papah menggangumu di pagi ini. apa kau sudah makan?”
“Cantikaa sudah makan, dan berhenti minta maaf, Pah. Cantika akan transfer uangnya. Mungkin Cantika bisa menjenguk Nenek nanti sehabis kerja.”
“Tidak apa apa, Nak. papah paham. Semangat kerja, Sayang Papa. Nanti hati hati di jalan. Kau ke sini dengan Galuh nanti?”
“Tidak, Pah. dia di luar Pulau ada pekerjaan. Cantika ke sana sendiri.”
“Ingin Papah Jemput?”
“Tidak perlu. Cantika nanti ke sana naik taksi aja,” ucapnya mencoba menguatkan diri. Jika sudah menyangkut keluarga, Cantika enggan untuk menyerah. dia menutup panggilan dan meyakinkan dirinya lagi kalau semuanya akan baik baik saja.
“Sudah sampai, Mbak.”
Menatap gedung yang 10 kali lebih tinggi, lebih luas, lebih mewah yang akan menjadi tempatnya bekerja.
****
Ada seorang Wanita yang sedang hamil yang kini sedang mengajari Cantika cara menjadi sekretaris yang baik dan benar. Wanita itu mantan sekretaris di sini, tapi dia harus berhenti karena hamil dan akan segera melahirkan.
“Paham kan?”
“Paham, Kak. Terima kasih.”
“Sama sama. Dulu Kakak melayani Pak Dewa, sekarang pemiliknya langsung yang datang ke sini dan mengambil alih. Jadi Kakak tidak tau bagaimana karakternya, tapi cobalah pelan pelan kenalin karakter Tuan Ares. Kakak yakin dia tidak akan memberikan pekerjaan yang jauh berbeda dari yang Kakak katakana.”
“Belum, ada yang bilang beliau sedang sakit. Tapi kau harus tetap bekerja, cobalah hubungi asistennya atau dia sendiri supaya kau bisa menangani meeting yang harusnya terjadi hari ini.”
“Kakak punya nomor asistennya?”
“Tidak, kau tidak memintanya pada bossmu?”
Cantika menggelengkan kepala, dia menghela napasnya dalam.
“Yasudah minta saja sekarang. kakak tinggal dulu ya, sampai jumpa.”
“Terima kasih bantuannya.” Kini Cantika benar benar sendirian di luar ruangan yang seharusnya menjadi tempat Ares. Namun pria itu tidak kunjung datang, apa yang terjadi?
Di lantai ini, hanyaa ada dua ruangan. Yaitu ruangan bossnya dan satu kamar mandi untuk Cantika. Sisanya hanyalah Lorong dan ruangan terbuka untuknya bersantai ataupun minum kopi. Cantika jadi meraasa seram membayangkan di sini sendiri.
Karena ada meeting yang harus terjadi dua jam lagi, Cantika menghubungi Ares dengan cara menelponnya, sebenarnya dia enggan melakukan ini, apalagi Ares sudah dia kirimi email sebagai jadwal, tapi pria itu tidak menjawab sama sekali.
“Hallo, Tuan Ares?”
“Cantika, bisa kau datang ke sini?”
“Kemana, Tuan?”
“Ke apartemenku.”
“Apa?” tanya Cantika kaget, kenapa pria ini selalu membuatnya Lelah dengan terus berpindah pindah tempat.
“Ada berkas yang harus kau serahkan pada mitra kita, aku sedang sakit jadi kau yang mewakiliku.”
“Tidak menggunakan asisten pribadimu yang sudah mengetahui semuanya, Tuan?”
“Cepat datang ke sini. Supir di bawah sudah menunggu, cepat.”
Tit. Tit.
Panggilan putus, membuat Cantika kembali berdecak kesal. Akhirnya dia turun dan kembali disapa lagi oleh supir yang tadi.
“Ke apartemenya Tuan Ares kan, Mbak?”
“Iya, Pak,” jawan Cantika saat mobil mulai melaju, dia memainkan ponselnya. “Apakah jauh?”
“Sudah sampai,” ucapnya membuat Cantika mematikan ponsel dan menoleh ke belakang.
Gedungnya bersebelahan?
*****