Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Menjadi Pelindung


Bab 9


Segerombol orang di atas motor masing-masing menghampiri Xavia, mereka berhenti tepat di tengah-tengah tidak memberi akses motor yang ditumpangi lewat.


Terpaksa gadis yang kini menguncir rambut ikalnya satu di belakang itu meminta Kenard untuk menghentikan laju, sambil menatap wajah kejam mereka satu persatu waspada.


Ia ingat wajah mereka, yaitu adalah para anggota geng Eagle eye, kekuasaan Richard. Sengaja dikirim untuk melenyapkan Xavia di kehidupan sebelumnya.


Pasti saat ini akan melakukan hal yang sama.


“Cepat turun dari sana!” bentak pria bengis kepala pelontos sambil memegang tongkat besi siap menyerang Xavia.


Xavia tahu bahwa Richard memang kejam, tapi dia tidak pernah menyangka pria itu malakukan ini dengan cepat. Bahkan saat ayahnya masih hidup, Richard memerintahkan para anak buahnya untuk membunuh dirinya.


Dengan sorot mata tajam dipenuhi rasa dendam Xavia menoleh pada Kenard yang kini sedang memegang stir.


Lelaki itu mengangguk terhadapnya memberi isyarat supaya Xavia bersiap. Tangan Kenard memutar gas kemudian melaju sangat kencang ke depan.


Sehingga membuat orang-orang yang sebelumnya mengelilingi sekitar mereka menjadi terpencar menyelamatkan diri masing-masing.


“Uhui!” sorak Kenard puas melihat mereka kocar-kacir.


Dor!


Suara desingan peluru melesat hampir saja mengenai belakang. Xavia memegang senjata mengambil ancang-ancang, mengangguk kemudian saat Kenard menatapnya.


Mereka berdua turun dari kendaraan roda dua tersebut. Senjata dipegang menggunakan kedua tangan, mereka menebak brutal.


“Aku tidak akan puas sebelum membeli pelajaran para anak buah Richard. Mereka harus tahu, nyawa siapa yang diincar akan dibunuh, aku bukan Xavia lemah, aku akan melawan mereka!” ucap Xavia, menyipitkan mata, berkilat pijar kemarahan.


Sambil mengangkat senjata laras pendek bersiap membalas anak buah Richard yang terus menembak ke arahnya.


“Oke, bersiaplah, dan berhati-hati!” peringat Kenard juga sedang bersiap membawa senjata di sampingnya. Ia memutar badan cepat hingga berbalik 180 derajat.


Di atas jalanan aspal hitam di pinggirnya terdapat tanah tandus. Dan rumah di sekitar sana sudah usang tak berpenghuni, letaknya pun jauh dari pusat. Oleh sebab itu sering dijadikan tempat pertarungan antar geng dan transaksi gelap.


Xavia mengacungkan satu tangannya mengarah pada pria di hadapan. Menatap sinis sambil menarik platuk.


“Kau pikir, aku akan mengampunimu, hah?” pekiknya.


Suara tembakan menggema membuat para anak buah Richard banyak terkena berjatuhan di jalanan. Xavia menembak sisi sebelah di kanan, sedangkan Kenard memainkan senjatannya dari kiri sesekali menundukkan kepala untuk mengindari.


“Xavia awas!” pekik Kenard sambil memutar badan, menarik Xavia dalam pelukannya.


Kenard menembak pria di belakang Xavia, dia hampir saja mengenai gadis yang selama ini dia jaga itu.


“Yang terpenting mereka kalah dan gagal membunuhmu. Kuharap ini adalah yang terakhir kali, sebab kalau mereka berani mencoba coba untuk menyentuh ujung rambutmu saja, aku akan memotong tangannya!” kesal Kenard.


Xavia tersenyum lega masih dalam dekapan lelaki itu. Ia berhasil dari percobaan pembunuhan anak buah Richard.


Lagi-lagi Kenard berperan penting telah membantunya, dia adalah pengawal yang amat sangat setia. Menjadi garda depan Xavia, sehingga selalu bisa melindungi di setiap kesempatan saat berhadapan dengan lawan.


Dalam dekapan Kenard tiba-tiba Xavia masuk dalam bayangan dimensi lain. Terlihat jelas para anak buah Richard menyerang mereka berdua. Kenard memeluk dirinya untuk melindungi sambil berlum berlumuran darah.


Keringat dingin membanjiri wajahnya, ia merasa ketakutan sampai tangannya bergetar melihat darah yang mengalir deras.


Xavia dengan cepat memeluk Kenard lagi dengan sangat erat. Menggelengkan kepala berulang-ulang tidak mau kehilangan.


Kenard yang mendengarnya mengerutkan dahi seiring satu alis terangkat. Ia terkejut tapi dalam situasi menegangkan banyak peluru beterbangan membuatnya tidak sempat untuk bertanya apa yang terjadi.


Dan tanpa diduga, ia telah kehabisan peluru menjadi tidak bisa membalas mereka.


Kenard menarik pergelangan tangan Xavia, mengajak berlari untuk menghindari mereka, keduanya berdiri di sudut dalam bangunan kosong yang tersembunyi.


Di sudut, Kenard memantau keluar sambil waspada. Sedangkan Xavia berdiri bengong, langsung dipeluk oleh Kenard seiring mengeluarkan handpone untuk meminta bantuan pada anggota geng Black Horses.


“Kami berdua dalam bahaya, kalian kerahkan anggota untuk datang ke mari. Cepat!” pinta Kenard pelan tapi dengan penekanan.


“Kenard, bagaimana jika mereka berhasil menemukan kita. Aku tak mau kejadian itu terulang lagi, kau-“


“Shuttt!” Kenard menempelkan satu jari di depan bibir Xavia. Meminta untuk diam, sebab dua orang anak buah Richard itu berjalan ke arahnya dalam posisi sangat dekat.


Xavia dan Kenard berhadapan saling beradu pandang. Tersirat syarat dalam sekejap kedipan.


Jangankan mengeluarkan bicara, bernapas pun mereka melakukannya dengan pelan dan berhati-hati supaya tidak didengar oleh dua orang kini hanya berjarak dinding saja.


Derap kaki mereka semakin mendekat, satu jari Kenard masih di bibir Xavia. Mereka sama-sama tegang dan was-was melirik waspada ke luar.


“Mereka pasti di sini, semua tempat sudah kita cari, hanya ini saja yang belum,” ucap salah satu mereka.


Xavia menggeleng, sebab merasa dirinya dan Kenard akan berakhir saat ini juga melihat mereka yang samakin mendekat bahkan sudah ada di sampingnya hanya terhalau dinding.


BRAKK!


Anggota geng Black horses telah datang. Menghajar mereka yang masih tersisa. Kedatangan mereka yang berjumlah sangat banyak, mengalahkan geng Eagle Eye.


Geng Black Horses berhasil menangkap pemimpin geng yang berencana akan membunuh Xavia sebelumnya.


Mereka yang tersisa disuruh untuk berlutut di hadapan Xavia. Meminta maaf secara berulang-ulang hingga membuat mereka kelelahan.


“Setelah ini lebih baik kita apakan mereka, Bos? Apakah sebaiknya kita habisi saja?” tanya Ronald mendorong kepala anak buah Richard ke depan kasar.


Kenard menggeleng. “Biarkan dia hidup, tapi jangan biarkan mereka menghirup napas dengan benar. Siksa mereka, aku akan mengirimkan rekamannya pada tuannya. Supaya mereka berpikir ulang jika ingin melakukan tindakan yang sama,” ucapnya.


Kenard kembali menggenggam tangan Xavia, menariknya menaiki motor gede membonceng perempuan itu mengajak pulang.


Dalam perjalanan Xavia terdiam, Kenard teringat dengan sikap perempuan ini yang memeluknya dengan erat sambil mengatakan tidak. Ia menoleh dan bertanya.


“Sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu tadi, Xavia. Kau bahkan sampai berkeringat dingin tadi?” tanyanya lembut.


Xavia tidak menjawab, terus saja diam memeluk sambil memeluk dari belakang.


“Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?” tanya Kenard menunggu jawaban.


“Aku hanya ketakutan, karena jumlah mereka sangat banyak, sedangkan kita hanya berdua,” ucap Xavia.


Jawaban yang sama sekali tidak Kenard harapkan.


Sesampainya di rumah, Xavia melaporkan kejadian yang baru saja dialaminya pada sang papa.


Dominic marah besar mendengarnya. Richard telah mengusik putrinya. “Mereka harus membayar mahal atas perbuatannya hari ini! Dari sekian banyaknya laki-laki,. Kenapa Richard memilih perempuan untuk dibunuh. Apa se-pengecut itu dia,. Sehingga menjadikan wanita sebagai targetnya.”