
Xavia tiba-tiba menyadari bahwa jika kemunculan Kenard akan membawa dampak tidak bagus. Dia juga akan membuat kelompok musuh menemukan kebenarannya yang bisa mengancam nyawa.
Xavia tidak ingin sesuatu terjadi pada Kenard lagi. Dia berinisiatif untuk mengirim perlindungan pada lelaki itu. Dia berunding dengan sang papa tentang rencananya ini,
"Aku ingin mengirimkan beberapa orang kepercayaan kita untuk menjaga Kenard secara diam-diam. Setelah musuh-musuh mengetahui kalau dia masih hidup, pasti nyawanya jadi incaran. Apa lagi situasinya kondisi ingatan Kenard sedang tidak baik-baik saja."
Dominic manggut-manggut paham akan kekhawatiran sang anak. "Boleh juga usulmu, kita akan kirimkan beberapa orang untuk secara diam-diam menjaganya. Kasian dia, jika sewaktu waktu dalam kebingungan didatangi kelompok musuh, dia saat ini kehilangan jati dirinya."
Jika sebelumnya Kenard yang selalu melindungi Xavia. Kini justru sebaliknya, Xavia ingin membuat hidup pria itu aman.
"Lalu bagaimana cara kita menyusun rencana ini? Sedangkan kita saja tidak mengetahui keberadaannya. Lalu, akan kita kirim ke mana anak buah kita?" tanya Dominic sambil berpikir.
"Tenang saja, Papa. Beberapa hari aku sempat meminta nomor telepon darinya, berperan menjadi pelanggan setia ikan-ikannya. Jika aku menghubunginya sekarang pasti dia datang," ucap Xavia mengeluarkan ponselnya.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Telepon dia segera."
Jari-jari Xavia dengan lincah mencari nomor yang diberi oleh Kenard. Hingga beberapa menit dia menunggu tersambung, akhirnya diangkat juga oleh pengawal pribadinya itu.
Namun, Xavia tidak mendengar suara Kenard begitu jelas. Suaranya berbarengan dengan kencangnya angin yang menerpa di pinggir pantai.
"Menjauhlah dari sana, suaramu tidak terdengar bagus," ucap Xavia.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan mencari tempat yang tepat."
***
Kenard berada di pinggiran laut, memakai kaos singlet berwarna hitam di bagian bawah memakai celana jeans robek-robek bagian lutut. Matanya mengeriyip sebab silau terkena matahari.
Dia menjauh dari bibir pantai, mencari lokasi yang tepat untuk bicara di dalam telepon.
"Dengarkan ini, aku akan mengadakan acara makan bersama teman-temanku. Oleh sebab itu ingin memesan ikan darimu. Apa kau bisa menyediakan ikan-ikannya, lalu mengantar ke rumahku?" tanya Xavia dari sambungan telepon.
"Kau ingin memesan berapa kilogram, Nona?" Wajah Kenard sumringah saat mendapatkan orderan.
"Sekitar lima puluh kilo, dan kalau ada lebih, kau bisa sekalian membawanya padaku. Biar aku membelinya."
"Baik, Nona. Aku akan segera menyiapkan ikan-ikannya, memastikan kalau barang yang akan dikirim dalam keadaan segar," ucap Kenard menyanggupi.
Setidaknya setelah mendapatkan pesanan ikan lima puluh kilo dia tak perlu menjual ke pasar. Dia bahkan bisa membantu nelayan lain dengan menambahi jumlah ikannya yang kurang pas menjadi lima puluh kilogram.
Laki-laki yang dipanggil Ken di desa nelayan itu segera bergegas menyiapkan ikan, memilih yang paling segar.
Suasana hati Ken tiba-tiba menjadi bahagia tanpa alasan dengan rasa antusias dia memilih makanan laut untuk Xavia.
Celia berdiri di samping Kenard dengan wajah cemberut. Bukan membantu dia justru melipat kedua tangannya di depan dada. Padahal Kenard sedang kualahan hanya di bantu nelayan yang ikannya ikut dijual pada Xavia.
"Akan kau kirim ke mana ikan ini?" tanyanya.
"Kau tahu wanita yang tempo hari membeli semua ikan kita? Nah, hari ini dia kembali menghubungiku, dia ingin membeli ikan dalam jumlah lima puluh kilogram, Celia," ucap Ken merasa senang.
Mengangkut ikan dalam box putih itu ke atas motor. Tak lupa dia mengenakan helm sebagai pelindung keselamatan.
"Tunggu Ken!" Celia menghentikan Ken yang sudah menghidupkan mesin.
Ken dengan malas menghela napas panjang. "Ada apa lagi, Celia...."
Ken menggeleng tak menghiraukan keinginan Celia. Dia sudah bersikukuh kalau pergi tanpa perempuan itu.
"Jangan berulah, Celia, kau ingin membuat masalah di sana? Lebih baik tetap tinggal di rumah, aku akan segera kembali setelah sampai." Lalu Ken naik sepeda motornya menuju alamat yang diberikan Xavia sebelumnya.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan Kenard telah sampai. Memberhentikan motornya di depan rumah mewah yang bertuliskan alamat Xavia di plang depan.
Kenard melihat heran, bangunan mewah rumah besar berpagar hitam tinggi menjulang. Tampak seperti istana bak di negeri dongeng.
"Orang terkaya di kampung nelayan saja tidak punya rumah sebesar ini."
Kenard seperti seekor semut berdiri di halaman rumah ini. Dia juga merasa rendah diri dalam hatinya. Ragu-ragu ingin masuk ke dalam.
Sekarang pelayan perempuan melihat Kenard di depan pagar, dia langsung menghampirinya.
"Apa kau adalah orang yang diminta nona Xavia mengantar ikan?" tanyanya.
Kenard mengangguk. "Iya benar."
Pelayanan segera membukakan pagar mempersilahkan Kenard masuk ke dalam. "Tinggalkan saja barang bawaanmu di sini, biar pelayan yang mengurusnya. Kau masuklah ke ruang tamu, tunggu di sana, sebentar aku akan memanggil nona Xavia."
Kenard mengangguk kemudian masuk ke dalam ruang tamu. Dia duduk di sofa empuk berwarna maron.
Pandangan Kenard terus saja menyapu seisi ruangan. Dia benar-benar tidak mengira ada rumah semewah ini.
Xavia segera bergegas duduk di sofa sambil melihat Kenard yang masih terkagum-kagum dengan seisi rumah.
Xavia tersenyum bahagia.
Kenard tersenyum malu-malu duduk di sofa hadapan Xavia bersebrangan meja. Dia bersikap sangat sopan.
"Nona Xavia, rumahmu sangat mewah dan mobil yang kau tumpangi hari itu juga sangat mahal. Sebenarnya siapa kau sebenarnya, apakah salah satu orang penting di negeri ini?" tanya Kenard.
Xavia ragu,
tidak tahu apakah harus memberi tahu pria di hadapannya atau tidak.
"Nona Xavia, aku kemarin pergi ke kota ini, berhenti tepat di persimpangan jalan depan sana."
"Oh ya? Kalau kau lurus pasti akan sampai sini," ucap Xavia.
"Aku hanya mengikuti instingku saja, Nona. Tapi ... pada saat berjalan, tiba-tiba ada beberapa orang mengikuti ku, pada saat itu aku langsung memutuskan kembali ke desa. Karena merasa berada di kota ini tidak aman," jelas Kenard
Ceritanya membuat Xavia terkejut, menyadari bahwa Kenard tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu. Dan tak akan membiarkan Kenard hidup dalam ketidaktahuan.
"Sebenarnya begini, Kenard."
"Kenard?"
"Ya, namamu adalah Kenard. Dan kau adalah bagian dari anggota kami, Black Horses. Dua tahun lalu kau menjadi ketua pertarungan dengan kelompok musuh, tapi sangat disayangkan karena perbuatan licik Elliot kau harus kalah dan terjatuh ke sungai. Kami kehilanganmu dan berusaha mencari mu tapi hasilnya nihil," beber Xavia.
Kenard bengong tidak bisa berkata kata mendengar Xavia menceritakan segala yang terjadi padanya sebenarnya.
"Kau adalah pahlawan dalam kelompok black horses, banyak sekali memenangkan pertarungan hingga membuat musuh-musuh tunduk pada kita."