
~BAB 17~
“Kau itu ada-ada saja.”
Begitu mendengar keinginan Kenard, siapa saja bisa melihat kalau pipi Xavia merona sekarang.
Termasuk Kenard sendiri, tapi dia berusaha menundukkan wajah supaya pengawal itu tak tahu kalau dia sedang malu.
“Kenard, kau tau kalau aku tidak akan melakukan itu. Lebih baik menukar saja hadiah yang kau inginkan, mungkin aku bisa memberikannya untukmu. Jam tangan, pakaian, atau sepatu mungkin? Aku bisa membelinya walau harganya relatif mahal.” Bersusah payah Xavia menstabilkan detak jantungnya saat mengatakan demikian salivanya terdorong ke tenggorokan.
“Katakan saja, aku tidak akan keberatan.” Semakin gugup.
Tatapan Kenard terus saja mengunci mata Xavia, perempuan itu berusaha untuk tetap tenang. Menarik napas dalam kemudian menghembuskan perlahan.
Melihat kegugupan di wajah Xavia, Kenard menyeringai, tetap masih berdiri menunggu hadiah di kirim ke pipinya.
“Permintaan tidak bisa ditukar, Xavia. Kurasa tidak ada yang lebih pantas untuk dijadikan hadiah selain sebuah kecupan. Aku menginginkan hanya satu kali, janji setelahnya tidak akan mengulangi lagi. Ini hanya sebagai formalitas, kau mengapresiasi pekerjaanku itu saja.”
Dia bersikeras tidak ingin meminta hadiah yang lain. “Di sebelah sini, silakan, aku sudah siap!” dia memajukan wajah sambil menunjuk pipi lagi.
“Apa kau tidak berubah pikiran? Mungkin kau tertarik jika aku memberimu satu unit motor? Laki-laki biasanya suka itu, bukan? Bagaimana, apa tertarik? Atau mungkin mobil?”
Kenard teguh pada pendiriannya. Dia menggeleng sebagai jawaban. “Tidak Xavia.”
Ah, ternyata dia lebih memungkinkan sebuah kecupan dari pada barang-barang mahal yang ditawarkan Xavia.
Keringat membuat tangan Xavia terasa dingin, kedua tangannya mengepal karena bingung, ragu-ragu menggigit bibirnya, sambil berpikir untuk tidak membuat Kenard takut.
Beberapa detik telah berlalu begitu saja. Kenard menunggu dengan tidak sabar, tapi Xavia tidak bereaksi apa-apa membuatnya mulai kecewa mengernyitkan dahi.
Diamnya Xavia seolah telah menunjukkan penolakan. Dia sadar diri, seharusnya tidak minta lebih.
“Baiklah kalau tidak ingin menurutinya, aku tidak akan memaksa, tidak masalah,” ucapnya kehilangan semangat, dia berpikir lebih baik pergi dari hadapan perempuan itu, dari pada terus menunggu.
“Tunggu, Kenard!” cegah Xavia memegang lengannya.
Ukuran tubuhnya yang lebih pendek daripada Kenard, membuatnya berjinjit untuk menjangkau pipi lelaki itu.
Cup!
Sekilas tapi sangat terasa.
Kenard seketika membeku, seluruh tubuhnya terasa kaku tak mampu bergerak, dia tak percaya ini! Tatapannya terpaku kehabisan kata-kata. Satu kecupan dari bibir Xavia mampu menghipnotis dirinya bergeming.
Netra yang sebelumnya redup seketika bersinar, mendesak bibirnya naik hingga membentuk lengkungan senyum tipis.
Rasanya dia akan mengawetkan bekas kecupan Xavia, tidak mencucinya selama berhari-hari, sebab tidak ingin kehilangan aroma yang tertinggal begitu saja.
“Kau mau menurutiku, Xavia?” Dia masih tidak percaya.
Walau rasanya sekarang Kenard ingin terbang ke langit tujuh karena sebegitu behagianya, meskipun begitu, dia mencoba menahan diri.
Jantungnya berdebar kencang bahkan Xavia mungkin bisa mendengarnya kini.
“Terima kasih, Xavia, hadiah ini adalah hadiah yang paling berkesan yang kudapatkan seumur hidupku!” senangnya berbinar-binar.
“Kalau kau tidak menang tadi, aku tidak akan memberikan hadiah seperti tadi.”
Jangkung Kenard turun ke tenggorokan, dia mencoba untuk tampak tenang di hadapan Xavia. Tapi saat dia hendak berbicara,
Kegembiraannya tak dapat disembunyikan kala kata-katanya menggantung tatapan perempuan itu mendominasi dirinya.
Xavia bisa melihat jelas, ekspresi bahagia pada wajah Kenard. Bahkan sebahagia lelaki itu, rasanya tidak bisa dideskripsikan lagi. Isi hatinya tengah berbunga-bunga.
Xavia menyadari bahwa sepanjang hidupnya, Kenard masih menyukainya seperti di kehidupan sebelumnya. Sama sekali tidak berubah.
Tanpa Xavia sadari, rasa puas memenuhi hatinya tak terbendung. Dia membatin, mungkin kah dirinya juga memiliki perasaan selain sebagai saudara pada lelaki ini?
Berdiri di dekat kolam renang, wajah keduanya terpapar kilauan cahaya dari air. Satu sama lain tersipu malu bermonolog dalam hati masing-masing, saling memalingkan mata, tidak berani saling menatap
.
Xavia merasa aneh, bahwa dia yang telah menikah ternyata bisa merasa berdebar-debar seperti gadis kecil yang baru merasakan jatuh cinta pertama kali. Sekuat diri dia menahan debaran ini, memejamkan mata beberapa saat kemudian membuka, saat dia benar-benar berani menatap mata Kenard Toretto.
Dengan sopan dia berkata, “Sudah pukul dua pagi, sebaiknya kau pergi istirahat. Karena besok masih ada banyak pekerjaan menunggumu.” Setelah berkata demikian Xavia segera bergegas masuk ke dalam memanggil pelayan perempuan yang sejak tadi menunggunya dari kejauhan.
Dari posisinya berdiri, Kanard menatap punggung Xavia yang semakin menjauh, sambil tersenyum dia menyentuh pipi.
Rasa hangat dan lembut yang ditinggalkan Xavia masih terasa jelas.
Pipi Kenard memerah saat mengingat momen ketika Xavia bersusah payah berjinjit, lalu dengan mata terbuka bertemu dengan matanya, dia menciumnya lembut, bahkan aroma kulitnya masih menempel di pipi.
Kenard mengerjap pelan, dia baru menyadari bahwa Xavia telah menghilang dari hadapannya.
Rasa menyesal baru muncul. Dia seharusnya mengejarnya, menggenggam tangan lalu menahannya, dia bisa memanfaatkan kesempatan yang ada.
Tapi, mengapa dia bertingkah seperti orang bodoh yang hanya berdiri saja di sana?
“Dasar bodoh!” umpatnya menyalahkan dirinya sendiri. Satu tangan di pinggang, sedangkan satu lagi memegang tiang penyangga lampu taman yang menyala temaram.
“Seharusnya aku mencegahnya pergi, memintanya untuk bersamaku di sini. Suasana sedang bagus kami bisa menikmati malam sambil melihat bintang-bintang.” Kenard mendongak ke atas melihat langit malam yang cerah tanpa mendung
“Seharusnya aku mengajaknya duduk berdua di sini, tidak sendirian seperti sekarang. Menyebalkan!” desisnya kesal. Ada banyak kata ‘seharusnya’ tapi disayangkan semua sudah terlambat.
Dia memiliki perasaan lebih pada perempuan itu, kemudian apakah Xavia juga memiliki sedikit rasa dengannya?
“Kurasa tidak mungkin.” Kenard menggeleng menepis dugaannya sendiri.
Tapi jika tidak memiliki perasaan padanya, kenapa tidak menolaknya tadi?
Saat memikirkan hal ini, senyum kembali menghiasi bibir kecoklatan Kenard. Sambil terus menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak mengejar Xavia.
Sepuluh menit berlalu, Xavia sudah sampai di kamarnya, melepaskan ankle boots berwarna coklat muda, meletakkan di rak lemari sebelah pintunya.
Melihat kasur luas beralaskan seprei berwarna ungu seolah-olah melambai-lambai memanggilnya. Dia yang merasakan lelah langsung menjatuhkan dirinya hingga memantulkan tubuhnya yang ramping.
Posisi telungkup, dengan kedua tangan memeluk bantal sebagai menopang wajahnya, dia senyum-senyum sendiri. Bahkan mengabaikan ketukan pintu kamarnya yang diketuk oleh seorang pelayan.
Dalam pikiran dan ingatan sepenuhnya dia sedang mengingat Kenard.
Membayangkan detik-detik setiap momen yang dihabiskan bersama lelaki itu, yang berhasil mengacak-acak perasaannya menjadi campur aduk.
“Bisa-bisanya tanpa keberatan menuruti keinginannya?” Xavia menenggelamkan wajahnya sendiri ke bantal. Malu dengan dirinya sendiri.
Tatapan Kenard mampu menghipnotis, sehingga dia menurut begitu saja. Perasaannya terhadapnya lambat laun mulai berubah.