
Dua tahun kemudian.
Sesuai dugaan, kelompok Blue Sky yang pernah menghancurkan keluarga Xavia, dalam kehidupan sebelumnya memang memiliki kekuatan yang kuat.
Meskipun telah terjadi peperangan antara mereka dan Black Horses berlangsung lama, sampai detik ini belum jelas siapa pemenangnya. Mereka sama-sama kuat, hingga sulit saling mengalahkan.
Meski pun sudah dua tahun lamannya, Dominic masih merasa sangat sedih setelah kematian Elliot. Sebab semenjak hilangnya Kenard, dia kini tidak memiliki anggota terdekat yang bisa dia percaya. Hanya Xavia lah orang satu-satunya yang berhak secara bertahap diberikan kekuasaan Dominic.
Dia kini memberikan hak sepenuhnya Black Horses dan segala bisnis yang dia pegang pada Xavia. Kepercayaan sepenuhnya dia tujukan pada putri satu-satunya tersebut.
“Apa tidak terlalu cepat, jika kau memberikan kekuasaanmu padaku, Papa?” tanya Xavia.
Dominic menggeleng. “Tenang saja, Xavia, meski pun papa memberikan tanggung jawab penuh black horses padamu, papa tidak serta merta berpangku tangan membiarkan kau menghadapi segala sesuatu sendirian. Papa akan terus ada di belakangmu untuk menemani,” ucapnya.
Xavia mengangguk tidak keberatan atas keputusan yang telah diambil sang papa. Semakin lama, dengan berjalannya waktu, dia telah tumbuh menjadi pewaris yang kompeten dan mampu mengambil alih tanggung jawab keluarga yang sebelumnya di pegang oleh Dominic.
Dia berhasil menunjukan pada sang ayah dan anggota lainnya, kalau pemimpin tidak harus laki-laki. Meski pun wanita dia mempunyai kekuatan stara seperti seorang laki-laki. Xavia menjadi sesosok dingin tak tersentuh. Semenjak kehilangan Kenard dia menutup dirinya, apa lagi soal cinta.
Duduk di ruangannya, Xavia bersandar sambil melihat pemandangan dari jendela. Sore hari angin bertiup kencang hingga menerbangkan gorden putih yang menutupi jendela.
Dalam kesunyian ruangan itu, tiba-tiba Xavia dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Ternyata itu Billy datang untuk memberi informasi padannya.
“Katakan, apa yang terjadi di kota Curosa?” tanya Xavia duduk tenang masih bersandar pada kursi.
“Nona, sampai sekarang kelompok Blue Sky belum mau menyerah, situasinya semakin sulit bagi kelompok Black Horses. Mereka memiliki kekuatan yang tidak biasa, mereka mendapat bantuan untuk melawan kita.”
“Katakan pada anak buah kita, untuk tidak gegabah mengambil langkah, sebab mereka sangat licik tidak akan menggunakan cara yang masuk di akal untuk mendapat kemenangan mereka.”
Xavia paham sekarang, hari ini seperti di kehidupan sebelumnya, kelompok Blue Sky telah bersekutu dengan kelompok Richard. Diam-diam kelompok Richard terus memberikan dana kepada kelompok mereka hingga menjadi kuat.
Melihat bahwa kelompok Richard tidak belajar dari kegagalan sebelumnya dan masih mencoba mengancam, Xavia menggunakan informasi dari kehidupan sebelumnya untuk melawan perusahaan yang dipimpin Richard.
Xavia bergerak cepat, sehingga membuat Richard merasa terancam, mengadakan pertemuan dengan beberapa anak buahnya untuk melakukan rapat.
“Black Horses terangan-terangan membuat perusahaan kita goyah, Tuan. Mereka berhasil mengakuisi beberapa wilayah pemasaran,” ucap sekertaris Richard.
Richard duduk tenang di kursinya dengan kedua tangan saling bertaut menopang dagunya, sedang berpikir. Mendengar kabar tentang Xavia selama ini membuatnya semakin penasaran dengan sesosok wanita ini. Dia menghela napas panjang kemudian memutuskan.
“Datanglah ke tempatnya. Katakan pada mereka, kalau aku ingin bertemu dengannya membicarakan sesuatu,” ucap Richard.
“Baik Tuan, saya akan segera ke sana.”
Tak lama berselang anak buah Richard telah sampai di hadapan Xavia, memberi informasi yang diperintahkan oleh Richard. Xavia menyeringai dengan senang hati.
“Baiklah, aku terima tawarannya. Aku akan menemuinya besok, kuharap dia tidak menghindar dariku,” ucap Xavia.
***
“Ini minumlah.” Perempuan bernama Celia gadis yang tinggal di desa Tarune ini sejak lahir itu. membawa segelas ramuan yang baru saja dia bawa dari rumah bibinya. Dia memberikannya pada laki-laki yang sejak dua tahun ini dia rawat.
“Ramuan lagi?” tanya pria yang sampai sekarang tidak mengingat indentitasnya tersebut.
Celia dan orang-orang sekeliling menamai pria ini dengan nama Kenzie, atau sering dipanggil Ken oleh orang-orang yang mengenalnya.
“Kau harus tetap meminum ramuan-ramuan ini, Ken, supaya semakin sehat dan kuat bekerja membantuku setiap hari,” ucap Celia.
“Kau tidak pernah bosan membuat minuman macam ini setiap hari?” tanya Kenzie.
Celia menggeleng sambil tersenyum. Dia tahu kalau pria di hadapannya ini sudah bosan mengonsumsi minuman yang sama setiap hari.
Hal itu sangat wajar, sebab semenjak ditemukannya dua tahun yang lalu dalam keadaan hilang ingatan, Ken terus saja mengonsumsi ramuan yang diracik oleh bibik Celia sendiri.
Celia lah orang yang berperan dalam kesehatan Ken hingga sampai saat ini. Semenjak ditemukan di pinggir sungai di ujung desa nelayan ini, dia yang merawat dengan penuh kasih sayang hingga sekarang sembuh.
Hidup bersama pria yang dia rawat dalam satu atap membuat Celia jatuh cinta padanya. Perasaan tumbuh seiring berjalannya waktu sampai detik ini dia tak bisa jauh dari lelaki yang dia namai Ken ini.
Tanpa sadar, sejak tadi Ken terus memperhatikan Celia. Membuatnya salah tingkah memalingkan muka.
“Celia, aku sangat terharu oleh perhatian yang kau berikan selama ini. Kau mau menolongku walau sama sekali tidak mengenalku siapa. Dari kondisiku yang lemah tak bisa apa-apa sampai sekarang sehat seperti sedia kala. Kau sangat tulus, Celia, sampai aku tidak tahu lagi mengucapkan terima kasih dengan cara apa,” ucap Kenzie.
Kedua tangannya menggenggam telapak tangan Celia. Membuat jantung Celia semakin berdebar-debar tak menentu.
“Kurasa bukan aku saja yang akan menjadi penolongmu, jika melihat kondisimu seperti dulu tergelak di pinggir sungai, maka semua orang juga akan membantumu. Jadi, tidak perlu merasa berlebihan seperti itu, aku tidak begitu suka mendengarnya,” ucap Celia.
“Semua orang mungkin akan merawat ku, tapi hanya kaulah yang memiliki perasaan cinta padaku.”
Seketika pipi Celia memerah. Dia merasa senang sebab Kenzie merasakan apa yang dia simpan selama ini.
“Tatap mataku, Celia. Ini serius,” ucap Kenzie.
Celia menuruti permintaannya. Perlahan-lahan menaikkan pandangan untuk menatap mata tajam Ken.
“Celia, melihat bagaimana perjuanganmu selama ini untuk menemaniku sampai sembuh. Aku sangat terenyuh, sudah dua tahun kita bersama bagaimana, kalau kita menikah saja?” tanya Ken membuat kedua mata Celia melebar seketika.
Celia mengangguk menyetujui.
Namun, ada yang tidak beres setelah Ken mengatakan soal pernikahan.
Tanpa sadar, ada perlawanan dalam dirinya yang tidak dia mengerti.
Dia sering kali merasakan cuplikan kilas balik ingatannya yang membuatnya merasa sangat bingung dan pusing.