
Rasanya Xavia tidak punya tenaga untuk beranjak dari tempat tidurnya. Seluruh pikiran dan tenaganya cukup terkuras tak tersisa.
Tak hanya itu saja, suasana hatinya juga semakin memburuk. Berkali-kali dia berbaring bangun hingga berulang. Semenjak hilangnya Kenard, benar-benar membuat semangat hidupnya hilang. Dia tak berniat melakukan apa pun kecuali di atas tempat tidur.
Tidak lama setelah ayahnya pergi, dia terlelap dalam tidurnya hanyut ke dalam alam bawah sadar.
“Xavia, papa lupa mengingatkanmu, kalau obat di sebelah-“ Kata-kata Dominic menggantung saat sampai di depan pintu melihat Xavia sudah tidur.
Melihat Xavia tidur dengan wajah berkerut, melalui pintu kamar ia tak sampai hati untuk membangunkan putrinya itu. Xavia tidur dengan tenang, bernapas teratur, meskipun begitu semburat lelah tercetak di wajahnya, Dominic mendekat. Ingin mengusap pucuk kepala putrinya, tapi niat dia urungkan. Dia memilih melihat kondisi putrinya dari kejauhan supaya tak mengganggunya.
Menaikkan berselimut sampai ke dada dia tersenyum. “Papa akan berusaha melakukan apa pun, demi kebahagiaanmu, Xavia. Karena kau adalah orang yang ku sayangi satu-satunya. Jika melihat Kenrd kembali adalah kebahagiaanmu yang utama, maka papa akan berusaha keras untuk menemukannya.”
Dia merasa prihatin dengan keadaan putrinya. Titik kesedihan seorang orang tua adalah melihat anak-anaknya sedang bersedih. Dominic rasanya ingin segera mengakhiri penderitaan sang putri yang taka da habisnya ini.
Kedua tangan Dominic mengepal kuat. Matanya menyipit memancarkan kilat api amarah. Dia bergegas keluar menemui Shane dan para anak buah lainnya. Situasi di dalam markas sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Mereka semua tertunduk merasa malu, sebab sampai saat ini belum menemukan keberadaan Kenard.
“Apakah mungkin, sebelum kita menemukan Kenard, para anggota musuh berhasil membawanya, lalu menyembunyikan di suatu tempat yang sama sekali tidak kita ketahui?” terka Shane.
“Menghilangnya Kenard begitu cepat, bahkan kami sudah menyusuri sepanjang aliran Sungai, tapi hasilnya nihil. Tidak menemukan petunjuk apa pun tentang dia,” imbuh Diego yang ikut andil melakukan pertarungan bersama Kenard.
Dominic manggut-manggut sambil berpikir, bagaimana cara menemukan Kenard. “Bagaimana pun caranya, Kenard harus segera ditemukan. Entah dalam keadaan mati atau hidup, kalian harus bekerja lebih keras lagi untuk mencarinya. Tingkatkan kerja sama, kompak supaya Kenard bisa segera kembali!” perintahnya.
“Baik Tuan, kami akan pergi ke sana lagi untuk mencarinya. Meski pun harapan sangat kecil, tapi kami akan berusaha lebih keras,” ucap Diego.
“Paman, kau duduklah dengan tenang, kami akan mengurus Kenard. Kau jangan khawatirkan apa pun demi kesehatanmu,” ucap Elliot menenangkan.
Mereka mengakhiri pembicaraan dengan keluarnya satu persatu anak buah Dominic. Para anggota Black Horses itu mengendarai motor gede hingga suaranya menderu meninggalkan markas untuk mencari keberadaan Kenard.
***
Setelah pertempuran ini, kekuatan geng Black Horses diakui memang semakin bertambah kuat. Bahkan menjadikannya salah satu geng terbesar dan terkuat di kota Veron.
Meski pun begitu, kini apa yang kelompok mereka dapatkan tidak membuat kepuasaan dalam diri Xavia. Gadis itu masih saja dirundung rasa khawatir, sebab orang yang selama ini membantunya dan dia anggap kuat telah menghilang.
Dominic sang ketua tentu saja tidak ingin jika putrinya berlarut-larut dalam kubangan kekhatiran ini. Dia bertujuan mengembalikan semangat putrinya. Walau bagaimana pun carannya, Black Horses harus kuat seutuhnya. Dia menemui Xavia bicara cukup serius di dalam kamar.
“Apakah kau akan seperti ini sepanjang hari, Xavia?” tanyanya melihat iba Xavia yang duduk bengong tak memiliki lagi selera melakukan apa pun. “Bersedih boleh, tapi jangan sampai berlarut-larut, Xavia. Apa kau ingin Eagle Eyes tertwa terbahak-bahak melihatmu seperti sekarang? Tidak Xavia, kau harus bangkit, dendammu belum terselesaikan, jangan menyerah hanya karena hal seperti ini!” ucap Dominic.
“Tapi sampai saat ini Kenard belum kembali, Papa, bagaimana aku bisa melanjutkan misi balas dendamku tanpa adanya dia?”
“Kau sudah cukup Tangguh untuk melawan mereka sendiri, Xavia, sudah saat kau maju.”
Dominic mengangguk. “Iya. Kau adalah Perempuan yang hebat, bisa memimpin para anak buah Black Horses.”
Walaupun hati Xavia Linn penuh kekhawatiran mengenai keberadaan Kenard, dia sadar bahwa pertempuran ini lebih penting. Tak selamanya dia harus berlarut-larut dalam rasa kehilangan.
Xavia menuruti perintah sang papa. Sehingga dia merencanakan serangan kecil sebagai langkah awal, membuktikan kemampuannya kepada anggota geng yang sebelumnya telah mengalami beberapa pertengkaran bersamanya.
Semua anggota Black Horses serentak percaya bahwa Xavia bisa memimpin dan menguatkan geng mereka. “Kami akan selalu bersama Anda, Nona Xavia, mendukung setiap strategi yang kau susun,” ucap Shane mewakili para anggota yang lain.
***
Sampai saat ini Xavia meragukan alasan hilangnya Kenard. Dia tak percaya jika Kenard mengilang karena terjatuh hingga hanyut di Sungai atau masuk ke jurang.
Xavia memanggil anggota geng yang berkerjasama dengan Kenard untuk menanyakan mengenai ejadian hari itu, sebab ada yang janggal. Dia bergegas menemui Billy yang akhir-akhir ini tak muncul di hadapannya.
Billy dan beberapa orang lainya berdiri dengan wajah ketakutan karena kemarahan Xavia yang mentapnya sengit.
“Kalian masih tidak ingin mengaku apa sebenarnya terjadi pada Kenard? Apa kau pikir, aku akan membiarkanmu diam seperti ini saja terus menerus?” Xavia dengan tatapan sadis mengeluarkan pisau menodongkan ke tenggorokan Billy.
Lutut Billy gemetar, memaksa menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongan yang mengering. Bersusah payah dia bicara di hadapan putri sang ketua ini.
“Katakan, atau pisau ini akan menembus urat lehermu?!” ancam Xavia.
“Baik, Nona, sa-saya akan akan menceritakan yang sebenarnya terjadi. Ta-tapi, sebelumnya saya minta jauhkan pisau Anda lebih dulu, karena bisa melukai leher saya saat bicara,” pinta Billy.
Xavia dengan cepat menurunkan pisau dari hadapan pria itu, tapi matanya masih mengancam.
“Jadi seperti ini cerita yang sebenarnya—”
(flashback)
Setelah pertarungan cukup sengit antara Black Horses dan geng Red Scorpion, Kenard berhasil membuat mereka terkepung, hingga dekat dengan kekalahan mereka.
“Sebaiknya apa yang kita lakaukan pada geng mereka? Membuat mereka benar-benar takluk di dalam kendali kita?” tanya Billy.
Kenard terdiam memikirkan siasat sedang menyusun rencana untuk menyergap musuh. Mereka sudah terkepung, senjata yang dipegang pun sudah habis. “Kita maju dari setiap sudut, jangan biarkan mereka berpencar!” titah Kenard.
Mereka semua siap maju untuk menyergap musuh, tapi tanpa diduga, seseorang datang menyerang secara tiba-tiba di luar dugaan. Kedatangannya mengacau rencana penyergapan yang akan dilakukan Kenard, menembakkan senjatannya secara membabi buta ke arah sang pemimpin pertarungan itu hingga dia sibuk menghindar sambil membalas serangan.
Suara tembakan kembali bersautan, padahal sebelumnya sudah mereda sebab musuh sudah kehabisan amunisi.