
Di bawah kegelapan malam, Kenard berdiri di taman belakang. Menghela kemudian mengembuskan napas panjang napasnya keluar seiring dengan asap rokok yang membumbung di hadapannya.
Dia baru saja menyelesaikan pertarungan dengan kelompok Tiger, seharusnya bisa beristirahat dengan tenang setelah bekerja cukup keras.
Namun, setelah mengucapkan kata-kata tegas kepada Celia pada
malam itu. Ia selalu merasa khawatir di dalam hatinya. Dia selalu merasa
bahwa Celia, perempuan penyelamatnya itu akan menciptakan masalah.
Seandainya Kenard sedang berhadapan dengan seorang laki-laki, dan tak memiliki keterikatan budi dalam dirinya, mungkin dia sudah memperingatkan Celia keras, untuk terus tidak mengusik kehidupannya. Apa lagi dengan embel-embel membalas budi dan tanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan malam itu dalam kamar.
Waktu berganti siang.
Karena kesulitan tidur semalam, Kenard kini hingga pukul sebelas siang, dalam posisi telungkup kepala mereng ke samping, terlelap tidur.
Tok! Tok! Tok!
Hingga suara ketukan pintu mengagetkannya. Memaksa matanya yang masih terpejam untuk terbuka.
"Masuk!" perintahnya. Dia segera bangun duduk di tepi ranjang sambil memakai kaosnya.
"Bos, Anda harus turun, di depan ada beberapa orang ini bertemu denganmu," ucap Alex.
"Siapa? Aku tak memiliki janji dengan siapa pun."
"Aku juga tidak mengenal mereka, tapi yang pasti mereka datang bersama Celia."
Setelah mendengar nama Celia, Kenard langsung menghela napas berat. "Ingin berbuat ulah apa lagi dia?"
Sesuai dugaan Kenard, pasti Celia tak akan diam setelah mendapatkan teguran darinya. Untuk kali ini entah apa yang ingin dia lakukan.
Kenard segera keluar melihat orang-orang yang datang bersama Celia. Ternyata perempuan itu datang dengan kepala desa dan sekelompok orang berpengaruh di desa mereka.
Kenard tentu saja mengenal mereka, sewaktu ia tinggal di desa nelayan. Mereka adalah jajaran orang yang disegani.
"Tuan Robert, dan kalian semua, apa yang kalian perlukan hingga datang kemari?" tanya Kenard. Menaikkan sebelah alisnya, kemudian tatapannya beralih pada Celia yang berdiri di antara mereka.
Celia mengajak mereka masuk ke rumah tanpa menunggu dipersilahkan oleh Kenard, pemilik rumah. Bahkan perempuan itu meminta para pelayan untuk menyiapkan minuman dan makan ringan bak seorang tamu spesial.
"Silahkan diminum, silahkan dimakan, jangan sungkan-sungkan," ucap Celia.
Para pelayan meletakkan minuman di hadapan para tamu masing-masing.
Kenard menggelengkan kepala melihat pemandangan ini. Dia mendekati Celia yang sedang sibuk mengatur pelayan.
"Kedatangan mereka kemari, ini pasti rencanamu, bukan, Celia?" Kenard mengerutkan dahi bingung.
Sedangkan Celia hanya terdiam, bersikap seolah-olah perempuan paling polos yang tak mengerti apapun.
"Kami datang jauh kemari karena ingin membicarakan tentang pernikahanmu dengan Celia, duduklah, Kenard, supaya enak kita mengobrol," ucap tuan Robert. Setelah menyesap kopi yang disuguhkan.
Seketika Kenard melebarkan mata. Melirik Celia seketika. Ternyata perempuan ini semakin bertindak jauh.
Ia menarik lengan Celia, membawanya sedikit menjauh dari posisi kepala desa.
Celia meringis kesakitan sebab Kenard mencengkram lengannya terlalu kasar. Dia lekas menjauhkan tangan Kenard.
"Kau bisa pelan tidak? Lenganku sakit." Kesalnya sambil mengusap usap bagian lengan yang panas.
"Apa yang sebenarnya
terjadi? Kenapa kau membawa mereka ke sini?!" tanya Kenard kesal.
Celia tersenyum dan berkata, "Kalau kau tidak ingin
"Kau gila!" tujuk Kenard ke muka Celia.
"Kalau kau bersikap baik padaku, sebelumnya. Sekarang pasti tidak seperti ini," balas Celia.
"Karena kau yang menginginkan keributan!"
Teriakan Kenard terdengar oleh kepala desa, hingga menarik perhatiannya dan orang-orangnya. Mereka datang mendekati Celia, dengan tatapan melindungi.
"Kenard, hal ini sudah tidak bisa ditutupi lagi, semua orang sudah melihat bahwa kau dan Celia
sudah lama seharusnya menikah," ucap Tuan Robert menengahi.
"Kepala desa benar, Ken, kau dan Celia sudah dua tahun belakangan ini hidup bersama. Kalian adalah pasangan yang cocok, apa lagi yang harus ditunggu selain segera meresmikan hubungan kalian?" timpal pria satu lagi yang merupakan bawahan kelapa desa.
Kenard menatap Celia marah, ia ingin mengatakan pada mereka semua kalau dia tak ingin menikah dengan Celia.
"Apa lagi Celia saat ini sedang hamil," ucap kepala desa.
Baru saja Kenard akan membuka mulutnya akan bersuara, seketika dia terdiam. Pupil nya membesar kala mengetahui ucapan kepala desa.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanyanya mengerkap.
Kepala desa menggeleng di samping Celia yang tersenyum.
Kenard sangat terkejut dan memandang perut Celia, dengan
mata terbelalak. Bahkan tak nampak sedikit pun kalau saat ini dia sedang hamil.
Dalam kebingungan, tiba-tiba Celia bersandar di bahunya dengan malu-malu. "Aku sengaja tidak memberitahumu mengenai kehamilanku ini, Kenard, karena aku ingin memberikan surprise, kau pasti senang, kan, tahu kalau aku hamil sekarang?"
Kenard mengerutkan dahi, menarik Celia dari bahunya. Dia menatap lekat-lekat tak percaya.
"Omong kosong. Sejak kapan kau mengandung?!" tanyanya.
"Aku bersumpah, kalau saat ini benar-benar hamil, Kenard! Kau ingat, kita sudah menghabiskan malam yang begitu indah, bukan? Dan sekarang ini hasilnya, aku mengandung anakmu, darah daging kita." Celia mengusap usap perutnya senang.
"Bahkan usianya sekarang memasuki satu bulan," imbuhnya, seolah ingin membuat Kenard percaya.
Namun, lelaki itu tampaknya tak sama sekali merespon kehamilannya. Kenard tak senang dengan berita ini dan sulit mempercayainya.
"Kau tidak bisa lari dari tanggungjawab begitu saja, Ken. Bukti sangat jelas kalau Celia benar-benar mengandung anakmu. Kau tidak sedang mencoba tidak mengakuinya, bukan?" tanya Tuan Robert.
Kenard menggeleng, masih sulit mempercayai kebenarannya. "Ya, aku tak percaya, sebelum ada bukti-buktinya, kalau dia memang mengandung anakku."
"Celia, berikan bukti-bukti yang kau bawa dari rumah sakit. Buktikan kalau kau tidak bohong sekarang," ucap Robert berdiri seiring dengan kedua tangan bertaut di belakang terlihat berwibawa.
"Ucapanmu sudah sangat menghinaku, Ken. Tapi ... tak apalah, yang pasti kau adalah satu-satunya laki-laki yang tidur denganku, dan anak ini adalah anakmu!" jelas Celia langsung membuka tasnya.
Celia mengeluarkan kertas dalam tas yang menggantung di pundak kirinya. Dia memberikan ke telapak tangan Kenard.
"Baca baik-baik, di situ ada keterangan dokter dari rumah sakit dan jadwal kontrol untuk bulan depan, kau bisa bacanya sendiri dan menilai apa aku sedang berbohong padamu atau tidak?"
Kenard terdiam masih sulit baginya
untuk mempercayai. Tapi kini dia sedang memegang bukti.
Dia merasa frustasi,
dia tidak ingin menikah dengan Celia, tapi sekarang dia tidak punya
pilihan lain, dia harus bertanggung jawab atas anak yang ada di perutnya.
"Apa kau masih mau menyangkal, kalau ucapanku adalah bohong?" tanya Celia menantang.