Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Sekedar Anak Buah


Setelah cukup lama Xavia menenangkan diri, akhirnya kini ia bisa berpikir jernih untuk mengambil keputusan.


Ia pun tak lagi membentengi diri, untuk tidak bertemu dengan Kenard. Setelah tenang, ia pun ingin menjalani hidup dengan normal.


Bertemu pada Kenard di markas pun bersikap seolah olah tidak pernah terjadi masalah di antara mereka.


Kenard merasa heran, menghampiri ketua Black Horses itu. Perempuan itu berdiri di samping meja sambil tersenyum padanya sesekali saat menoleh.


"Xavia, kau butuh bantuan?" tanya Kenard.


"Ah, iya, bawakan kertas-kertas ini, kirimkan ke Jhon."


"Baiklah, aku akan membereskannya lebih dulu," ucap Kenard menumpuk satu persatu lembaran kertas menjadi satu.


Ragu-ragu Kenard melirik pada Xavia yang sudah tidak lagi ada kemarahan di matanya.


"Kenapa?" tanya Xavia menaikkan kedua alisnya.


"Hem ... Xavia, apa kau sudah tidak marah padaku, perihal hari pertunanganku dengan Celia? Bukan begitu, tapi sikapmu sudah berbeda dibanding dengan tadi. waktu yang lalu, bahkan kau melihat wajahku saja tidak mau?"


Xavia tersenyum menatap mata Kenard penuh isyarat.


"Kenard, mau kalian bertunangan atau tidak, sudah tidak berhubungan lagi denganku. Memang hubungan kita bukan apa-apa. Kau berhak bertunangan dengan siapa pun yang kau inginkan. Bebas. Hubungan mu denganku hanya sebatas atasan dan anak buah, kau hanya perlu cukup fokus dalam bekerja dan


kita tidak boleh ada hubungan lain lagi."


Kenard berdiri mematung di hadapan Xavia. Dia tahu posisinya hanya sebagai anak buah di sini.


"Dan satu lagi, Kenard. Mulai besok atau seterusnya kita berdua, jika tidak ada hal penting juga tidak perlu


bertemu lagi. Kau tau kan, kalau ini demi kebaikan kita semua? Terutama hubunganmu dengan Celia." Xavia memajukan satu tangan yang menengadah, mempersilahkan Kenard untuk pergi dari ruangannya, mengantar kertas-kertas itu.


Sambil menyusun kertas, Kenard menahan sakit hati seolah-olah ditikam oleh seseorang. Tetapi mau bagaimana lagi? dia tidak


bisa membantah, bagaimanapun statusnya sudah berubah pada kemarin. Kini dia tak bisa lagi sedekat dulu sebab sudah bertunangan dengan Celia.


Kenard tak menjawab, seolah-olah dengan tidak menjawab kata-kata itu justru dia dianggap tidak


mendengarkan kata-kata yang menyakitkan itu dari bibir Xavia.


Xavia mengepalkan kedua tangan di tanpa Kenard tahu. Dia mulai marah melihat


lelaki itu yang acuh tak acuh padanya.


"Cepatlah keluar, Jhon sudah menunggu, dia akan melakukan pekerjaannya. Dan aku peringatkan, kalau mau masuk ke mari jangan lupa mengetuk pintu lebih dulu. Kau tau siapa aku, bukan?"


Kenard mengangguk paham. Dia terlihat tidak suka dengan ucapan Xavia.


"Jangan lupa, jadi aku tidak perlu berkali kali mengingatkan padamu, tentang hubungan kita, kau adalah bawahanku. Mengerti?" tanya Xavia sambil menyeringai.


Kenard ingin berkata-kata tapi berhenti melihat ekspresi Xavia yang sangat tidak bersahabat. Sambil membawa tumpukan kertas di kedua tangannya, dia hanya bisa keluar dengan hormat tanpa lagi menoleh.


"Jangan lupa menutup pintu setelah kau keluar."


Kedua tangan Xavia semakin mengepal kuat. Terlebih lagi, setelah melihat


sikap Kenard seperti ini. Justru kian memancing amarah pada diri Xavia.


Seharusnya Kenard mengucapkan sesuatu untuk meluruskan kesalahannya. Bukan justru diam saja seperti tadi.


"Arghh!!"


Xavia tak bisa lagi membendung kekesalannya, dia melemparkan gelas berisi air ke dinding. Hingga suaranya menggema memenuhi ruangan.


Melihat pecahan kaca yang berkeping-keping, mungkin benda itulah yang menggambarkan perasaan Xavia saat ini.


***


Dari sejak dua jam yang lalu, Celia mondar mandir di dalam rumah. Sesekali ia menghentakkan satu kakinya untuk meluapkan rasa kesalnya, sebab Kenard meninggalkannya dan sampai sekarang belum kembali.


Wajahnya memerah, perasaannya menggebu-gebu sebab Kenard yang tidak kunjung pulang.


"Kau ini ke mana, Ken? Apa kau berniat, akan meninggalkanku begitu saja?!" gerutunya.


Duduk di sofa yang menghadap pintu. Jika mendengar suara kendaraan yang digunakan Kenard. Celia berencana akan langsung keluar memarahi Kenard karena sikapnya sudah keterlaluan.


"Sedang apa kau di sini, Celia? Apa tidak sehat kau makan lebih dulu?" tanya kepala desa. Melihat kasihan pada Celia.


"Kau saja lebih dulu. Lagi pula, setelah ini bukankah kalian ingin segera pulang?" tanya Celia sambil sibuk mencoba menelepon Kenard.


"Baiklah. Kami juga akan segera bersiap-siap." Kepala desa tersenyum kemudian meninggalkan Celia.


Karena tak mendapatkan balasan apapun saat mencoba menelpon Kenard, Celia memutuskan untuk menghubungi Richard.


Tak lama berselang telepon tersambung pada Richard.


"Ke mana saja kau sebenarnya, sudah sejak tadi aku menelepon mu, Richard! Kau tau, Kenard pergi begitu saja, tanpa memberi kabar, dan tak mengatakan apa pun," omelnya.


Richard yang diseberang sana langsung menjauhkan handphone dari telinga beberapa saat, ketika mendengar suara omelan Celia.


"Richard, aku sangat kecewa padamu, kenapa sampai sekarang kau belum beraksi pada Xavia?" tanyanya.


"Dirimu sudah mendapatkan apa yang


kamu inginkan, jadi urus saja dirimu. Dan tugasmu adalah, supaya jangan sampai ada yang tau tentang rencana kita. Kau paham?" tanya Richard.


Celia diam, masih menahan kesal. Dia menelepon Richard berharap mendapatkan bantuan. Tapi justru dapat peringatan.


"Aku memperingatkan padamu, untuk kau supaya jangan bertanya tentang


orang lain!"


"Richard, tapi kau harus lebih cepat bergerak-"


Panggilan tersebut dimatikan oleh Richard secara sepihak. Lelaki itu tanpa memberi solusi apa apa. Celia semakin kesal menjambak rambutnya sendiri.


"Richard sudah tidak mau membantuku, sekarang aku harus apa?" gumamnya. Sambil memikirkan cara.


"Ah, sialan!"


Celia semakin marah, hingga dengan kasar melemparkan handphone ke dinding.


"Semua ini gara-gara Xavia! Xavia berengseekkk!" jeritnya.


Prangg!!


Benda pipih berwarna hitam itu hancur


berkeping-keping. Celia berhenti terengah-engah sebab amarah dan tenaga yang baru diluapkan.


Satu tangan berkacak pinggang, satu lagi mengusap dahi, dia sambil memikirkan


langkah selanjutnya harus bagaimana?


"Kenard harus benar-benar ada di pihakku. Dia harus menjadi lelaki penurut padaku, dan dia tak boleh dekat lagi dengan Xavia, karena perempuan itu bisa saja mengacaukan rencana."


Celia berpikir sangat keras, bagaimana cara dia menyiksa Kenard. Dia harus bisa membuat hubungan tunangannya itu terpisah dari Xavia.