Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Hukuman Yang Pantas


Berada di hadapan semua orang, tak berdaya wajah Elliot pucat pasif, tangannya gemetar saat ia mengambil lembaran kertas di hadapannya.


"Lihat dan baca baik-baik, kurasa semua bukti-bukti itu sudah cukup kuat, kalau kau memang benar terbukti bersalah. Kau terlibat konspirasi dengan musuh," ucap Dominic dengan intonasi dingin dan mengancam.


Elliot mengambil selembar kertas yang sudah lecek di hadapannya itu, dia membaca baik-baik bukti-bukti di depan matanya.


Setelah membacanya dengan sekilas, tiba-tiba beranjak berdiri memberontak sambil berteriak, "Omong kosong! Bisa-bisanya kau dan kalian mempercayai bukti-bukti palsu ini?!"


Elliot melirik ke arah Xavia sambil menyeringai. "Seharusnya kalian bisa menggunakan akal dan pikiran kalian masing-masing, untuk meneliti apakah informasi yang kalian dengar itu nyata, atau memang cuma kebohongan yang disengaja untuk menjatuhkanku."


Xavia mengepal maju mendorong dada Elliot. "Sekarang kau berbalik menuduhku memberikan bukti palsu pada mereka?!"


"Dan bagaimana kalau ucapanku benar, kau ingin membuat diriku di depan mereka buruk?" balas Elliot santai tapi terlihat menjengkelkan di mata Xavia.


Xavia menggertakkan gigi membalas dengan senyuman mengejek kemudian dia berkata,


"Kau itu memang pengecut, sikapmu sangat berani melakukan tindakan manipulasi, tapi tidak berani mengakuinya."


"Apa buktinya kau begitu yakin kalau aku telah berkhianat pada kelompok kita? Tidak masuk akal!"


"Aku bisa buktikan kalau aku tidak berbohong. Menyusun rencana licik seperti yang kau tuduhkan, Elliot!"


"Ya sudah, mana sekarang buktikan!" tantang Elliot berani.


Xavia mengangguk mengiyakan. Segera pergi dari ruangan, dia ingin membuktikan kalau sepupunya salah.


Semua orang menunggu, tak lama berselang Xavia masuk membawa salah satu orang anak buah Elliot. Sontak saja membuat Elliot melebarkan mata terkejut, tapi berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kekhawatirannya.


Anak buah Elliot digiring masuk menghadap mereka semua. Dengan kepala tertunduk dia seolah ketakutan sebelum bicara, terlebih lagi tatapan Elliot yang mengancam.


"Katakan pada mereka, tentang apa yang kau lihat di hari pertarungan itu?" tanya Xavia dingin.


"Bicaralah, jangan takutkan apa pun. Aku ada di sini, justru kau akan aman kalau jujur, tapi kalau sebaliknya, aku tidak akan menjamin kehidupanmu setelah ini!" ucap Dominic.


"Iya hari itu, saat rencana penyerangan selesai disusun, saya tidak sengaja melihat Tuan Elliot menemui ketua geng Scorpions Red, Tuan Dominic. Saya melihat sendiri, dia memberikan rincian strategi pada ketua geng lawan," ucap anak buah Elliot sambil bergetar.


Elliot melirik sinis sambil mengepalkan tangan.


"Apa kau yakin, yang kau katakan ini jujur?" tanya Dominic.


"Iya, Tuan Dominic. Oleh sebab itu saya memberikan bukti-bukti kertas dibawa Tuan Elliot yang terjatuh pada Nona Xavia. Itu adalah hasil coretan dia sendiri."


"Kalian dengar sendiri bukan, apa yang sudah dia katakan? Elliot tidak tahu, kalau dia adalah anggota geng kita yang paling jujur. Dan Elliot kira, bisa membodohi kita dengan kebohongannya." Xavia maju dendekat lagi pada Elliot.


"Sekarang kau ingin mengelak bagaimana lagi, hem? Semua sudah jelas bukan, kalau kau penjahat yang sebenarnya!" ancamnya.


Semua orang sudah mempercayai ucapan Xavia dan anak buah Elliot. Elliot merasa bahwa perlawanannya telah sia-sia. Dia merasa terpojokkan tidak memiliki lagi ruang untuk bicara membela dirinya sendiri.


"Kau akan mendapatkan julukan pria terlicik kalau masih menghindar dan menyangkal pernyataan anak buahmu itu, Elliot," ejek Xavia.


"Baik baiklah, aku mengakui. Iya aku telah melakukan semuanya. Aku yang menemui ketua Scorpions red. Aku memberikan susunan penyergapan yang akan dilakukan Kenard pada mereka!" ucapnya.


Dominic menatap Elliot dengan kekecewaan yang mendalam lalu berkata,


"Dari dulu aku telah menganggapmu sudah


seperti anakku sendiri. Seorang kakak bagi Xavia, bisa melindunginya. Dan membantu keluar dari kesulitan, tapi ternyata kini mempersulit dirinya. Kenapa kau mengkhinatiku dan Xavia?"


"Asal kalian tahu, aku melakukan ini karena selama ini ingin pengakuan. Semua kesalahan yang kulakukan itu karena kau, Paman! Secara tidak langsung kau yang menanamkan ambisi padaku!"


Elliot merasa tidak ada harapan menjadi pemimpin geng lagi. Apalagi setelah melihat Xavia dan Kenard naik ke puncak kekuasaan, mendapatkan pujian dan kemenangan.


Saat itu dia merasa gelisah, memutar otaknya lebih keras. Untuk berpikir, bagaimana caranya dia bisa menjadi ketua pertarungan.


Dan kini dia mencoba menyalahkan orang lain atas tindakan bodohnya.


Ketika


Elliot mengaku dan berbicara banyak tentang tindakannya yang salah, semua orang di


ruangan itu saling menatap.


Keheningan terasa begitu mencekam bahkan suara jarum


yang jatuh mungkin saja akan terdengar.


Xavia melihat ayahnya yang tampak kecewa dengan semua ungkapan Elliot. "Papa, bagiamana dengan semua kejahatan yang sudah dia lakukan? Seharusnya dengan cara apa kita menghukum dia?" tanyanya.


Dengan dingin Dominic menghela napas kemudian mengatakan,


"Dia akan dihukum sesuai aturan yang berlaku. Di depan semua orang, supaya setiap nggota mengerti hukuman untuk mereka yang akan mencoba berkhianat pada kita."


Setelah mendengar hukumannya, Elliot menggeleng kemudian berlutut sambil menangis dan memohon maaf


kepada Dominic.


"Aku mohon jangan berikan hukuman padaku, Paman. Aku minta maaf. Apa kau lupa, aku adalah anak dari kakak yang sangat menyayangimu, dia menitipkan aku padamu, dan aku juga


satu-satunya pewaris laki-laki, apa kau tega menghukum ku dengan berat?" tanyanya memelas.


Elliot sekarang tampak seperti seorang anak kecil yang merengek sambil menangis memohon sesuatu. Membuat Xavia berdecak memalingkan tatapannya enggan menanggapi semua dramanya.


Hal berbeda ditunjukkan oleh Dominic yang kini agak terguncang dengan kalimat yang diucapkan oleh Elliot. Dia seperti tidak tega melihat keponakannya itu memohon padanya.


Melihat reaksi ayahnya, Xavia tidak ingin dia terprovokasi oleh Elliot.


"Papa, kau jangan termakan omongannya. Dia itu laki-laki yang sulit dipercaya, dia hanya berniat membujukmu saja!"


Dominic diam, kedua alisnya bertaut tampak menimbang nimbang sesuatu.


"Kau harus mengambil keputusan yang tepat, sebab ini soal reputasi Black Horses, dan untuk anggota ke depannya. Melalui hukuman yang dijatuhkan pada Elliot biarkan mereka belajar, kalau merencanakan pengkhianatan itu tidak bisa diampuni begitu saja," tegas Xavia Linn.


Semua orang dalam ruangan itu saling menatap satu sama lain, menunggu keputusan yang akan diambil Dominic. Mereka yakin, kalau sang ketua pasti akan mengambil langkah yang tepat.


"Melepaskan dia dari hukuman, sama saja melepas ular dalam kandang kita sendiri, Papa, dia pasti akan berbalik menyerang dan mengancam keselamatan kita sendiri."


Elliot melirik tak terima dengan ucapan Xavia. Dalam posisi berlutut dia masih berusaha menarik perhatian sang paman.


"Baiklah." Dominic menutup matanya sambil menghela napas berat.


"Sudah ku putuskan, untuk menjatuhkan hukuman mati pada Elliot."