
Bab 10
Kemarahan Dominic semakin menjadi-jadi. Ketua geng motor Black horses itu sejak tadi berjalan mondar mandir di dalam ruangan.
Ketika dia mengetahui bahwa rencana anak buah Richard yang akan membunuh Xavia, ia mendadak tidak tenang.
“Tidak bisa dibiarkan, kita harus melakukan sesuatu.” Dominic berpikir keras untuk memikirkannya cara.
Kemudian menatap putrinya itu memutuskan, setelah apa yang dilewati Xavia hari ini, dia menyadari bahwa tidak cukup bagi putrinya untuk
memiliki kemampuan memimpin geng saja. Dominic merasa Xavia harus berlatih keras lagi sebab kemampuannya dalam menembak belum cukup untuk melindungi dirinya sendiri saat kejadian.
“Kau harus berlatih menembak, sebab kemampuanmu masih diragukan, teruslah belajar, Kenard akan menemanimu terus berlatih,” ucap Dominic.
Xavia mengangguk, mengikuti perintah sang papa.
“Kenard, kuharap kau bisa terus membantu Xavia belajar, sebab kaulah satu-satunya orang yang ku percaya, yang memiliki kemampuan lebih dari pada yang lain,” ucap Dominic.
Kennard yang berada di belakang Xavia itu maju sambil menganggukkan kepala. “Kalau melakukan hal untuk kemajuan Xavia, kenapa saya harus menolaknya. Saya akan mengajarkan putri tuan cara membidik dengan cepat dan benar,” ucap Kenard sambil melirik Xavia di sampingnya langsung membuat tersipu.
“Bagus, lakukan dengan segera, sebab bahaya bisa saja datang tiba-tiba, Xavia, kau harus selalu waspada, Sayang,” ucap Dominic.
“Tentu papa. Demi membalas mereka aku akan belajar lebih lagi.”
Kenard dan Xavia berada di lapangan khusus berlatih menembak. Benda-benda sudah dipajang di kejauhan untuk objek sasaran tembakan.
Anak buah Xavia datang membawa beberapa jenis tembakkan berdiri di belakang. Memberikan barang tersebut saat Xavia menginginkan.
“Kita mulai?” tanya Kenard bersiap di samping Xavia. Membenarkan posisi perempuan itu.
Xavia selama ini memang sering berlatih senjata api. Tapi ia menggunakan yang pendek, itu pun belum seberapa mahir. Kini Kenard memutuskan untuk melatih perempuan itu menggunakan senjata laras panjang.
Merangkul dari belakang, memegang tangannya memberitahu cara yang benar untuk membidik sasaran.
“Konsentrasimu harus penuh, fokus ke tujuan. Jangan melirik ke mana-mana selain tujuan, pastikan tanpa hitam ini berada di tengah-tengah target,” ucapnya lembut napasnya sampai berhembus di telinga Xavia.
“Sebelumnya aku tidak pernah menggunakan senjata jenis ini. Lumayan berat, tapi aku akan mencobanya,” ucap Xavia melirik Kenard yang tepat ada di samping wajahnya.
Jarak mereka hanya sepersekian centimeter saja kini.
“Oke, kita mulai, sekarang.”
Xavia menutup satu matanya, mengambil ancang-ancang sasaran yang akan dia tembak.
Dor!
Ia melepaskan satu peluru menembak, tapi belum mengenai titik hitam tergetnya. Itu semua karena ia sulit mefokuskan diri.
“Kau harus mencobanya lagi, konsentrasi, pusatkan fokus mu ke depan. Oke?”
Xavia menghembuskan napas melalui mulut. Mencoba mengabaikan rasa yang berdebar-debar di dalam dadanya.
Semakin lama berada di dekat lelaki ini ia justru semakin tidak fokus bisa fokus.
“Pandangannya lurus ke depan,” ucap Kenard yang kini menatap ke depan, tidak tahu kalau pandangan Xavia mengarah padanya.
Entah kenapa, Xavia merasa jika dilihat dari posisi dekat seperti ini wajah Kenard sangat good looking. Xavia mengigit bibirnya sendiri melihat penampilan lelaki memiliki perut sixpack tidak terlalu besar tapi kekar, degan tato tulisan panjang di lengannya.
Xavia justru merasakan kenyamanan yang tidak pernah
Ia rasakan. Menatap wajah Kenard sambil tersenyum sinis, ia menyindir dalam hatinya, apa yang dia rasakan itu adalah hal yang tidak benar.
“Kenard pasti sengaja melakukan ini hanya untuk mencari perhatian, dia hanya akting,” ucapnya dalam hati.
Kenard baru saja menyadari, kalau sejak tadi Xavia terus memperhatikannya. Ia ingin tersenyum, tapi segera mungkin ditahan supaya tidak terlihat percaya diri di depan perempuan ini. Ia berpura-pura tidak tahu, tapi dalam hatinya sangat senang dan dengan tidak nyadar menunjukkan body goalnya.
“Bisa coba sekali lagi? Ingat kataku, fokus lurus ke depan. Jangan melihat ke mana pun,” ucap Kenard.
Entah apa yang terjadi tiba-tiba Xavia menarik diri dari pelukannya. Emosionalnya menjadi mereda.
“Tunggu, aku tidak bisa melakukan ini, sangat sulit,” ucapnya.
Kenard mengerutkan dahi bingung dengan apa yang terjadi pada Xavia. “Kau belum mencobanya lagi, Xavia. Bagaimana bisa mengatakan menyerah sebelum memulainya lagi? Ayo, cobalah,” pinta Kenard.
“Tapi aku kesulitan, Kenard. Harusnya kau mengerti itu,” ucap Xavia.
Tidak mungkin latihan ini selesai hanya sebentar saja, bahkan Xavia belum mengenai target. Jika Dominic tahu pasti akan memarahinya.
“Kau mau mengulang sekali lagi, bukan? Aku yakin kalau kau pasti bisa melakukannya. Kau harus menstabilkan emosi.” Kenard bicara selembut mungkin untuk merayu Xavia supaya mau.
“Jangan buat Tuan Dominic kecewa, karena kau memutuskan berhenti latihan. Di mana semangatmu yang selama ini meletup-letup?”
Xavia memejamkan mata beberapa saat, menarik napas ia kembali menyusun suasana hatinya yang baru saja kacau. Setelah beberapa detik kemudian, netranya kembali terbuka ia mengangguk.
“Baiklah. Aku akan mencobanya sekali lagi,” ucapnya.
“Bila kau berhasil kukira kau tidak akan mencobanya hanya satu kali. Kau pasti suka berkali-kali,” kelakar Kenard sambil tersenyum di samping Xavia. Kali ini dia memberi jarak dalam posisi keduanya.
Kenard berjaga di belakang sambil memberi instruksi. Sedikit mengangkat senjata yang dipegang Xavia, mengarahkan yang lebih benar.
Kali ini Xavia berkonsentrasi penuh. Fokusnya ke depan, bukan lagi pada Kenard yang mencoba menarik perhatiannya.
“Kau lihat objek di depan, bayangan benda di depan itu adalah musuh yang paling kau benci. Dan titik hitam itu adalah jantungnya, jadikan dirimu sangat berambisi untuk melenyapkannya,” ucap Kenard.
Xavia menutup satu matanya, menatap lurus ke depan. Ia melihat objek
Membayangkan kalau sasaranya itu adalah
Richard, pria licik dan penghianat yang terus saja ingin melukainya.
Ia membayangkan, bagaimana menjengkelkannya wajah Richard, menyeringai dengan tatapan mengancam. Melihat itu, Xavia terpacu, darahnya seketika memanas, otot-otot di tangan terlihat jelas.
Xavia menekan pelatuk hingga peluru melesat ke depan.
Dor!
Objek yang yang diberikan tanda titik merah itu seketika pecah. Tatkala Xavia berhasil membidik.
Kenard tersenyum puas sambil bertepuk tangan, mengapresiasi keberhasilan Xavia. Benar kata lelaki itu, setelah berhasil mengenai titik hitam, Xavia ingin mengulang lagi menembak objek-objek lainnya.
Xavia membayangkan semua objek adalah Richard. Sebab keinginan bukan hanya untuk menembak satu bagian tubuh saja. Tapi ia ingin menembak setiap jengkal bagian tubuh pria itu.
Tembakan leluncur dengan cepat dan tepat. Semua objek porak-poranda. Membuat Xavia tersenyum puas seolah olah berhasil menghabisi Richard.