Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Kembali Bergabung


"Seperti begitulah cerita tentang dirimu yang sebenarnya."


Xavia telah selesai bercerita, kini Kenard mengetahui semuanya. Ternyata kebenaran sesuai dengan prediksinya. Selama ini dia merasa identitas aslinya bukanlah orang biasa.


Dia sekarang duduk tenang dengan kedua tangan saling bertaut, kedua sikunya berada di atas paha. Tatapannya lurus menatap bibir Xavia berwarna merah muda sedang bicara.


Mengangkat wajahnya seiring dengan menghela napas panjang. Dadanya terasa lega, sebab gak ada lagi tanda tanya yang belum terjawab.


"Sekarang aku sudah mengerti, kenapa orang-orang itu terus mengejarku." Kenard manggut-manggut paham.


"Benar, saat mengetahui kau kembali, mereka menganggap kau adalah ancaman, oleh sebab itu mengikuti mu dan atau mungkin, akan membunuhmu," ucap Xavia.


"Kalau memang benar begitu, yang terjadi sebenarnya. Sekarang biarkan aku masuk ke geng Black Horses lagi, menjadi bagian dari kalian, sudah seperti bagian dari hidupku sendiri," pinta Kenard serius.


Xavia tak lantas menjawab keinginan Kenard, dalam ini dia tak bisa mengambil keputusan sendiri. Dia meminta pendapat pada sang papa.


Xavia mengajak Kenard untuk menemui Dominic yang sedang berada di halaman belakang. Mengusap-usap burung elang piaraannya.


Sedangkan di belakang ada dua penjaga yang berdiri waspada mengikutinya.


Saat mengetahui Xavia dan Kenard menemuinya dia menoleh sambil tersenyum. "Akhirnya, aku bisa melihatmu lagi, burung elangku," gumamnya.


Dominic tersenyum bahagia, mengajak mereka berdua duduk di kursi taman belakang.


"Kenard bersikeras ingin kembali bergabung dalam kelompok kita, menurutmu bagaimana, Papa? Apakah sebaiknya kita membiarkan Kenard masuk kembali?" tanya Xavia yang duduk di kursi tengah dalam lingkaran meja bundar berwarna putih.


Dominic melihat Kenard, menggelengkan kepala kemudian. "Aku rasa tidak perlu, biarkan dia hidup seperti sekarang, menjadi orang biasa, hidup penuh dengan kedamaian di kampung nelayan menangkap hasil laut, lalu menjualnya ke pasar. Mungkin jalan seperti ini, baik untuk dirinya, Xavia. Dari pada selalu dalam situasi pertarungan dengan para musuh."


Jawaban Dominic sama sekali bukan hal yang diinginkan Kenard. Dalam dirinya tentu saja langsung bergejolak menunjukkan penolakan. Dia menggeleng kemudian.


"Tidak, Tuan Dominic. Kehidupan yang kau sebutkan tadi, sama sekali bukan kehidupan yang kusukai. Walau hidup di sana selama dua tahun, tapi aku tidak menemukan ketenangan apa pun di sana. Justru terus saja merasa ada yang kurang, aku tidak terbiasa dengan kehidupan nyaman dan tenang di desa nelayan. Dalam diriku masih merindukan kehidupan petualangan dan tantangan."


Xavia menoleh memperhatikan Kenard dari tadi, dia melihat keinginan lelaki itu begitu kuat dari tadi. Dia sangat bersungguh-sungguh ingin kembali ke kelompok Black Horses.


Melihat itu, tentu saja Xavia tidak bisa membiarkan begitu saja. Dia akhirnya setuju. "Baiklah, kalau memang seperti itu keinginanmu. Aku setuju kalau kau memilih bergabung kembali ke dalam kelompok kita," ucapnya.


Dominic terdiam. Tak memberi tanggapan setelah melihat keinginan Kenard yang begitu besar.


"Lalu, bagaimana menurutmu, Papa? Apakah kau setuju bila Kenard kembali bergabung dengan Black Horses? Kuharap kau menyetujuinya."


Dengan bibir tersungging, Dominic menaikkan kedua pundak. "Jika dia sudah berkata demikian, mau bagaimana lagi, selain kata setuju? Lagi, pula aku tidak akan bisa menolaknya, bukan?"


"Jadi kalian mengizinkanku untuk bergabung kembali?"


Xavia mengangguk, sedangkan Dominic duduk santai kedua kaki saling bertumpu. Menikmati cerutu di sela dua jarinya.


Seketika Kenard tersenyum bahagia. Setelah dua tahun lamanya, akhirnya dia kembali ke tempat yang sebenarnya.


"Selamat datang lagi dalam kelompok Black Horses. Setelah dua tahun menghilang, aku berharap kau tidak kehilangan kemampuanmu dalam bertarung."


Setelah mengambil keputusan, Dominic membiarkan Kenard dan Xavia bicara berduaan.


Xavia mengajak Kenard berkeliling ke area taman belakang. Melewati kolam renang jernih berisi air berwarna biru, kemudian berdiri di depan gudang kecil tempat yang sering mereka duduki dulu bercerita bersama.


"Apa kau masih mengingat tempat ini?" tanya Xavia.


Kenard tersenyum. "Samar-samar aku mengingat, sepertinya tempat ini menyimpan banyak kenangan untuk kita?"


Xavia tersipu. Kemudian dia mengungkapkan segala pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya.


"Kenard, kalau kau memutuskan untuk bergabung lagi ke Black Horses, maka itu berarti kau akan kembali tinggal di tempatmu yang sebelumnya. Lalu, bagaimana dengan perempuan yang bersamamu itu? Apakah ini tidak menimbulkan masalah? Mengingat, dia adalah orang yang menyelamatkan hidupmu dan dekat denganmu?" tanya Xavia.


Kenard menggeleng. "Kurasa tidak akan masalah, sebab antara aku dan dia selama ini tidak memiliki hubungan khusus. Aku selama ini hanya sementara tinggal di sana, karena dia yang menyelamatkanku." Tidak tahu mengapa dirinya langsung


menjelaskan bahwa dia tidak ada hubungan khusus dengan Celia.


Xavia merasa lega setelah mendengarkan jawaban dari Kenard. Waktu itu dia bertemu dengan Celia, dia menatapnya dengan pandangan musuh.


"Kau bisa berkata demikian, tapi tidak tahu, bukan, mungkin Celia menganggap hubungan kalian serius?"


"Aku rasa, setelah mengungkap indentitas diriku yang sebenarnya, Celia tidak akan keberatan untuk membiarkanku kembali ke kota, sebab dia selama ini selalu mendukung, apa pun yang akan kulakukan."


Xavia manggut-manggut, tapi dalam benaknya, tidak menganggap hubungan mereka polos seperti yang Kenard ceritakan.


Kalau memang tidak memiliki hubungan apa pun, sudah dipastikan Celia tidak akan menatapnya dengan tatapan tidak suka seperti hari itu. Bahkan sebelum mengetahui siapa Xavia sebenarnya.


Jelas tatapan itu adalah tatapan cemburu, sebab Kenard merasa dekat dengan Xavia. Meskipun begitu, Xavia tidak menganggap sama sekali tatapan kejam perempuan itu.


Bukankah Kenard tidak jatuh cinta padanya? Lalu, apa yang harus dia khawatirkan?


Xaviq menggeleng menepis perasaanya sendiri. Kemudian memajukan satu tangannya mempersilahkan Kenard berjalan lebih dulu.


Xavia meminta pada pelayan untuk membuka pintu garasi. Dia langsung masuk di susul oleh Kenard di belakangnya. Membuka dengan cepat penutup motor berwarna abu-abu yang sudah sedikit diselimuti debu.


Dia mengibaskan satu tangan di depan hidung, guna menyingkirkan debu dari wajahnya.


"Apa ini benar motor miliku?" tanya Kenard.


"Iya benar. Semenjak dua tahun lalu kau menghilang. Aku melarang siapa pun memakainya, memilih menyimpannya di sini karena selalu berharap suatu saat kau akan kembali mengendarainya lagi. Dan ternyata dugaanku benar, kau kembali. Kau jangan khawatir, meskipun motor ini tidak pernah digunakan aku selalu meminta anggota kita bagian teknisi untuk selalu memperbaiki, dan kalau kau ingin menggunakan ini sudah sangat aman, seperti pada saat kau pakai dulu."


Kenard menelisik motor hitam besar itu sambil terheran heran.


"Kau bisa membawanya pergi kembali ke kampung nelayan, mungkin ada yang harus kau selesaikan dulu di sana. Silahkan," ucap Xavia melempar kunci motor langsung ditangkap oleh Kenard.