Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Terverifikasi Cemburu


~BAB 15~


Setelah melihat apa yang baru saja di hadapannya, Kenard berjalan tergesa-gesa menemui Dominic yang sedang duduk di taman belakang, menikmati teh dan cerutu yang terselip di antara dua jarinya.


“Saya mencari mu, ke ruangan ternyata kau ada di sini, Tuan.” Kenard panik berdiri di depan ketua geng black horses tersebut.


Dominic di temani pengawalnya sangat santai seolah tidak memikirkan masalah yang akan dihadapi putrinya.


“Ada apa kau mencari ku sampai gelisah seperti itu, Kenard? Apa sedang terjadi masalah?” tanyanya sama sekali tidak menganggap penting kepanikan pengawal Xavia tersebut.


“Tuan Dominic, kenapa secara tiba-tiba tanpa memberitahuku, kau menggantikan posisiku dengan pria itu? Seharusnya kau jangan melakukan itu, karena menjaga Nona Xavia adalah tugasku.” Kenard langsung saja pada pokok permasalahannya.


Dia sulit menerima keputusan Dominic kali ini.


“Kau baru saja dipilih menjadi ketua pertarungan, pasti waktumu akan banyak tersita di sana, jadi aku memutuskan putra Charli lah yang menemani Xavia sekarang.”


“Tapi, Tuan, walau sibuk, aku bisa melakukan merangkap dua pekerjaan sekaligus, menemani Nona Xavia dan juga mengurus pertarungan,” protesnya. Dia tidak suka kalau orang lain menggantikan posisinya.


Apa lagi mereka pergi hanya berdua saja sekarang.


Mendengar itu Dominic menahan tawa di perut. Hingga kemudian tergelak tertawa lepas.


“Pengawalan ini bukan pengawalan biasa, Kenard. Asal kau tahu, ini adalah anak dari Charli kau tahu? Tadi dia berencana akan menjodohkan putranya dengan Xavia. Kurasa itu tidak perlu, lalu memberikan kesempatan mereka untuk pergi berdua, sekaligus saling mengenal satu sama lain, mungkin saja mereka akan cocok, kita tidak bisa menebaknya, bukan?” Dominic mengembuskan asap rokok dari mulutnya.


“Status mereka sama-sama lajang. Tidak akan ada larangan untuk mereka dekat. Lagi pula aku melihat ada kecocokan di antara keduanya. Terlebih lagi, jika Jack menjadi pengawal Xavia, semakin lama mereka pasti akan dekat.”


Rahang Kenard mengetat, mendengar hal itu hatinya terasa berkobar panas, dia tanpa sadar mengepalkan tangan di samping tubuh. Membayangkan Xavia berduaan dengan pria itu, dadanya berdenyut nyeri, ia benar-benar kesulitan mengontrol kekesalannya sendiri.


“Ternyata benar apa yang ku pikirkan, tentang anak Tuan Charli benar, tatapan pria itu berbeda, mengandung sebuah makna, itu pasti karena dia menyimpan rasa pada Xavia!” batinya.


Kemarahannya meletup-letup, tapi hanya sebatas di pikiran dan dalam diam. Selebihnya dia sadar posisinya sebagai siapa? Dia hanyalah seorang bawahan yang tak memiliki hak untuk marah atau menunjukkan protes atas ketidak sukaannya.


Dia hanya bisa membiarkan begitu saja pria itu, berada di samping Xavia. Dari kejauhan Kenard melihat pria itu terus saja ada di dekat Xavia.


Pemandangan yang membuatnya naik darah, terus saja dia saksikan sekarang. Tangannya kembali mengepal kala melihat perlakuan Jack pada Xavia.


Saat berada di meja makan bahkan pria itu masih saja mencari muka di hadapan Xavia dan Dominic. Jack menarik kursi untuk mempersilahkan nona muda duduk.


Menunggu di sampingnya saat Xavia makan. Lalu dengan sigap mengambil selembar tisu mengusap noda yang berada di pipi saat Xavia makan tidak hati-hati.


“Permisj, biar aku bersihkan. Tampaknya kau sedang terburu-buru saat makan, Nona Xavia,” ucapnya sambil mengusap perlahan.


“Tidak masalah, Jack, biarkan aku membersihkannya sendiri,” ucap Xavia mencabut tisu memilih membersihkan noda di sudut bibirnya.


“Bukan di sana, Xavia. Tapi di sebelahnya sedikit lagi,” tunjuk Jack ke pipi seputih susu itu.


“Di sini.” Jack memegang tangan Xavia, mengarahkan tangannya dengan benar.


Kenard yang sedang mengambil barang di laci belakang mereka, melirik malas melihat. Dia rasanya ingin meninju Jack sampai pingsan. Apa yang dia lihat di hadapannya, benar-benar membuat marah dan kesal.


Melihat Jack dan Xavia semakin akrab, Kenard mulai mencari-cari masalah.


Saat melakukan latihan menembak, dalam keadaan belum siap, tembakan di tangan Jack meleset hingga hampir saja mengenai Xavia.


Melihat itu Kenard langsung memanggil Jack dan memarahinya.


“Hampir saja kau membahayakan Xavia. Kau memang tidak profesional, ceroboh!” Secara terang-terangan Kenard memarahi Jack di hadapan Xavia, dia ingin menunjukkan kalau pria ini tidak layak menjadi pengawalnya.


“Xavia, lebih baik kau katakan pada Tuan Dominic, kalau dia tidak pantas. Ganti posisinya dengan orang yang lebih layak,” ucap Kenard menatap Jack penuh dengan kemarahan.


“Xavia, aku bersumpah, kalau ini bukan kesalahanku, saat pelayan memberikan, senjatanya sudah tidak beres, dia membawa senjata rusak diberikan padaku. Untung saja dengan cepat aku menyadari dan mengarahkan ke objek lain, sehingga tidak mengenaimu. Sekali lagi aku minta maaf, atas keteledoran ini, Xavia, kedepannya berjanji akan lebih teliti lagi,” ucap Jack membela diri. Pria itu membalas tatapan Kenard dengan sahaja, bahkan tak terlihat sedikit pun kemarahan setelah disalahkan.


“Sekarang kau justru menyalahkan pelayan, padahal sudah jelas-jelas kaulah yang salah,” sindir Kenard tajam.


“Tidak ada sedikit pun aku menyalahkan pelayan, Kenard. Seharusnya kita berterima kasih padanya, sebab dari kejadian ini kita bisa tahu, mana senjata yang layak dan mana yang tidak layak.”


Kenard membuang muka malas, mendengar kata-kata manis yang digunakan untuk merayu Xavia itu.


“Bisa saja kau sengaja melakukan itu-“


“Stop, Kenard! Berhentilah menyalahkan dia.” Xavia menyela pada saat Kenard belum selesai bicara. Dia justru merasa kasihan, memilih membela Jack.


“Tidak seharusnya kau menyalahkan Jack, karena kejadian baru saja tidak sengaja, ini kecelakaan. Tidak pantas jika kau memarahinya seperti itu, Kenard. Jack benar, seharusnya aku bersyukur dan mengucapkan terima kasih padanya, sebab karena dia aku bisa tahu, kalau senjata itu rusak. Bayangkan bagaimana kalau tidak diketahui, papa memakainya, sesuatu bisa terjadi padanya.”


“Tidak apa, Xavia, kemarahan Kenard memang wajar, dia merasa khawatir padamu,” ucap Jack sabar.


Xavia berdiri di tengah-tengah mereka. Menjadi saksi betapa tajamnya pandangan Kenard berkilat seperti mengobarkan pijaran api.


Jack menyeringai meremehkan Kenard. Mereka sama-sama pria, saling menatap sinis. Dari sorot mata keduanya siapa saja akan tahu bahwa mereka sama-sama memperebutkan wanita yang sama.


“Kenard, lebih baik kau fokus saja pada pertarungan yang akan kau lakukan malam ini, soal Jack kau tidak perlu khawatir, aku mempercayainya.”


Kenard menatap sengit, tapi dia juga tidak berdaya terhadap pria itu. Mengepalkan tangan secara diam-diam merasa kesal dan memutuskan untuk pergi dari sana


Segera mempersiapkan para anak buahnya untuk pertarungan dengan salah satu kelompok musuh black horses. Dia ingin memenangkan pertarungan. Sebagai branding kualitas dirinya, meningkatkan posisinya agar menang dibandingkan dengan Jack di mata Xavia.


Setelah pertarungan selesai, semuanya dijalani dengan mudah. Semua akan kembali baik-baik, kepercayaan akan dia dapatkan sepenuhnya.