
Celia tak peduli meski pun dalam dirinya memiliki keinginan membalas dendam atas semua yang diberikan Kenard. Dia tetap ingin menikah dengan Kenard juga merupakan keinginannya sejak lama.
“Kita harus melanjutkan rencana pernikahan yang sudah lama kita atur, Ken. Sudah lama waktu ini tertunda-tunda, maka sekarang saatnya,” ucap Celia memaksa.
Dia merasa, Kenard diberikan kesempatan hidup kedua, itu berarti takdirnya adalah menikah dengannya dan hidup di bawah kendalinya.
Kenard yang sedang membuka lembaran-lembaran kertas di atas meja itu merasa terganggu dengan suara bising ocehan Celia, berdecak kemudian berdiri menghindari Perempuan itu.
“Kenard, aku sedang bicara denganmu,” ucap Celia memberi penekanan pada suaranya. Ia sangat tidak suka jika diabaikan seperti ini. “Seharusnya kau tinggal jawab iya, lalu semua beres. Tidak perlu terus menghindariku seperti ini.”
Kenard melirik sebentar kemudian meletakkan kertas di tangannya kasar. Menatap Celia datar tak ada rasa apa-apa. “Dengar Celia, lagi-lagi kau membicarakan soal pernikahan, bukankah sudah kubilang berkali-kali kalau pemikiranmu itu terlalu jauh!” tegas Kenard.
“Kau semakin membuat kepalaku pusing saja!” Kenard meninggalkan Celia dengan keadaan kesal. Bahkan dia membanting pintu keras sampai membuat Celia tersentak kaget.
“Lagi-lagi Kenard membuat jawaban yang sama sekali tak kusukai! Ini pasti karena Xavia terus menghasutnya. Sangat licik kalau dia menggunakan cara seperti itu! Aku harus membuat Kenard menikah denganku, lalu meninggalkan perempuan itu!” gerutunya menghentakkan satu kaki seiring bibir mengerucut.
Membawa emosi yang berkobar, Celia datang ke rumah Xavia. Berbeda dengan kedatangannya yang sebelumnya terlihat sopan, kini dia datang seperti bak jagoan yang ingin mendatang ketua black horses, Xavia Linn.
“Xavia, keluar! Aku menunggumu di sini! Temui aku kalau kau berani!” teriaknya seperti seorang pemalak.
“Kau bukannya perempuan yang datang ke mari tempo hari? Mau apa lagi datang lagi? Berteriak-teriak seperti itu, sebaiknya kau pergi!” usir penjaga gerbang rumah Xavia.
Celia tak mau pergi dia justru semakin bersikap arogan. Berteriak.
“Xavia! Keluar kau! Jangan hanya berani di belakang saja! Apakah seperti seorang ketua?!”
“Kau ini, bukannya berhenti malah menjadi!” Dua orang penjaga akan memegang tangannya.
“Stop! Jangan ada yang memegang ku!” peringkatnya tegas membulatkan mata.
“Kau telah membuat keributan, bagaimana kami bisa membiarkanmu?!”
“Kalian tidak bisa mencegahku! Kau tau siapa aku?” tanya Celia berkacak pinggang menantang.
Kedua penjaga itu menggeleng sambil mengamati penampilan Celia dari atas sampai bawah. Bukan hanya sikap, bahkan penampilan perempuan di hadapan mereka itu berubah seratus persen dari pas datang pertama kali.
“Aku adalah tunangan Kenard! Kau tau sendiri bukan, siapa dia?! Kalian pasti dapat masalah kalau masih berani menahanku di sini!” bentak Celia.
Kedua penjaga itu saling menatap satu sama lain. Kemudian mundur menjadi ragu antara ingin menahannya atau tidak.
Kalau menahannya pasti mereka akan kena marah oleh Kenard, tapi jika membiarkan masuk pasti perempuan itu membuat keributan.
Celia menyeringai kemudian berjalan melenggang melewati mereka. “Lebih baik kalian diam, dari pada mengganggu niatku akan masuk!” gumamnya tersenyum tipis.
Dia masuk seenaknya untuk mencari Xavia, memasuki rumah besar empat lantai dan banyak aktivitas di dalamnya tersebut. Dia masuk mengedarkan pandangan untuk mencari Xavia. Sebegitu terheran nya dengan kemewahan rumah Xavia, sampai sampai Celia hampir lupa dengan tujuannya.
Pandangan Celia ke atas mencari-cari ruangan Xavia berada, sebab di lantai dasar hanya.
seperti aula lebar berisi sofa panjang berbentuk L kemudian ada lemari berisi panjang pajangan barang unik keluarga Linn.
“Pantas saja, Kenard begitu menyukainya. Dia sangat kaya, mungkin kalau kekayaku seperti dia, aku yakin kalau aku memiliki harta banyak seperti Xavia, Kenard juga akan mencintaiku. Bahkan Kenard akan lebih sangat mencintaiku,” gumamnya. Kedua kakinya terus saja berjalan sambil mencari Xavia.
Pada saat terburu-buru ingin segera menemukan Xavia, tiba-tiba tertabrak seorang pria berbadan kekar dan keras. Celia menatap sinis pria itu.
“Kau adalah wanita yang tempo hari, bukan? Mau apa kau datang kemari dan siapa yang mengizinkanmu masuk rumah ini? Penjaga!” teriak pria bernama Alex itu.
“Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan kau mengganggu Nona Xavia!”.
“Tapi aku ingin bertemu dengannya! Biarkan aku masuk ke ruangannya!”
“Maaf tidak bisa, di sini bukan area sembarangan orang untuk menemui nona Xavia!” peringat Alex tegas memasang badan.
“Tapi aku mau masuk! Xavia, Xavia kau harus keluar temui aku!” teriak Celia.
“Diam kau!” cegah Alex.
“Xavia!”
“Xavia, begitu takutnya kau padaku, sampai kau menyuruh anak buahmu berjaga untuk menghadangku?!”
Suara Celia beberapa kali berteriak telah sampai pada telinga Xavia. Mendengar itu sama sekali tidak mengenakan. Langsung meninggalkan pekerjaannya lalu melihat Celia dari lantai atas.
“Alex, suruh dia naik ke atas sisi. Aku ingin bertemu dengannya!” pinta Xavia.
“Baik Nona Xavia!” balas Alex patuh kemudian melepaskan tangannya dari lengan Celia.
“Ingat, jangan membuat ulah saat bertemu dengan Nona Xavia. Atau aku yang akan memberi perhitunganmu sendiri.”
Celia melewati Alex kemudian naik ke tangga untuk menemui Xavia.
Begitu berhadapan dengan Xavia, Celia langsung mulai bersikap aneh kepadanya.
Xavia sangat tidak sabar melihat ekspresi Celia. “Lebih baik segera keluar, kalau tidak ada masalah serius yang ingin kau bicarakan,” ucapnya sinis.
“Xavia kau adalah pemimpin masa depan, sangat cocok untuk memimpin pernikahanku dengan Kenard. Maka dari itu, aku datang kemari karena ingin kau memilih hari pernikahan yang baik untuk kami berdua.”
Xavia mendongak memandang Celia.
Perempuan penyelamat Kenard itu tersenyum puas.
“Kamu tidak bisa menentukan pernikahan sendiri, dan perlu kehadiran Kenard untuk datang membahas bersama denganmu.”
Celia menatap sinis dia menggila.
“Apa kau tau, kenapa Kenard menolak membicarakan pernikahan denganku? Itu gara-gara kau, yang ikut campur dalam hubungan kami berdua,” ucap Celia.
Xavia pun memasang wajah tak acuh. Memilih tak peduli kemudian memanggil Alex untuk naik ke atas.
"Alex!"
Alex tergopoh gopoh langsung bejalan naik tangga menghampirinya.
"Mulai sekarang, lebih baik kau berhenti mendekati Kenard, dia adalah calon suamiku. Tidak ada satu pun orang yang bisa memiliknya kecuali aku, Xavia!"
"Alex, bawa dia pergi!" perintah Xavia.
"Baik Nona."