
Brak!!
"Masuk!"
Percuma Elliot memberontak, dia kini diperlakukan kasar oleh para anak buah Xavia. Dia didorong maju setelah masuk ke dalam ruang pertemuan hingga setengah badannya tersungkur di atas meja. Elliot memicing penuh dengan dendam menatap satu persatu orang yang bersikap demikian padanya.
"Beraninya kalian memperlakukan aku seperti ini! Setelah ini kalian pasti akan menyesal, dan menangis ampunan padaku," kesal Elliot.
Xavia masuk berdiri di belakangnya, dengan tatapan sengit, siap memberitakan hukuman pada sepupunya itu. Semua orang tertunduk di sana kecuali Elliot yang dengan terang-terangan menunjukkan tatapan menantang sebelum kemudian menyeringai seolah mengejek.
"Kalian pergi dari sini, temui para anggota pimpinan kelompok dan papa. Suruh mereka segera datang ke mari, ada hal penting yang harus mereka ketahui sekarang!" perintahnya.
"Tunggu sebentar, Nona. Saya akan memanggil mereka," ucap anak buahnya.
Xavia duduk berhadapan dengan Elliot bersebrangan meja dengan wajah yang serius dan tatapan dingin. Kedua tangannya sejak tadi tidak henti-hentinya mengepal.
Elliot tak penasaran, apa yang akan dilakukan olehnya.
"Apa kau pikir bisa mudah membuatku menurut, setelah diperlukan seperti ini?" tanya Elliot.
Namun Xavia justru duduk santai dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Tidak lama berselang, semua orang berkumpul, Elliot berhadapan dengan
semua orang dalam ruangan itu.
"Ada apa, secara tiba-tiba kau mengumpulkan kami di ruang pertemuan ini, Xavia?" tanya Dominic bingung.
"Sekarang berlututlah di hadapan semua orang! Beritahu apa saja yang sudah kau lakukan selama ini, Elliot!" bentak Xavia hingga menggebrak meja.
Dia ingin Elliot sendiri yang menceritakan pada para anggota, mengakui kalau dia seorang yang licik.
Tatapan semua orang tertuju pada Elliot, mereka menunggu momen yang diperintahkan Xavia.
Di samping kanan dan kiri Elliot dijaga oleh kedua anak buah Xavia. Bersiap melakukan apa pun pada Elliot seperti perintah Xavia.
Mendengar perintah Xavia, Elliot tak serta menuruti. Dia justru berdiri dengan angkuhnya sambil menggelengkan kepala.
"Kau siapa bisa menyuruhku seenaknya begitu? Aku tidak mau melakukan perintahmu!" tolaknya sombong.
"Berlutut!"
"Aku tidak mau!"
Xavia langsung berdiri menghampirinya, rahangnya mengetat saat kini dia berada di belakang Elliot. Dengan cepat menendang lutut bagian belakang hingga membuatnya berlutut di hadapannya.
"Apa kau pikir, aku akan diam saja dengan tidak patuhnya kau terhadapku!" tegasnya.
"Kau tidak bisa memaksaku begini! Sudah kubilang, aku tidak sudi menuruti perintah seorang wanita lemah sepertimu!" Elliot ingin memberontak, tapi secara cepat kedua anak buah yang berjaga menahannya dalam posisi berlutut.
Dia tak punya pilihan lain selain terdiam, sambil menyimpan kekesalan dalam dada.
Xavia sangat puas melihat sepupunya itu terlihat tidak berdaya di depan semua orang. Bibir tipis berwarna merah muda itu menyeringai.
"Lebih baik kalian hentikan ini, sudah cukup."
Dalam ruangan itu ada satu anggota kelompok yang bernama Han. Dia memiliki hubungan baik dengan Elliot semua orang tau itu. Pria itu berdecak kemudian beranjak berdiri dari tempa duduknya, tidak tahan
melihat semua ini.
Teman Elliot itu tampak kebingungan dengan kejadian di hadapan sekarang.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Nona Xavia? Kenapa kau melakukan hal ini pada Elliot? Dia adalah sepupumu satu-satunya di sini, orang yang memiliki hubungan paling dekat dengan keluargamu. Setidaknya kau tidak memperlakukan dia seperti ini, dan apakah masalah tidak bisa berbicara baik-baik daripada merendahkan orang seperti
ini?" tanya Han. Di antara anggota penting lainnya, hanya dialah yang membela Elliot.
"Apa kalian semua ingin tahu, kejahatan apa yang sudah dia lakukan, sehingga aku tega memperlakukan ini padanya?" tanya Xavia.
Semua orang tampak tidak keberatan jika mendengar berita dari Xavia. Mereka mengangguk menyetujui.
"Katakan saja, Nona Xavia. Hal apa yang telah dia lakukan, sehingga memancing kemarahanmu seperti ini?"
Tatapan Xavia menyipit melihat Elliot. "Elliot, bagaimana menurutmu, seharusnya kau yang menceritakan pada mereka atau aku yang mengatakan?" tanyanya menekan.
"Kau gila, ingin aku menceritakan apa pada mereka?" tolak Elliot.
Mereka semua semakin penasaran dengan mendengarkan perdebatan antara kedua sepupu itu.
"Baiklah kalau kau tidak ingin menceritakan pada mereka. Biarkan aku saja, sampai di sini sudah bisa dinilai orang macam seperti apa kau ini sebenarnya, tidak lebih dari seorang pengecut, licik dan penghianat!" desis Xavia tepat di hadapannya.
Xavia tak memperdulikannya dan mengeluarkan bukti pengkhianatan
Elliot kepada anggota lain. Mereka menatap serius satu persatu bukti yang dia berikan.
Para anggota tersebut melebarkan mata, mereka terkejut melihat bukti tersebut.
"Saya tidak pernah menyangka, kalau kau bisa berbuat seperti ini, Elliot! Pantas saja selama ini kau tidak menyukai Kenard, ternyata kau menyusun rencana dengan matang, untuk menghancurkannya. Bahkan sampai sekarang dia tidak kembali ke kota ini, itu semua karena kau yang salah!" ucap Han, seolah kehabisan kata-kata berbicara pada teman yang sudah dia bela ini.
Yang diketahui selama ini memang Elliot merasa tidak menyukai Kenard. Dia merasa iri dengan pencapaian yang didapat Kenard untuk kelompok mereka. Tapi tidak ada yang menyangka kalau Elliot bisa berubah
pernah terpikirkan bahwa sepupu dapat melakukan tindakan seperti ini.
"Itulah wajah dia yang sebenarnya. Lama-lama kebenaran terkuak, dia ini bahkan memberikan bocoran rencana kita pada musuh. Perbuatan yang dia lakukan tidak bisa tolerir." Dari tadi Xavia sudah tidak sabar untuk memberi pelajaran.
Brak!!
Setelah melihat bukti tersebut, Dominic dengan keras memukul meja hingga membuat senyap orang di ruangan itu.
Tangannya mengepal erat menggenggam kertas yang diberi Xavia berisi bukti-bukti. Saat tepat di hadapan dia langsung melempar gumpalan kertas ke dalam wajah Elliot. Dia tak kalah menakutkan dari pada Xavia.
"Apakah masih ada rahasia yang kau tutupi dari kami yang belum kau katakan?"
mendekat mencengkram dagu keponakan penuh dengan marah.
"Katakan padaku, apakah kau masih menyembunyikan sesuatu yang kami tidak ketahui?! Ayo bicara jangan jadi pecundang!"
Xavia melihat Elliot tidak sabar ingin menendangnya. "Orang sepertinya tidak akan mengakui kesalahannya dengan mudah, Papa, sepertinya dia harus sedikit diberi paksaan untuk mengatakan pada kita sebenarnya!"
Dia ingin maju, tapi Dominic lebih dulu mengangkat kedua tangan untuk menahan.
Xavia kesal sebab tak bisa menyentuh Elliot. Dia melirik malas kemudian melangkahkan mundur.
"Biarkan papa yang membuat dia bicara, Xavia," ucap Dominic. "Elliot, aku memberikanmu kesempatan sekali lagi kali ini, untuk supaya kau mengatakan apa yang kau lakukan dengan kelompok musuh. Dan tentang Kenard, apakah kau sebenarnya mengetahui keberadaannya sekarang?" cercanya.
"KATAKAN Elliot!" teriak Dominic. Siapa yang mendengar pasti merinding bulu kuduk.