Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Ke Kampung Nelayan


Kenard baru bersiap mengenakan jaket hitam berlogo kebanggaan Black Horses. Dia akan meninggalkan halaman rumah keluarga Linn. Menggunakan motor besar miliknya yang sebelumnya diberikan Xavia.


Xavia Linn berdiri di sampingnya segera menemui beberapa anak buahnya yang sedang duduk di atas motor mereka masing-masing baru saja tiba. Dengan sorot mata tajam mendominasi dia mengeluarkan suara bernada perintah.


"Beberapa dari kalian, pergilah ikuti Kenard sampai ke depan rumah, pastikan kalau dia aman!"


Seketika mereka menoleh ketika mendengar nama Kenard disebut. Ekspresi mereka bahkan seolah tidak percaya melihat pria yang kini berdiri berpenampilan sederhana dengan kaos dan celana jeans, kulitnya berubah sedikit gelap. Hampir membuat mereka tak mengenali jika melihat sekilas.


"Kenard?" tanya Billy terkejut seketika turun dari motornya. Menghampiri melihat dari atas sampai bawah seolah tak yakin.


"Kau kau itu? Ketua pertarungan kami?" tanyanya sekali lagi.


Semua anggota yang ada di sana, melihatnya pun turut tersenyum bahagia. Ikut berdiri mengerumuni Kenard, seperti sedang melihat aktris idola di hadapan mereka.


"Setelah dua tahun lamanya, kau menghilang tanpa kabar. Bahkan tak pernah sekali pun menunjukkan wajah di depan umum. Kau sangat keterlaluan, membiarkan kami terus mencari mu, Kenard." Billy menggeleng sambil terkekeh menepuk satu pundak Kenard.


Kenard tersenyum paksa, dia tampak kebingungan dengan mereka semua yang tergolong banyak.


"Jelaskan pada kami, sebenarnya ... ke mana saja kau selama ini? Kau menghilang seperti masuk ke dalam batu."


Kenard menggaruk belakang kepala, kebingungan tak tau harus menjawab apa. Sebab ingatannya belum sepenuhnya pulih.


Kenard tampak aneh di depan semua orang. Mereka menatapnya seolah kebingungan dengan sikap yang ditunjukkan.


Xavia berdehem meredam kebisingan di antara mereka. "Sebaiknya kalian jangan bertanya banyak hal untuk saat ini. Sebab Kenard sedang dalam kondisi ingatan yang belum stabil."


"Apa maksudnya, Nona?" tanya Billy mewakili pertanyaan taman-tamannya.


"Ya, Kenard sedang mengalami amnesia, dia tidak mengenal dirinya siapa untuk saat ini. Tapi ... untung saja aku bertemu dengannya, tidak bisa dibayangkan jika dia ditemukan oleh geng para musuh lebih dulu sebelum kita."


Mereka manggut-manggut paham. Billy mendekat pada Kenard, memegang pundak menatapnya prihatin. Begitu juga dengan anggota lainnya.


"Aku turut sedih dengan kejadian yang menimpa dirimu, Kenard. Sekarang syukurlah, kau kembali dengan keadaan baik-baik saja. Kita bisa kembali menjadi tim solid mengalahkan musuh-musuh yang berani!"


Satu tangan Billy mengadah ke atas menunggu tangan Kenard di atasnya.


Kenard melihat ketulusan di mata mereka. Dia dengan cepat meletakkan tangan di atas tangan Billy, disusul oleh para anggota lainnya.


"Setuju!"


Mereka saling merangkul satu sama lain. Kenard menitikkan air mata melihat momen ini. Meskipun dia tidak mengingat apapun, dia merasa sangat bahagia di hatinya.


"Sekarang bersiap-siaplah. Kawal Kenard pergi ke kampung nelayan, sampai dia kembali lagi ke sini!" perintah Xavia.


"Siap Nona Boss!" ucap salah satu anak buah langsung mensetater motor diikuti tiga orang lainnya di belakang.


Xavia menatap Kenard sambil tersenyum. "Kau selesaikan semuanya di sana, jangan lupa kembali," ucapnya.


"Sudah pasti," ucap Kenard. Menghidupkan masin motor, menutup kepalanya dengan helm.


Xavia berdiri di depan halaman rumah menunggu sampai mereka pergi satu persatu. Dia tidak sabar menunggu kedatangan Kanard.


***


Deru suara motor memenuhi depan rumah sederhana, milik Celia. Begitu mendengar keramaian sang pemilik rumah pun keluar melihat keadaan.


Dia penasaran sekaligus curiga. Sebab biasanya tidak pernah ada motor seramai ini.


Dia menatap waspada sebab mereka berpenampilan seperti orang jahat. Celia semakin memperjelas, sambil ketakutan memberanikan diri keluar dari rumah.


Matanya membelalak saat ternyata ada Kenard di antara mereka. Sontak membuatnya bertanya tanya dalam benak melihat Kenard berjalan di hadapannya.


Celia menghentikan langkah Kenard mau masuk ke dalam rumah. "Ken, siapa mereka? Kenapa kau bisa bersama mereka? Apa kau membuat kesalahan?" tanyanya ketakutan.


Seorang pria yang selama ini bertetangga dengan mereka, turut keluar penasaran dengan apa yang terjadi.


Begitu pula dengan warga lainnya, mereka keluar untuk menonton dan bergosip dengan asumsi masing-masing.


"Celia, kedatanganku kemari ialah, untuk menyelesaikan semua. Apa kau tahu? Setelah pergi ke kota, akhirnya aku menemukan identitasku sebenarnya. Siapa diriku, apa pekerjaanku, dan di mana tempat tinggalku."


Celia menegang, dia memaksa kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. "Benarkah? Lalu, bagaimana?" tanyanya berat.


"Ya, Celia. Dan aku datang ke sini ingin mengambil barang-barangku, dan memberitahumu. Setelah ini aku akan kembali lagi ke sana."


Celia menggeleng seketika. "Kembali katamu?"


"Iya, aku akan kembali ke tempatku yang sebenarnya." Kenard begitu antusias ingin segera kembali ke kota.


Para anggota melihat mereka masih di atas motor.


Celia tetap menggeleng menolak. Matanya memerah, melihat Kenard di hadapan. "Lalu, bagaimana dengan aku, Kenard? kau ingin meninggalkan aku sendirian di sini?!"


Kenard menghela napas berat, dia bingung harus mengatakan apa lagi pada perempuan ini.


"Begitu banyak hal yang kita lalui selama dua tahun ini, Ken. Bahkan kau ingin menikahiku, bukan? Tapi kenapa sekarang harus pergi. Tidak, aku tidak terima ini!"


"Tapi inilah hidupku yang sebenarnya, Celia."


Celia memegang kedua tangan Kenard, dengan wajah memelas penuh permemohonan.


"Ken, aku mohon, tetap tinggallah di sini bersamaku, jangan tinggalkan aku sendirian, Ken."


Kenard kembali diam di hadapan Celia. Dia tampak kasihan dengan perempuan ini.


Para anggota geng yang datang bersama Kenard tampak tidak sabar. Billy turun dari motor mendekati mereka. Dengan wajah yang tegas dan dingin dia langsung melepaskan tangan Celia dari tangan Kenard.


Hal itu membuat Celia terkejut sekaligus takut.


Semua orang tahu bahwa Kenard menyukai Xavia selama ini, tentu


saja dia tidak suka degan wanita ini.


"Sebaiknya kau beri jalan, biar Kenard masuk dan mengambil barangnya. Kau menjauhlah darinya," ucap Billy.


Celia masih menatap Kenard, dia berharap lelaki ini mengurungkan niatnya. "Kau tidak akan benar-benar pergi, bukan, Ken?" tanyanya sekali lagi.


Billy dan para anggota yang lainnya berdiri di samping Celia. Mencegah supaya tidak mendekat.


"Jangan halangi dia untuk pergi. Karena di sini bukan tempat yang sebenarnya. Di kotalah tempat dia! Kau sebaiknya pergi menjauh darinya!" peringat Billy dengan nada mengancam.


para warga yang melihat pun saling menatap satu sama lain. Mereka ada yang berbicara berbisik.