Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Memendam Perasaan


~BAB 18~


Pagi hari, sebelum mengadakan pembahasan dalam pertemuan para anggota. Dominic meminta Kenard sarapan bersama. Ada Jack dan Xavia juga di sana sedang makan dengan elegan bak tuan putri, diam-diam mencuri perhatian ketika lelaki itu datang.


Dominic berada di kursi paling ujung. Kenard dan Xavia dalam posisi yang saling berhadapan berseberangan meja. Keduanya tampak canggung saling mengalihkan pandangan masing-masing tak berani menatap.


“Kau pasti bangga karena Kenard telah memenangkan pertarungan semalam, Xavia. Kau tidak salah memilih orang,” ucap Dominic. Memecah keheningan di antara mereka.


Xavia bingung harus mengatakan apa, dia hanya menatap Kenard sekilas sambil tersenyum malu. Begitu pula sebaliknya.


“Aku memilihnya karena melihat dia selalu berlatih keras, Papa. Dibandingkan dengan yang lain, Kenard yang paling menonjol,” balas Xavia setelah lama mencari-cari jawaban.


“Aku berlatih juga karena dukungan darimu, Xavia.” Kenard menyambung membuat bibir Xavia bergerak gerak tapi tak bicara.


“Tapi ngomong-ngomong, apa kau sudah memberikan hadiah pada Kenard, papa rasa kau perlu mengapresiasi kemenangannya, walau sekecil apa pun.”


Xavia dan Kenard terlihat sama-sama gugup, pipi keduanya bersemu merah saat Dominic membahas soal hadiah.


“Hem aku sudah-“


“Tidak perlu, Tuan Dom.”


Dominic bingung saat keduanya bicara bersamaan. Terlebih lagi kini mereka sama-sama canggung.


“Baiklah begitu, kalian lanjutkan saja makannya, aku ada urusan sebentar.” Dominic pergi meninggalkan meja makan lebih dulu.


Mereka semua telah menyelesaikan sarapannya.


Xavia pergi ke area latihan, dia memegang pisau lalu melemparkannya mengenai papan sasaran. Perempuan itu tersenyum puas.


“Bagus, Xavia. Harus ditingkatkan lagi,” ucap Kenard saat lewat di sampingnya.


Xavia menoleh sambil tersenyum tanpa menjawab, Kenard berjalan melewatinya begitu saja.


Jack Hudson yang sedang berdiri di samping Xavia menyipitkan mata, melirik pada gadis itu, Dia telah menganggap dirinya sebagai calon tunangan Xavia.


Setelah melihat sikap canggung di antara Xavia dan Kenard yang terlihat jelas di depan matanya, membuat rasa penasaran bergejolak dan hatinya tidak nyaman.


Jack mengalihkan topik pembicaraan mereka sebelumnya.


“Jadi begini, Xavia. Ayahmu dan ayahku sudah berencana untuk menikahkan kita berdua. Mereka menganggap kalau kita berdua sudah sama-sama cocok. Menurutku itu adalah rencana yang bagus, aku sangat setuju,” ucapnya tiba-tiba membahas pernikahan.


Xavia menoleh, telinga seperti berdengung seketika saat mendengar pembahasan Jack. Dia menggeleng tanpa ragu.


“Aku tidak mau.” Tiga patah kata mampu membuat Jack terperangah.


“Kau menolak menikah denganku? Apa alasannya?” tanya Jack Anak bawahan itu bertanya. Ucapan Xavia baru saja menyakiti dirinya.


Xavia menggeleng lagi menatap mata Jack dengan berani. “Karana, sekarang menikah belum ada dalam pikiranku. Rencana itu belum ada sama sekali. Percayalah, ada masih banyak tujuan yang ingin aku raih, dan aku ingin pernikahan mengganggu.” Dia menjawab dengan tegas dan lugas, tapi sama sekali tidak mengurangi senyuman di wajah.


Tanpa Xavia ketahui rahang Jack mengetat. Kedua tangannya pun mengepal wajahnya berubah sedikit lebih merah. Jack menahan amarah di depan Xavia, supaya tidak berapi-api dan membuat perempuan itu tidak menyukai.


Setelah berhasil membuat emosinya sedikit mereda. Dia bertanya,


“Lalu, bagaimana hubungan antara kau dan Kenard? Jika orang yang berada di posisiku itu adalah dia, apakah kau juga akan menjawab seperti yang kau katakan tadi?” tanyanya.


Xavia menoleh mengernyitkan dahi. Dia rasa Jack sudah terlalu jauh mencampuri urusannya, membuat kesal.


“Baiklah, kalau kau ingin seperti itu.”


“Iya, memang seharusnya begitu.”


“Mulai sekarang aku tidak akan mengurusimu lagi, karena aku mengundurkan diri!” Jack dengan mata memerah memancarkan kilatan kemarahan dia berjalan meninggalkan Xavia begitu saja. Dia tak minat lagi menjadi pengawal perempuan itu.


Xavia bergegas menemui Dominic yang kebetulan baru saja selesai menutup telepon dengan seseorang.


“Papa, baru saja Jack membahas soal pernikahan denganku. Kukira dia tidak akan membahasnya secepat ini, tapi ternyata dia mengatakan kalau kau juga sepakat dengan pernikahan kami,” jelas Xavia secara langsung.


“Memangnya apa apa yang terjadi, apakah kau menerima ajakannya?”


“Aku menolaknya.”


Dominic yang meletakkan handphone ke atas meja itu tiba-tiba menaikkan pandangan.


“Memangnya kenapa kau menolaknya?


Bahkan dia adalah lelaki yang baik.” Di mata Dominic Jack adalah seorang pemuda yang sangat baik, dia sabar dan terlihat mencintai putrinya.


“Karena saat ini, aku tidak berencana menikah, Papa!” jawab Xavia tegas.


“Oh, begitu rupanya.” Dominic duduk dengan kedua kaki saling bertumpu itu mengangguk paham.


Dominic memahami situasi hati putrinya, Xavia pernah mengalami masa sulit dulu dan membuatnya cukup sulit bangkit dari kesedihannya.


Dia tahu pasti bahwa putrinya itu telah bertemu dengan seseorang pria yang telah mengubahnya.


“Xavia, siapa pria yang telah membuat hidupmu bersemangat setiap hari?” tanya Dominic.


Xavia seketika teringat kejadian kemarin saat dia mengecup pipi Kenard. Sentuhan kulit lelaki itu yang dingin dan sedikit kasar bekas jambangnya dicukur, seperti masih terasa.


Tanpa sadar, pipinya memerah mengingat kejadian itu. Kemudian saat menyadari sang papa memperhatikan, dia segera menggelengkan kepala, berpura-pura mengeluh.


“Tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku sangat haus, lebih baik sekarang aku segera mengambil minum, sebelum terkena dehidrasi.”


Wajahnya berlindung di bawah rambut yang terurai, ia meninggalkan Dominic sendiri di sofa. Sebegitu terburu-buru nya bahkan satu kakinya menendang kaki meja hingga membuatnya hampir terjatuh.


“Kau tidak apa-apa, Xavia?” tanya Dominic khawatir.


“Aku tidak apa, tenang saja, Papa. Ya, aku tidak apa-apa.” Tanpa menoleh Xavia langsung pergi.


Dominic menggeleng tidak habis pikir dengan tingkah putri semata wayangnya itu. Dia tahu bahwa putrinya telah jatuh cinta pada seseorang pria selain Jack. Hanya saja Xavia memilih menyembunyikan hal itu dari pada berterus terang.


Namun, setidaknya Dominic merasa senang karena jika itu terjadi, Xavia kini akan terbebas dari kenangan menyakitkan yang pernah dia jalani. Dia berhak mendapatkan kebahagiaan.


Di sisi lain juga, Dominic juga merasa cemas karena dia tahu, suatu hari nanti putrinya akan meninggalkannya setelah menikah nanti.


Dia menoleh ke samping, mengambil foto dalam bingkai yang selalu diletakkan di meja kecil samping sofa. Foto istrinya berpose duduk menggunakan gaun berwarna putih terlihat anggun. Dia sangat mirip dengan Xavia, hanya alisnya saja yang tidak.


Dengan lembut dan Penuh kasih, Dominic membelai foto istrinya yang berada di tangannya. “Seandainya kau ada di sini sekarang, pasti semua terasa lebih berbeda,” ucap Dominic pelan.


Sambil terus mengusap bingkai kaca, seolah-olah sedang mengusap pipi istrinya.