
Xavia dan Kenard berjalan beriringan memasuki area mansion. Mereka baru saja dari pabrik sebab telah terjadi masalah. Bagian pengamanan telah menangkap seorang penyusup yang hampir saja membakar gudang.
Untung saja, masalah telah diselesaikan secara tepat. Hingga para pegawai bisa kembali memproduksi produk.
Seiring berjalannya waktu, Kenard dan Xavia sering bersama, pelan-pelan hubungan di antara keduanya bertambah baik. Seperti dua tahun lalu, mereka sering bertukar pikiran untuk mengambil langkah ke depannya.
"Wilayah barat hampir saja dikuasai kelompok musuh. Untung saja kita bergerak cepat, bisa mengatasi anak buah mereka, bahkan orang kita berhasil menggagalkan anak buah mereka yang mencoba-coba menyusup." Kenard berjalan beriringan di samping Xavia.
"Tidak tahu kenapa, Kenard. Semenjak ada kamu, aku merasa lebih mudah melakukan hal apa pun," ucap Xavia.
Membuat Kenard diam-diam tersenyum. Di halaman mansion itu mereka saling melempar senyum.
Dominic dan Shane yang berjaga di belakangnya, sama-sama melihat mereka ikut tersenyum. Seolah merasakan kebahagiaan yang dirasa Xavia.
***
Di luar pagar Celia celingukan melihat rumah besar dikelilingi pagar tinggi berwarna hitam. Dia mencocokkan alamat di tangannya dengan alamat yang tertera di depan.
"Berarti benar, ini adalah rumahnya. Pasti Ken sedang ada di dalam sekarang, aku harus bertemu dengannya." Celia langsung bergegas memasukkan alamat ke dalam tas coklat di tangannya.
Langsung saja mendorong pagar besi itu sambil melangkah hati-hati, akan berjalan masuk. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Kenard. Pria yang telah dia klaim hanya miliknya harus kembali ke desa nelayan hidup bahagia bersamanya.
Kebetulan pagar tidak digembok, dia melihat sekelompok orang sedang duduk di kursi halaman sambil minum. Mereka seketika memasang tatapan curiga ke arahnya.
"Permisi, aku sedang mencari Ken, atau pria yang kalian kenal sebagai Kenard. Bisakah kalian membawaku menemuinya sekarang?" tanya Celia.
"Siapa kau? Datang langsung memerintah kami?!" bentak salah satu anggota geng.
"Aku Celia, kedatanganku kemari ingin bertemu dengan Kenard. Pria yang kucintai," balas Celia meninggikan nada suaranya.
Mereka sama sekali tak bersikap sopan padanya. Maka Celia akan bersikap sama.
"Kalau kalian tidak ingin mengantarkan aku padanya, baiklah. Tak apa, aku akan mencarinya sendiri ke dalam!" Celia dengan berani melangkah cepat ke pintu. Dia akan masuk ke dalam.
Namun, melewati segerombolan anggota black horses tidaklah mudah. Satu orang maju merentangkan satu tangan menghalangi tubuh Celia.
"Berhenti! Jangan asal masuk begitu saja! Apa kau pikir di sini adalah rumah ibumu?"
"Tidak peduli, mau rumah ini milik siapa pun! Tujuanku kemari hanya ingin bertemu Ken!" bentak Celia. Tak suka ada orang menghalangi langkahnya.
"Sekarang kalian minggir, biarkan aku masuk ke dalam! Ken pasti di dalam! Ken ... keluarlah, KEN! Aku datang mencarimu!"
"Bisa diam? Kau sudah membuat keributan di rumah ketua kami!" bentak pria berambut gondrong kesal.
"Kalau aku tidak mau? Kau mau apa?! Biarkan aku masuk!" Celia mendesakkan tubuhnya melewati pria bertubuh besar ini.
Namun, dia selalu gagal menerobos. Membuat benaknya semakin kesal. Celia menggunakan tenaganya untuk melawan pria itu.
Dia menantang mereka mengajak berkelahi.
Namun, para pria itu justru melihatnya saja. Tidak menghiraukan tantangan Celia. Itu semua karena anggota geng tidak ingin melukai wanita.
Mendengar keributan, Xavia berjalan keluar untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Dia Melihat Celia sedang bersitegang dengan anggotanya.
Xavia mendekati mereka kebingungan. Sedangkan para anak buahnya menundukkan pandangan saat melihat kedatangan dirinya.
"Ada hal apa, sampai terjadi keributan seperti ini? Kau? Kau perempuan yang selama ini menyelamatkan Kenard, bukan?" tanyanya.
Celia menyentak tangannya dari cengkraman para anak buah Xavia. Setelah terlepas dia langsung menghampiri Xavia.
"Ya! Kau benar, aku adalah perempuan yang selama ini menyelamatkan Kenard."
Xavia mengerutkan alis melihat Celia yang sedang berapi-api itu, dari atas sampai bawah.
"Benar, Kenard memang berada di sini, tapi ... untuk saat ini dia tidak bisa diganggu karena dia sangat sibuk."
Celia menggeleng tak percaya dengan ucapan Xavia.
"John, ambilkan tasku!" perintah Xavia.
Anak buahnya masuk ke dalam tak lama keluar membawa tas miliknya.
Xavia mengeluarkan lembaran kertas lalu menandatangani. Mengambil satu lembar terdapat nominal berjumlah uang sebesar satu milyar lalu memberikan pada Celia.
"Ini ada sejumlah uang, kau bisa menggunakannya sesuka hatimu. Anggaplah ini sebagai bayaran sudah menyelamatkan Kenard. Aku akan menambahnya lagi, kalau memang itu kurang," ucapnya.
Celia langsung menggeleng tidak mau mengambil cek yang diberikan Xavia. Dia memajukan kedua tangan mendorong tangan perempuan di hadapannya kembali ke arahnya sendiri.
"Aku tak bisa menerima ini. Maaf, karena tujuanku menyelamatkan Kenard dan merawatnya bukan karena menginginkan uang. Dan kedatanganku kemari hanya ingin bertemu dengannya saja."
Xavia menghela napas seiring memalingkan muka kesal. Masih memegang cek di tangannya, dia melihat Celia.
Anak buahnya yang mendengar ucapannya ikut menyeringai sinis.
"Tolong, aku mohon, biarkan Kenard dan aku saling bertemu," rengek Celia memelas.
"Jo, naiklah ke lantai atas. Temui Kenard, minta dia datang ke kemari!" perintah Xavia.
Berdiri sambil melipat tangan di depan dada. Xavia terus saja memperhatikan Celia. Sebenarnya dia tidak menyukai kedatangan perempuan ini. Sebab sejak awal pertemuan mereka, dia sudah bersikap kurang baik padanya.
Celia sudah cemburu, bahkan jauh sebelum dia tahu kalau Kenard adalah bagian dari black horses.
Derap sepatu menggema semakin mendekat ke luar. Kenard diikuti anak buah menemui Xavia sambil tersenyum. Namun, senyuman di bibirnya berangsur menghilang saat dia melihat Celia berdiri di hadapannya.
Kenard kaget sebab di luar dugaan. Celia pergi ke kota menemuinya. Celia ini benar-benar nekat.
Melihat Kenard seketika Celia menangis berlari menghampirinya.
Xavia yang melihat pemandangan di hadapannya, hatinya terasa panas. Dia bahkan tak sanggup melihat mereka lebih lama.
Kenard mengerutkan alis menggenggam lengan Celia. Dia tidak suka dengan situasi saat ini. Terlebih lagi, melihat Xavia yang memalingkan muka tidak suka.
"Ken, aku ingin menjemput mu, kita pulang ya? Rumah sangat sepi saat setelah kau pergi, ayo kita kembali ke desa nelayan?"
"Celia, aku tak akan kemana mana, di sini adalah tempatku. Lebih baik kau kembali pulang, karena keberadaan mu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa. Pulanglah." Kenard memerintah dengan tegas.
"Kau mengusirku, Kenard?"
"Iya, karena di sini bukanlah tempatmu, Celia."
Celia memandang Kenard
tak percaya, lalu berbalik badan menggertakkan gigi memandang Xavia tajam penuh dendam.
"Semua ini gara-gara kau! Kalau kau tidak datang ke dalam kehidupan kami, pasti kami hidup bahagia sekarang! Kau memang perempuan penggoda!" pekik Celia sambil berkata satu tangan ingin memukul
Xavia.
Kenard mendorong Celia hingga tersingkir dari hadapan Xavia. "Lebih baik kau tidak bertingkah sembarangan. Jangan pernah salahkan Xavia, karena dia tidak bersalah."
Celia sangat kecewa pada Kenard, rasa sukanya pun berubah menjadi rasa benci mendapatkan perlakuan seperti ini.