
Setelah tiga puluh menit berada di dalam satu ruang, akhirnya pertemuan mereka telah berakhir tanpa kegembiraan. Xavia tetap berwajah dingin tak tertarik sedikit pun oleh pembicaraan Richard.
“Terima kasih atas waktunya, kuharap di lain kesempatan kita akan dipertemukan lagi, Xavia,” ucap Richard mengantarkan Xavia sampai ke depan pintu.
Xavia berjalan tergesa-gesa ingin segera menjauh dari tempat itu.
“Jangan mengharap sesuatu yang belum tentu terjadi, nanti kau akan kecewa, jika tidak sesuai keinginanmu, Richard.” Setelah berucap, Xavia pamit undur diri, dikawal oleh empat orang anak buahnya meninggalkan tempat Richard.
"Kau sangat menarik, Xavia. Akan ku pastikan pertemuan kita pasti akan terulang," gumam Richard sambil menyeringai.
Richard meratapi keberadaan Xavia di dalam ruangan sebelumnya, Perempuan itu sama sekali tidak berlaku baik padannya, justru selalu mencoba-coba menarik kesabarannya. Dia merasa tidak mendapatkan hasil yang diinginkan di dalam pertemuan tadi.
Namun meski pun begitu, semakin membuatnya penasaran dengan sikap Xavia. Dia kini duduk diam dengan wajah muram. Kedua kaki saling bertumpu, satu tangan memegang gelas berisi anggur setengahnya, mengguncang-guncang pelan setelag menyesapnya.
“Sikapmu yang tidak mudah tergoda olehku, membuatku terpacu untuk mendekatimu, Xavia.”
Tiba-tiba, pikiran terlintas di kepalanya, dia tersenyum dengan nada bermain-main setelah menemukan cara. Memanggil anak buah kepercayaan untuk menghadapanya.
“Ada apa Anda memanggilku, Tuan?” tanyanya.
“Apa kau mengenal Dominic, ayah dari Perempuan yang tadi datang ke mari?” tanya Richard.
Anak buahnya mengangguk. “Siapa yang tidak mengenal dia, Tuan? Dari semenjak usia muda telah menjadi ketua geng black horses membuat Namanya disegani, dan namannya yang memenangkan banyak pertarungan santer menjadi pemberitaan di setiap geng di negara ini.”
Richard manggut-manggut paham. Pantas saja jika Dominic memiliki seorang putri seperti Xavia, mengingat Dominic adalah orang yang keras. Semua ini pasti tidak terlepas dari didikkan dan ajarannya. Dia menjadi semakin tertarik untuk mengenal keluarga mereka lebih dekat.
“Jika boleh bertannya, ada apa sebenarnya, tiba-tiba Anda menanyakan tentang keluarga Dominic, Tuan Richard?”
“Leo, kuingin supaya kau supaya merencanakan pertemuan antara aku dengan Dominic. Susun waktu dan rencanakan sebaik mungkin, supaya tidak ada kekacauan nantinya,” pinta Richard. Menyesap anggur dari dalam gelas sambil melihat pemandangan seperti yang dia lakukan sebelum-sebelumnya.
"Baik Tuan, saya akan mengatur pertemuan antara kau dan Dominic. Akan ku pastikan supaya dia tidak menolak tawaranmu."
***
Berada duduk di dalam mobil melaju sedang, Xavia kini menggosok pelipisnya sendiri karena merasa pusing. Perang geng Black Horses dan persaingan bisnis telah membuatnya lelah secara fisik juga mental selama hampir sepekan ini.
Ia menghela napas dalam, untuk menenangkan pikirannya sendiri, yang Tengah carut marut memikirkan banyak hal. Sebagai ketua, segala urusan tentunya atas tanggung jawabnya penuh.
Netra jernih bermanik coklat merayap ke luar jendela mobil dan tiba-tiba melihat seseorang yang sangat mirip dengan Kenard. Dia tiba-tiba duduk tegak, pandanganya lurus pada pengendara motor berdua dengan seorang Perempuan.
“Berhenti, Pak!” Dia memerintahkan sopir untuk berhenti tepat di pertengahan jalan.
Dia membuka pintu mobil tergesa gesa berlari menuju di mana Kenard berada.
Rasanya tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dengan gemetar dia menyebut nama Kenard.
“Kenard!” Dia mencoba untuk memastikan.
Kenard melihatnya dengan bingung, sebab merasa tiba-tiba Perempuan ini memanggilnya. Namun, meskipun dia tidak mengenal wanita ini, ada sesuatu dalam dirinya yang bergetar, seolah-olah memanggil untuk memeluknya.
“Kenard, ini adalah kau, bukan? Kenard, aku tidak percaya ini!” seru Xavia sambil tersenyum di hadapan.
Kenard meremas ruas jari-jarinya sendiri, seolah-olah ingin bergerak sendiri menghampiri Perempuan di hadapannya itu. Seperti merasakan sebuah magnet menariknya, satu tangan Kenard terangkat untuk memeluk Xavia.
Dia memandang tidak suka pada Perempuan yang baru saja dia temui itu sengit kemudian bertanya,
“Apa kau ingin membeli sesuatu di sini?”
Xavia menatap Kenard dengan penuh kebingungan dan tampak kekecewaan bertanya, “Apa kau tidak mengenaliku, Kenard? Kau pasti mengingatku siapa, bukan?”
Kenard memberi reaksi di luar keinginanya. Dia menggelengkan kepala dengan tidak mengerti.
"Aku sama sekali tidak mengenalmu, Nona. Kau siapa? Maaf, tidak ingat," balas Kenard membuat Xavia kecewa.
Celia menelisik penampilan Xavia dari atas sampai bawah seperti akan menilai.
Penampilan Xavia kini memang
tampak dari kalangan atas.
"Kau sepertinya bukan orang biasa. Bagaimana kalau lebih baik membeli dagangan kami sebelum pergi ?" tawarnya.
"Ya, dia benar, alangkah baiknya jika kau membeli dagangan kami, bisa dipastikan kalau kualitas sangat terjamin segar," timpal Kenard.
Xavia merasa
hancur dengan sikap Kenard padanya. Dia tidak menyangka akan dipertemukan dalam keadaan seperti sekarang. Kenard sama sekali tak mengenalinya.
Bahkan Kenard menganggapnya adalah pelanggan empuk yang akan membeli dagangannya. Xavia menghela napas kemudian kembali ke mobil.
"Kalian, beli semua dagangan mereka tak tersisa!" perintahnya.
Anak buahnya langsung turun ke lokasi Kenard berjualan. Membeli semua dagangan mereka, hingga mendapatkan satu box besar berwarna putih.
Kenard dan Celia tersenyum senang, sebab dagangan mereka habis dalam waktu sebentar. Biasanya mereka bisa menghabiskan waktu setengah hari di tempat ini. Tapi kali ini hanya butuh satu jam ikan-ikannya bersih tak tersisa.
Berganti menjadi lembaran uang kertas di tangan. Celia menghitung uang satu persatu penuh semangat. Sedangkan Kenard berada di samping menemani.
"Jika kemarin hasilnya memuaskan, hari ini lebih memuaskan lagi, Kenard! Aku tak menyangka, kalau orang itu mau membeli dagangan kita, sampai tak tersisa."
Kenard tersenyum sambil melihat Xavia yang duduk di dalam mobil.
"Sudah beres, sekarang ayo kita pulang!" ajak Celia. Mereka mengucapkan terima pada Xavia kemudian akan pergi.
Saat keduanya akan melangkah, Xavia memanggil Kenard. "Tunggu!" cegahnya.
"Ada apa lagi, Nona? Apa ada salah?" tanya lelaki itu.
Xavia menggeleng. "Tidak ada. Begini, aku melihat ikan-ikan yang kau jual sangat segar, di lain waktu aku pasti kembali untuk membelinya lagi. Tapi bagaimana jika aku lupa, tempat ini, atau kalian pindah ke tempat lainnya? Jadi begini saja, sekarang aku meminta nomor teleponmu saja, agar nantinya bisa makanan laut lagi darimu."
Kenard melihat Celia sebelum menjawab. Hingga kemudian perempuan itu mengangguk mengizinkan. Barulah dia memberikan nomor telepon pada Xavia.
"Kenzie namaku, dan dia adalah Celia, jika kau ingin membeli jumlah banyak, hubungi saja nomor itu," ucap Kenard.
Xavia tersenyum terpaksa melihat Kenard yang begitu akrab dengan perempuan lain. Dia diam-diam memperhatikan walau tidak dipedulikan.