Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Kabar Buruk Datang


~BAB 20~


Xavia sama sekali tidak menolak pelukan Kenard, dengan tenang ia bersandar pada pundak pria itu sambil menepuk-nepuk punggungnya. Dia begitu nyaman dengan kehangatan ini, menikmati saat-saat tenang berdua.


Ia tahu bahwa jalan di depan penuh dengan duri, dan mereka berdua mungkin akan lebih sering berpisah di masa depan. Terlebih lagi resiko pekerjaan yang mereka geluti selama ini, cukup berbahaya. Berbagai rintangan pasti siap menyambut.


Meskipun mereka telah meraih kemenangan untuk sementara, tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia takut bahwa kelahirannya kembali akan mengakibatkan kematian Kenard, menggantikan ayahnya.


“Aku mengkhawatirkanmu, karena aku tidak ingin kehilanganmu, Kenard.”


“Iya, aku tahu itu. Aku akan lebih berhati-hati dalam bertindak,” ucap Kenard.


Kenard adalah orang yang paling banyak menemani Xavia selama setelah kematian ayahnya di kehidupan sebelumnya. Lelaki itu juga orang yang secara bertahap merebut hatinya dalam kehidupan ini. Xavia tidak ingin campur tangannya di masa depan membawa Kenard dalam bahaya.


Meskipun Kenard tidak mengerti mengapa Xavia begitu khawatir dan takut, dia meyakinkannya untuk tidak terlalu khawatir. Dia manarik diri memegang kedua pundak Xavia duduk saling berhadapan.


“Tidak akan apa-apa, sudahlah jangan berpikiran yang tidak-tidak, apa kau tau, rasa khawatir membuat cara berpikir kita menjadi lambat untuk bergerak. Jika kita terus saja berkutat dalam lingkaran ketakutan atas kejadian yang belum tentu terjadi, kapan kita akan maju dan mendapatkan keberhasilan? Hidup bejalan dengan sangat keras, Xavia, maka kita harus bisa mengimbangi. Berhentilah khawatir, oke?”


Xavia dengan cemas menatap Kenard dan berkata, “Kekhawatiranku bukan tanpa alasan. Ada banyak rahasia tersimpan rapi dalam diriku, Kenard. Selama kau kembali sebagai pemenang, aku akan memberitahukan rahasia yang selama ini aku sembunyikan darimu,” ucapnya.


“Aku akan mendapatkan hari itu, Xavia, akan senang mendengarkan setiap ucapanmu sehingga tidak ada lagi rahasia yang kau tutup-tutupi dariku.”


“Kalau begitu, apakah kau mau berjanji akan kembali dengan baik-baik saja?” tanya Xavia.


Kenard mengangguk meyakinkan. “Aku setuju dan berjanji untuk melindungi diriku sendiri, sehingga kembali menemui mu dengan keadaan sehat membawa kemenangan,” ucap Kenard.


Keduanya kembali berpelukan, saling memberi semangat masing-masing. Kenard telah menanamkan janji pada Xavia, bahwa dia akan menjadi pemenang.


Pertarungan baru pun meletus, Kenard kembali memimpin anggota Black Horses melangsungkan pertarungan dengan geng Red scorpion, sekelompok geng yang menguasai wilayah Castora. Walau tidak seberapa luas, tepi wilayah itu selama ini sulit ditaklukan.


Para anggota serentak menggunakan jaket yang menjadi identitas Black Horses, Kenard berada di barisan paling depan mengendarai motor masuk ke area kekuasaan Red scorpion.


Mereka beradu tembak, ada pula yang saling baku hantam untuk menembus pertahanan musuh.


Tidak seperti sebelumnya, pertarungan kali ini berlangsung sangat sengit. Kenard sampai dibuat kewalahan oleh musuh, begitu juga para anggotanya yang lain, di kedua kubu sama-sama kuat hingga membutuhkan waktu yang cukup panjang.



Di markas besar Black Horses hampir setiap hari, ada saja perdebatan dalam pertemuan tentang apakah akan menghentikan perang atau tidak. Elliot dan beberapa anggota inti lainnya berbeda pendapat.


“Kalau kita menghentikan pertarungan ini, nama besar Black Horses akan jatuh di mata dunia, kelompok-kelompok musuh kita akan tertawa dengan sangat keras, karena kita mundur melawan geng yang selama ini kita anggap kecil. Pandangan mereka akan berubah, tidak ada lagi yang segan terhadap Black Horses.” Salah satu anggota menentang keras rencana anggota lainnya.


“Tapi, kalau kita tidak mundur kelompok kita akan kehilangan banyak anggota, mereka bekerja sangat keras, tenaga mereka terkuras cukup banyak, tolong pikirkan ini, wilayah yang kita perebutkan tidak seberapa, kurasa anggota kita lebih penting dari pada kekuasaan itu,” ucap salah satu seorang lagi dalam ruang pertemuan.


Melihat kelelahan ayahnya, Xavia merasa sangat tertekan.


“Tolong kalian semua tenang dulu, kita bisa pikirkan ini dengan kepala dingin, dan secara masak-masak. Kita mungkin akan melanjutkan pertarungan ini, atau mungkin berhenti, perlu Kerjasama untuk mengamankan situasi supaya kondusif. Bagaimana kalau pertemuan mengambil keputusan akan dilakukan beberapa hari mendatang, setelah kalian semua sama-sama bisa saling sependapat.” Cara ini yang bisa Xavia gunakan untuk menenangkan semua orang sementara waktu selama beberapa hari.


“Tidak bisa, Nona Xavia, situasi saat ini sangat berbeda, menunda waktu bukanlah jalan yang terbaik, kita harus menyelesaikan ini dengan cepat,” protes pria duduk di kursi paling ujung.


“Keputusan harus segera diambil, atau pertarungan akan semakin kacau?” ucap pria satu lagi.


Xavia saat ini juga sangat mengkhawatirkan situasi di pihak Kenard saat ini. Entah apa yang terjadi dengannya, dia terus saja mengkhawatirkannya.


“Baiklah, biarkan pertarungan ini tetap berlangsung, kita sudah maju, maka patut untuk menyelesaikan.”


Hari-hari berlalu dengan berat dilalui, Xavia dan para anggota inti terus saja gelisah menantikan kabar mengenai perkembangan pertaruhan.


Salah satu seorang anggota mereka datang berjalan tergesa-gesa menyampaikan kabar pada sang pemimpin dan seluruh bawahannya bahwa,


“Geng Black Hoses berhasil memenangkan pertarungan, Tuan, merah telah tunduk. Kelompok yang dipimpin oleh Kenard berhasil mengalahkan geng terakhir.”


Semua orang sangat gembira mendengar kabar ini. Mereka sudah tidak sabar menantikan kembalinya seluruh anggota geng Black Horses.


Begitu juga dengan Xavia Linn, dia sangat cemas menunggu kedatangan Kenard. Terus saja menatap pintu gerbang masuk markas mereka.


Hingga iring-iringan motor memasuki area kekuasaan mereka. Satu persatu anggota berwajah lelah juga bahagia datang memarkir motor.


“Akhirnya kalian sampai juga, mari beristirahat di dalam, kami sudah menyediakan yang spesial untuk kalian,” ucap salah satu dari anggota.


Mereka disambut hangat oleh para anggota inti. Pelayan pun ikut sibuk menyiapkan apa yang dibutuhkan.


Namun, sayangnya, di antara orang-orang yang kembali, tidak ada tanda-tanda dari Kenard. Dari sekian banyak orang, Xavia mencari-cari sesosok pengawal kesayangannya itu, tapi dia tidak ada di sana.


“Billy, aku tidak melihat Kenard, di mana dia? Bukankah seharusnya dia kembali bersama kalian?” tanyanya di hadapan seluruh anggota.


Para anggota geng menundukkan kepala seiring berekspresi sedih. Billy maju mendekati Xavia dan mengatakan,


“Nona Xavia, sangat berat saya mengatakan ini, Kenard, ketua geng kami, dia terjatuh ke sungai ketika mencoba menarik tembakan musuh. Pada saat menit terakhir kami akan kembali masih belum ada kabar tentangnya.”


Semua anggota inti terperangah mendengar ini. Termasuk Dominic kini menegang terlihat syok, tatapannya langsung tertuju pada Xavia


Xavia yang tak kalah terkejutnya mendengar kabar tragis ini sampai pingsan.