
Celia sangat ingin menghentikan Kenard yang akan memberikan nomor telepon pada Xavia. Tapi setelah dipikir-pikir cukup lama, dia tidak tega untuk kehilangan customer
sebesar ini jika menolak.
Dengan penuh kebencian, dia menggigit bibirnya sambil melihat Ken bersama wanita yang baru saja dia kenal itu bertukar nomor telepon.
"Baiklah, akan ku simpan nomormu di dalam ponselku. Dan pastikan kalau selalu tetap aktif, karena aku bisa menghubungimu sewaktu waktu untuk memesan," ucap Xavia merasa senang telah mendapatkan nomor Kenard.
"Jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku, Nona. Sekali lagi, terima kasih karena sudah menjadi pelanggan tetap kami," balas Ken memasukkan ponsel ke dalam saku.
Di samping mobil, mereka berdua saling berhadapan, menatap satu sama lain. Xavia tampak tidak berbicara, tapi matanya menunjukkan kebahagiaan.
"Apa sudah selesai berurusan masalah nomor teleponnya?" tanya Celia.
Melihat mereka, Celia tidak ingin mereka terhanyut dalam tatapan masing-masing. Dia dengan cepat menarik tangan Ken hingga berada di pihaknya.
"Hari sudah semakin sore, Ken. Lebih baik kita segera pulang, atau kalau tidak kita akan terjebak dalam kegelapan nanti," ucapnya sambil melihat Xavia ketus.
"Iya, kita pulang. Tunggu sebentar." Kenard menuruti keinginan Celia untuk segera pulang. Membiarkan perempuan itu bergelayut manja di pundaknya berjalan ke motor.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Celia, Ken menoleh untuk melihat Xavia masih berdiri di samping mobil.
Namun, ternyata Celia mengetahui itu, hatinya terasa seakan terbakar melihat tatapan Ken yang sarat akan makna. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan situasi ini.
"Ayolah cepat, Ken. Kita akan terlambat pulang kalau kau terus melihat ke belakang!" Celia menyentak tangan Ken. Menariknya sampai menaiki motor. Mereka berdua pergi pulang ke rumah.
Sedangkan Xavia menatap penuh kecewa, meskipun Kenard tidak mengingat dirinya, tetap saja rasa cemburu tetap ada. Terlebih lagi, perempuan itu lebih menguasai Kenard dari pada dirinya.
Namun, setidaknya Xavia merasa senang bisa melihat pengawal setianya itu baik-baik saja sekarang. Dia tersenyum senyum sendiri melihat nomor telepon yang tadi diberikan.
Semakin lama punggung Kenard kian menjauh dari posisinya. Xavia langsung masuk ke dalam mobil meminta sopir untuk melaju.
"Mau diapakan ikan-ikan itu, Nona?" tanya sopir.
"Biarkan menjadi santapan para anggota malam ini. Jika kurang, aku akan membelinya lagi dari dia," ucap Xavia.
Demi bertemu dan berhubungan dengan Kenard, Xavia pasti akan rela memakan ikan setiap hari, supaya mendapatkan alasan untuk berjumpa lagi.
***
Motor terparkir tepat di halaman rumah.
Celia dulu berjalan masuk disusul Ken kemudian.
Setelah kembali ke rumah, Celia mengajak Kenard duduk di ruang tamu, bahkan tidak membiarkan pria itu membersihkan diri lebih dulu. Duduk saling berhadapan dengan tatapan penuh curiga.
Ken tidak mengerti dengan perubahan sikap perempuan ini padanya, dia hanya mengernyitkan dahi bingung.
"Tatap mataku dengan benar, Ken! Lihat ke sini dan jawab yang jujur!" hardiknya seolah sedang menginterogasi penjahat dalam penjara.
"Kau ini kenapa, Celia? Apakah kau salah meminum sesuatu?" Ken tak serta merta menganggap serius ucapan Celia.
Sehingga membuat Celia semakin geram. Duduk di sebelahnya setelah menghentakkan satu kaki.
"Aku ingin bertanya padamu, Ken. Tapi kuharap kamu jawab jujur. Melihat perempuan yang membeli semua dagangan kita tadi, dia sangat cantik, berkelas dan terlihat pintar. Sebagai seorang laki-laki normal,
apakah kau tertarik pada perempuan itu?" tanya Celia.
Meskipun membantah, tetap saja wajah Ken bisa ditebak. Ken berputar-putar di pikirannya. Bayangan kejadian samar-samar terlintas tidak begitu jelas.
Ken berusaha mengingatnya, tapi secara bersamaan kenangan dalam ingatannya mulai terbebas detik itu juga dia merasakan sakit kepala yang tak tertahankan.
"Tidak perlu bohong padaku, Ken. Dari tatapanmu, siapa saja bisa membaca, kalau menyukai gadis tadi. Jangan pikir aku tidak tahu."
Kenard memijat kepala, merasakan berdenyut.
"Seharusnya kau tahu, kalau aku tidak menyukai caramu seperti itu!"
Celia terus mengomel membuat Ken merasa terganggu serta frustasi. Meremas rambutnya sendiri sebab kepalanya semakin nyeri.
"Diam Celia! Jangan bicara apa-apa lagi!" bentaknya.
Celia seketika terdiam, sekaligus terkejut atas tindakan Kenard. Semenjak mengenal Ken tak pernah sekali pun membentak atau bersikap kasar padanya.
"Baik, aku akan diam, Ken!" Dia pun pergi dengan berlinangan air mata.
Ken merasa semakin sakit kepala, di pergi ke tempat tidur, berbaring di sana. Dia tak menghiraukan lagi Celia yang marah padanya, dia tidak mengejarnya.
Fokusnya hanya pada rasa sakit saja, hingga mengeluarkan keringat dingin dari pelipisnya. Menahan rasa sakit membuat Ken sampai tertidur, dia merasa bingung dan samar-samar masuk ke dalam alam mimpi.
Dia kini tidak berada di tempat yang setiap hari ditinggali. Melainkan hamparan rerumputan hijau, luas dan suasananya begitu sejuk.
Di tempat itu Ken merasa seperti orang kebingungan. Sebab di mana dia melihat kilasan adegan saat bermain-main dengan perempuan yang baru saja dia temui tadi.
Ia merasa heran, sebab merasa memiliki keterikatan satu sama lain. Bahkan dalam mimpi pun, perempuan itu muncul.
Berlari-lari main tembak-menembak sambil bersembunyi dari Ken yang mengejarnya, di belakang pohon apel.
"Mau ke mana lagi kau?" Ken berhasil menangkapnya dari belakang, membuat Xavia kaget luar biasa. Kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana kau bisa menemukanku?" tanyanya.
"Kau pasti kutemukan walau ke ujung pohon sekalipun," ucap Ken.
Tanpa sadar melihat insiden itu, kedua sudut bibir Ken tertarik membentuk seulas senyum. Aura bahagia, seolah menjalar ke dalam dirinya.
Setelah melihat kilasan-kilasan kejadian itu, kini Ken mulai meragukan identitasnya sendiri. Tentang siapa dirinya sebenarnya.
Tak lama berselang kedua matanya terbuka, dia kembali ke dalam dunia nyata. Meraup wajahnya sendiri kemudian mengambil minum.
Sambil menyesap air putih dari gelas, dia berpikir bahwa akan memutuskan untuk menyelidiki asal usulnya lebih lanjut.
"Seperti ada yang aneh dengan pertemuanku dengan perempuan tadi, sebenarnya siapa dia? Kenapa aku terus memikirkannya?" gumam Ken sambil berpikir keras.
Secepatnya dia harus bertindak, tidak bisa lagi hidup dalam kebingungan di desa nelayan ini dengan menjadi bukan dirinya sendiri.
"Kau mau ke mana, Ken?" tanya Celia melihat Ken keluar dari rumah. membuat dia aneh, ialah Ken tak membujuknya seperti biasanya, tapi justru mengabaikan.
"Ada urusan penting yang harus ku selesaikan, kau tetaplah di rumah." Ken langsung pergi.
Tanpa sepengetahuan Celia, Ken bergerak diam-diam mencari informasi tentang dirinya pada para nelayan yang satu profesi dengannya.