Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Mencari Identitas


Secara diam-diam Kenard pergi ke kota tanpa memberitahu Celia, dalam dirinya seperti mendapat dorongan kuat untuk mencari tahu jati dirinya sebenarnya. Menaiki kendaraan umum, dia bertekad untuk keluar dari desa nelayan.


Hingga bus besar itu berhenti untuk menurunkannya, Kenard telah sampai ke kota walau dia tak tahu ke mana tempat yang dia tuju. Dia langsung terjebak dalam kebingungan, kepalanya kembali berdenyut mulai merasakan penderitaan kehilangan ingatan.


Sejak dia tersadar di pinggir Pantai, kehidupan dua tahun setelahnya sangatlah tenang, bahkan dia begitu bahagia hidup bersama Celia dan menjadi bagian dari kampung nelayan.


Namun setelah pertemuannya dengan wanita yang telah membeli dagangannya habis. Perasaan Kenard mendadak bimbang, dia merasa ada yang aneh dalam dirinya, hatinya janggal.


Dan segalanya pun berubah, bahkan perasaannya pada Celia. Bertengkar hanya karena Perempuan yang baru saja ditemui. Jika tidak menemuinya mungkin ia bisa selamanya tinggal di desa nelayan, menikahi Celia seperti yang diinginkan Celia, demi membalas budi, dan melahirkan beberapa anak untuk hidup damai.


Tapi setelah menemui wanita itu ia diam-diam merasakan jiwa kekerasannya yang membara pada darahnya. Ia seperti pernah mengalami kehidupan yang penuh kekejaman dan semangat.


Sebelum pergi ke kota, telah terjadi perdebatan antara Kenard dan Celia, sebab Kenard memutuskan untuk mengundur hari pernikahan mereka. Celia yang sudah berbahagia dan menantikan hari bahagia itu, tentu saja marah besar hingga menangis.


“Aku sangat kecewa padamu, Kenard, dalam sekejap pikiranmu bisa berubah seperti itu?” tanya Celia.


“Bukan menolak menikah denganmu, Celia, tapi aku hanya ingin menundanya saja. Ada yang harus kuselesaikan dulu, sebelum aku benar-benar yakin, untuk kita menikah.”


Setelah mencoba meyakinkan Celia, kini Kenard berjalan di pinggiran jalan, samar-samar seperti mengenali jalan yang dia lalui. Kedua kakinya terus saja menyusuri trotoar, mengabaikan beberapa motor dan mobil yang melintas di sampingnya.


Hingga pengendara satu motor gede terlalu minggir hampir saja menabraknya.


“Maafkan, Tuan, saya tidak tahu kalau Anda akan lewat.” Kenard merasa bersalah meminta maaf pada orang tersebut, karena dia berjalan terlalu serius menundukkan kepala hingga tidak melihat motor melintas.


“Seharusnya kau bisa menggunakan matamu dengan baik. Ingat, jalanan ini untuk para pengendara bermotor bukan untuk pejalan kaki seperti mu! Kau tidak melihat tanda larangan di depan? Atau memang matamu, rabun?!” bentak orang tersebut.


Matanya membulat seperti terkejut saat melihat Kenard menaikkan wajahnya.


“Maafkan saya, karena sebelumnya tidak melihat tanda larangannya, Tuan. Dan saya juga pendatang dari kampung yang belum paham tentang jalan daerah sini,” balas Kenard sopan seperti pria berasal dari desa sesungguhnya.


Pria itu tak menjawab apa pun, melainkan menghidupkan mesin kembali, memutar gas hingga bersuara nyaring kemudian meninggalkan Kenard.


“Kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Sangat tidak sopan!” gumam Kenard satu tangannya berkacak pinggang, dia menggelengkan kepala tidak habis pikir.


“Sekarang ke mana aku harus pergi? Kenapa tidak ada petunjuk sedikit pun, atau mungkin ada seseorang yang mengenalku?” gerutunya.


“Terima kasih,” ucapnya setelah mendapatkan sebotol air melewati antrian yang lumayan.


Dia menenggaknya hingga tersisa setengah kemudian mengguyurkan ke wajahnya untuk menyegarkan.


Setelah menoleh ke kanan dan kiri, dia berjalan ke arah lurus sesuai instingnya. Dia merasa sangat tidak asing dengan jalanan ini, sambil mengingat ingat dia terus saja berjalan.


Seiring langkah kakinya melangkah, tiba-tiba ia merasakan adanya orang yang diam-diam menguntitnya dari belakang. Ia mulai melirik waspada, mereka terlihat mencurigakan, berhenti dan berpura-pura berbincang saat dia berhenti, melihat itu Kenard langsung mempercepat langkahnya mencoba menjauhi mereka.


Mereka tak tinggal diam, terus mengikutinya, hingga Kenard mencari akal memasuki Lorong gang sempit. Beberapa orang itu terus ada di belakang mencoba mengejarnya, padahal Kenard sama sekali tak mengenal mereka.


“Berhenti!” pekik salah satu kelompok mereka.


Kenard justru semakin mempercepat langkahnya, belok ke sisi kanan sambil sesekali menolah ke belakang waspada. Deru kaki mereka terdengar bersautan mengejarnya, Kenard menggunakan kemampuannya memanjat untuk naik ke tangga pinggiran rumah orang, dia di sana menunggu mereka melewatinya.


Melompat turun setelah merasa aman, lalu berjalan berlawanan arah berhasil menjauh dari mereka. Setelah kejadian yang baru saja dia alami, Kenard pun menyadari bahwa identitasnya tidaklah biasa. Mereka pasti telah mengenalnya, keberadaan Kenard memiliki sangkut paut.


Dengan perasaan kecewa sebab tak membawa hasil apa-apa, Kenard membawa perasaan suram memilih kembali ke desa nelayan.


Begitu sampai, Kenard langsung disambut oleh Celia, memeluknya erat seolah sudah lima tahun tidak bertemu.


“Kupikir kau akan marah lalu memilih untuk meninggalkanku, Ken. Sykurlah, dugaanku salah, kau kembali lagi menemui ku. Ke mana saja kau? Hampir seharian aku tidak menemukanmu di mana pun. Bahkan Jovan yang biasa pergi ke laut bersamamu juga mengatakan tidak tahu kau ke mana. Jangan begitu lagi, Ken, aku sangat sedih.”


Kenard tersenyum terpaksa membiarkan Celia memeluk tubuhnya. “Tubuhku terasa sangat lengket, lebih baik aku membersihkan diri lebih dulu. Setelah itu barulah kita akan menyantap makanan bersama,” ucap Ken melepas kedua tangan Celia.


“Baiklah, aku akan membuatkan makanan untuk kita malam ini, kau pergilah mandi, setelah itu pergi ke meja makan,” ucap Celia.


Malam hari mereka makan bersama, Kenard bersikap seolah tadi tidak terjadi apa-apa padanya. Namun jujur saja, dia tidak puas dengan apa yang dia dapatkan hari ini. Dalam dirinya terus saja bergejolak ingin lagi mencari tahu tentang siapa dirinya sebenarnya.


"Kenard, kau tidak mendengarku?" tanya Celia lirih.


"Oh, maaf, aku terlalu menikmati rasa makanan ini, sampai tidak mendengar kau bicara apa?"


Celia menghela napas dalam. "Tidak perlu diulang, karena pertanyaanku sudah kau jawab baru saja," jawabnya. Kemudian melanjutkan makan kembali.