
Ken dan Celia mengendarai motor pergi ke kota untuk menjual hasil tangkapannya dari laut. Mereka kembali dengan wajah berseri-seri sebab penjualan hari ini sesuai dengan keinginan mereka.
"Beruntung sekali kita hari ini ya, Ken. Hasil laut kita lumayan banyak," ucap Celia yang duduk di boncengan belakang sambil memeluk pinggang Ken.
Keduanya terlihat selayaknya pasangan suami istri yang baru saja akan menjual dagangan mereka.
"Wajarlah kalau kita mendapatkan lebih, siapa dulu yang mencari ikan?" kelakar Ken membanggakan dirinya sendiri.
"Kuakui memang benar yang kau katakan, Ken. Oh iya, kau ingin apa hari ini, sebagai hasil dari jeri payahmu aku ingin menuruti semua permintaanmu," ucap Celia.
"Aku hanya ingin kau memasak makanan yang anak saja, Celia."
"Beres, Pak Bos!"
"Jangan sampai hangus lagi, seperti kemarin."
"Harusnya kau tahu, masakanku hangus itu karena kau yang terus menggangguku, Ken. Tapi ku jamin, setelah ini makanan yang dihidangkan akan sempurna."
Ken terus memacu gas motor yang ditumpangi mereka berdua, melenggang melewati jalanan poros yang menghubungkan antara kota ke desa.
Secara bersamaan sebuah mobil sedan berwarna hitam dari arah berlawanan melewati mereka.
Saat itulah Ken merasakan sesuatu ada yang aneh. Dia lekas berbalik untuk melihat mobil mobil tersebut. Untuk melihat perempuan yang duduk di kursi belakang yang sedang menatap dari dalam.
"Ada apa, Ken?" tanya Celia.
Ken hanya tersenyum mengalihkan pandanganya. "Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanannya."
Celia mengangguk, kembali merapatkan pegangannya pada pinggang Ken yang mulai menghidupkan mesin.
"Sudah siap?" tanya Ken menoleh ke belakang.
"Siap!"
Mereka berdua melenggang pergi menuju tempat memasarkan hasil tangkapan. Tapi, Ken diam tidak seperti sewaktu mereka keluar rumah tadi, dia merasa seperti
telah melewatkan sesuatu dan merasa ada kekosongan dalam dirinya. Entah itu apa.
Celia merasa aneh mengernyitkan dahi sambil menoleh ke belakang. Barang kali dia telah melewati satu hal yang membuat Ken merasa tidak enak.
"Ken, di sebelah sana ada orang jual acar, apa kau mau membelinya?" tanya Celia.
Ken menggeleng, berfokus menyetir seorang buru-buru ingin segera sampai ke tempat tujuan.
Celia memaklumi, mungkin Ken begini karena faktor udara yang sangat panas.
"Baiklah, lebih baik kita langsung ke lapak saja. Kau juga tampak kelelahan, mungkin bisa pulang, biarkan aku saja yang berjaga menjualnya," ucap Celia.
"Tidak apa, kita berdua akan menjual semua sampai habis, setelah itu akan pulang bersama sama."
Ken fokus menyetir sambil melihat dari spion ke arah belakang. Mobil hitam terlihat dalam pantulan, semakin berangsur menghilang.
Akhirnya tiba saat bagi Xavia datang memenuhi undangan dari pria yang menjadi musuh dalam dunia masa lalunya.
Dia masuk ke dalam perusahaan milik Richard dengan langkah elegan. Semua orang yang berjaga di area luar melihatnya waspada. Seolah melihat singa yang bisa menyerang kapan saja.
"Di mana Tuan kalian berada?" tanyanya.
"Mari saya tunjukkan di mana Tuan Richard berada." Salah satu anak buah Richard berjalan menuntunnya menunjukkan arah ruang Richard.
Hingga mereka sampai pada ruangan besar dijaga beberapa anak buah di luar dengan ketat. Dia masuk ke dalam setelah pintu dibuka.
Xavia berdiri di hadapan Richard persis, keduanya saling berhadapan satu sama lain.
Kedua tangannya mengepal diam-diam di samping tubuh, kini perasaannya sangat campur aduk. Dia mengira bahwa mungkin tidak bisa menahan diri untuk tidak menembak pria Richard saat ini, mengingat atas apa yang pria ini lakukan di kehidupan sebelumnya.
Namun setelah mengalami banyak peristiwa dia alami selama ini, membuat Xavia bertekad tidak lagi menjadi gadis impulsif yang polos seperti di kehidupan sebelumnya. Dia telah belajar untuk menyembunyikan perasaannya dan bermain-main dengan pria ini.
“Selamat datang di wilayah kekuasaanku, Nona Xavia, senang sekali bisa bertemu kau secara langsung, perkenalkan namaku Richard.” Richard mengulurkan tangan untuk berjabat tangan Xavia, sedangkan tangan satu lagi berada di dalam saku.
Xavia membalas uluran tangan pria itu sambil tersenyum canggung. “Hai, senang bertemu denganmu.”
Richard tersenyum berwibawa, lalu berkata, “Ternyata melihatmu secara langsung jauh lebih baik daripada hanya mendengar cerita dari orang-orang. Selain berita kehebatanmu memimpin anggota geng, ternyata kau juga mempunyai sisi lain, yaitu kecantikan yang luar biasa. Bahkan senyumanmu saja dapat mematikan lawan jenis,” puji Richard merayu Xavia.
“Biasa saja, Richard, tidak perlu berlebihan seperti itu memujiku,” ucap Xavia hanya tersenyum datar. Dia duduk di kursi sebelum mendapat perintah dari pemilik tempat, sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Aku sangat sibuk, ada banyak hal yang harus kuurus. Lebih baik kita langsung saja ke inti pembicaraan, supaya tidak ada waktu terbuang, Richard.”
Xavia langsung saja memotong pembicaraan Richard yang ingin berbasa basi dengannya, dia tidak ada waktu meladeni banyak hal dengan pria ini. “Silahkan duduk, Richard, aku rasa tidak pantas jika kau pemilik tempat ini bicara sambil berdiri. Mari kita mulai pembicaraannya,” ucapnya mempersilahkan.
Richard tersenyum kaku, terpaksa menuruti perintah Xavia, duduk di kursi kekuasaannya. Dia melihat Xavia yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padannya, Richard tidak pernah menduga bahwa penampilannya yang tampan dan kata-katanya yang cerdas yang selalu berhasil memikat wanita sebelumnya, sekarang tidak berpengaruh pada Perempuan ini.
“Baiklah, aku akan mulai pembicaraannya. Tapi … sebelumnya, apakah kau tidak ingin mencicipi minuman terbaik dari pabrik kami? Kalau kau bersedia, ini merupakan suatu penghargaan, sebab kaulah orang pertama yang mencoba produk kami akan launching Minggu ini.” Richard menuangkan sendiri dengan tangannya minuman dari botol bening ke dalam gelas kemudian memberikan pada Xavia.
Perempuan itu tak lantas meminumnya, akan tetapi justru meletakkan ke atas meja hadapannya.
“Kau tidak ingin mencicipinya, lalu beri saran padaku, menurutmu apakah ada yang kurang atau tidak,” ucap Richard.
“Mungkin nanti saja, karena aku sekarang belum merasa haus,” jawab Xavia singkat.
Richard manggut-manggut memaklumi sikap Xavia, kemudian dia memikirkan cara untuk membangun suasana akrab dengannya. “Aroma parfum yang kau pakai, sangat harum sekali, lembut tapi menantang, aku sangat menyukai jenis ini jika Perempuan memakainya. Tapi sayang sekali, sangat jarang Perempuan memakainya. Mungkin kau hanya orang satu-satunya.”
“Tidak mungkin satu pabrik hanya harus membuat satu parfum hanya untukku, bukan?”
Richard menyunggingkan bibir. “Mungkin saja,” ucapnya.
“Apa masih butuh waktu lama, hanya untuk sekedar basa-basi omong kosong seperti ini, Richard? Sangat tidak professional!”
“Maaf, jika aku tidak tahu, kalau telah banyak membuang waktumu. Kupikir kau akan bersedia bicara panjang lebar perkenalan satu sama lain, sebelum bicara serius. Kalau seperti itu maumu, baiklah. Kita mulai.” Richard melanjutkan bicara.
Dalam ruangan dijaga oleh anak buah mereka masing-masing itu, pembicaraan Xavia dan Richard penuh syarat akan ketegangan.