
Semakin lama tinggal di kota Castora, Kenard semakin terbiasa melakukan kebiasaan-kebiasaan rutinitas yang dia lakukan dulu. Lambat laun dia mengingat identitas sebenarnya, siapa dia dan berasal dari mana.
Setiap hari dia mulai mengurus keamanan pabrik dan keluar masuk barang yang akan dipasok kepada kelompok mafia.
Bersama geng black horses yang selalu mengawalinya di belakang, semakin mempermudah jalan Kenard mengingat masa-masa dulu.
"Billy, apa kau sudah sudah memeriksa barang yang akan dikirim ke kota Veron?" tanya Kenard berjalan beriringan dengan Billy.
"Tenang saja, semua sudah beres." Billy menjawab dengan bangga.
"Periksa barang itu baik-baik, sebab customer kali ini sedikit cerewet. Dia akan mengembalikan semua barang jika ada satu saja yang cacat."
Mereka melanjutkan berjalan ke dalam markas besar Black Horses. Kenard memeriksa lembaran kertas perintah dari Xavia.
"Apa ini?" tanyanya sambil memperhatikan coretan di atasnya.
"Itu rangkaian strategi penjualan minuman kita, Kenard. Nona Xavia ingin supaya kau memeriksa supaya bisa mengoreksi jika salah."
Selama beberapa menit, Kenard membantu memeriksa coretan tangan Xavia. Semakin hari dia semakin terbiasa dengan pekerjaan dalam lingkup geng black horses.
Dia juga mulai mengingat satu persatu anggota geng yang bersamanya selama ini. Termasuk saat-saat kebersamaan dengan Xavia, selama ini dia selalu bersama gadis itu ke mana pun pergi.
***
Setelah memutuskan kembali ke kota, kini Kenard mulai membiasakan diri dengan tanggung jawab masa lalunya.
Dia secara bertahap kembali berlatih menguji ketangkasan tubuhnya.
Dibantu para anggota lainnya, dia kembali berlatih keras bela diri. Dengan tanpa mengenakan pakaian atas hanya mengenakan celana panjang saja dia menggerakkan satu tangan untuk memutar tangan lawannya ke belakang, kemudian menendang lutut belakang hingga berhasil membuat terjatuh.
Lama dia semakin terbiasa dengan anggota geng. Mereka bertepuk tangan saat melihat Kenard dengan kehebatan yang dia miliki dulu dalam hal bertaruh.
"Kembalinya dirimu adalah utuhan susunan puzzle yang hilang selama ini. Kita sekarang lengkap, siap menghadapi lawan."
"Kalian selalu membantuku, untuk membuat mengingat ingat jati diriku sebenarnya." Kenard menggandeng pundak Shane.
Kenard pun merasa senang bisa berdiri di antara mereka sekarang. Dia tak menyangka sudah melewatkan banyak hal yang terlewat dalam dua tahun belakangan ini.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Xavia berdiri memperhatikan mereka berlatih. Kini perempuan itu berjalan mendekat.
"Kuharap lain kali tidak ada lagi, penghianat dalam kelompok ini. Kalau sampai ada, aku akan pastikan, dia yang berani akan mendapatkan hukuman berat dari pada Elliot. Contoh sebelumnya adalah bukti, supaya tidak ada yang berani melanggar, tapi kalau masih dilakukan lihat saja. Bahkan mereka yang berkhianat akan mengemis untuk diakhiri hidupnya karena tidak sanggup menerima siksaan," ancam Xavia berwajah tegas.
"Benar Nona Xavia. Kita tidak boleh sedikit saja lengah, dan siapa yang mencoba berkhianat kamilah yang akan melawan."
Entah kenapa eskpresi Kenard berubah saat kedatangan Xavia. Dia berada di sampingnya saat ini merasa canggung. Dan merasa tidak enak berdiri bersebelahan dengan nona muda keluarga Linn.
Kenard diam-diam mundur beberapa langkah menghindari Xavia saat perempuan itu bicara dengan anggota.
Xavia mengerutkan dahi seiring melirik ke samping. Melihat Kenard yang menjauhinya. Dia tak berkecil hati ikut mundur hingga berdiri sejajar dengan lelaki itu.
Namun Kenard justru menghindari dirinya berjalan pergi menjauh dari area berlatih. Kenard bahkan tak menoleh sedikit pun padanya. Sebelum menjauh, Xavia segera mencekal tangan Kenard sambil bertanya.
"Kau ingin ke mana, Kenard? Bukankah kita masih membicarakan tentang langkah langkah yang akan kita lakukan ke depan?" tanya.
"Ada hal yang harus ku selesaikan, Xavia. Maaf, kalau harus meninggalkan tempat ini karena mendadak ingat, kalau ada barang yang harus melewati penyortiran." Kenard melepaskan tangan Xavia kemudian akan pergi.
Mendengar nada bicara Xavia yang meninggi, Kenard menghentikan langkah. Dia menoleh ke belakang menatap perempuan itu.
"Kau sepertinya salah, aku tidak ingin menghindari mu, tapi memang ada hal yang seharusnya cepat selesai. Kau sendiri yang bilang, kalau pekerjaan harus profesional bukan?"
Kenard terlihat sedang ragu-ragu dalam menanggapi Xavia.
Meskipun penasaran dan ingin bertanya lagi hal-hal lain. Xavia mengangguk mengerti, dia tidak ingin menekannya, dan dengan
lembut meminta Kenard untuk memperlakukannya dengan tenang.
"Benar. Kau tidaklah salah. Alangkah baiknya, kau tidak mencoba menghindar, sebaiknya tetap tenang di sampingku. Hal itu adalah hal yang kau lakukan dulu, apa kau ingat?"
Kenard mengangguk. "Baiklah, aku akan melakukan seperti keinginanmu."
"Aku hanya ingin mengatakan
kepadamu, tidak apa-apa jika kau tidak dapat mengingatnya." Xavia.
menunjukan ekspresi sedihnya.
"Lain kali, jangan pernah menghindar dariku lagi."
"Aku minta maaf, Xavia." Kenard tiba-tiba merasa bingung dan memeluk Xavia dengan canggung.
Dia menepuk punggung perempuan itu dalam keraguan.
Xavia tak menyadari sebelumnya akan terjadi hal ini. Dalam dekapan dia diam-diam
tersenyum, menyadari bahwa Kenard masih jatuh cinta padanya seperti
sebelumnya.
"Aku hanya tidak suka, melihatmu seperti tadi. Jangan ulangi lagi," ucap Xavia.
Kenard tersenyum. Xavia langsung memeluk pria itu dengan erat seolah tak ingin lepas. "Dalam waktu dua tahun ini, hidupku terasa sangat kosong setelah kepergianmu, Kenard. Bahkan aku selalu menyibukkan diri ku sendiri supaya melupakan hal-hal tentangmu, karena jujur, tidur pun tak nyenyak, kau selalu ada dalam mimpi. Aku benar benar merindukanmu dalam dua tahun ini, Kenard."
"Sekarang aku sudah kembali, kau setidaknya sudah merasa lega, bukan?" tanya Kenard.
Xavia mengangguk sebagai jawaban. "Aku sangat senang melihatmu kembali, dan tadi saat berlatih, kau benar-benar menunjukkan kau adalah Kenard yang dua tahun lalu menghilang. Kau kembali seutuhnya," ucapnya.
Dia semakin memeluk erat menenggelamkan wajahnya di dada Kenard. Tak peduli jika orang-orang merupakan anggota black horses di belakang mereka sedang memperhatikan. Biarkan saja semua orang tahu, kalau keduanya memang dekat selama ini.
Kenard diam, mengusap usap punggung Xavia, dia tahu bahwa Xavia menyukai dirinya di masa lalu.
"Mulai saat ini, kau akan ada untuk membantuku menghadapi kesulitan seperti dulu lagi, Kenard."
Kenard mengangguk sebisa mungkin, dia berpura-pura mengetahui semuanya.
Meskipun mereka itu orang yang sama, tapi diam-diam dia merasa tidak senang
karenanya. Kenard berangsur melepas pelukannya. Memasang jarak berdiri antara Xavia.