Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 79


Bryan sudah tak tahan lagi, dia segera membawa Angel, menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang empuk itu. Dia ingin segera menggarap tubuhnya dengan sesuka hati, memasukkan batang jumbonya ke dalam liang yang sempit itu.


Buuk...


Sampai Angel terlentang bebas di atas kasur tersebut, dengan posisi yang sungguh aduhai tanpa mengenakan pakaian apapun, siapa yang tidak tergoda dengan pemandangan indah seperti ini.


Tanpa basa basi, Bryan pun menindih tubuh Angel, menjadikan lengan sebagai tumpuan, dia menyambar bibir Angel, melu-matnya dengan penuh gairah, sementara tangannya sedang asik memberikan rema-san pada buah dadanya Angel.


Bryan melahap kembali buah dada Angel, begitu kenyal dan juga putih dan mulus, siapa yang tak akan tahan dengan apapun yang aa di diri Angel, apalagi ukurannya yang sangat besar. Bryan merasa sangat beruntung dapat menikmati keindahannya, baginya wanita adalah makhluk Tuhan yang paling indah di dunia ini, itu sangat nyata dan fakta adanya.


"Ahhh...mmhh..." Angel sangat menikmati ketika Bryan memberikan hisapan pada buah dadanya secara bergantian, dia hanya pasrah sambil mencengkram seprai.


Kemudian Bryan membuka paha Angel secara lebar-lebar, dia kini berada diantara kedua pahanya Angel, mengarahkan sang joni agung yang siap menjebol gawang sempit milik Angel.


Hal tersebut membuat Angel menegang, "Emm.. tunggu dulu!"


Bryan yang hampir saja memasukan senjatanya, dia terpaksa harus menjedanya sebentar.


"Kenapa?" tanya Bryan dengan nada kesal, karena ingin segera merasakan nikmatnya ketika tubuh mereka menyatu.


"Tidak akan sakit, kan?" tanya Angel dengan polosnya.


Bryan bingung untuk menjelaskannya, walaupun dia tak paham sesakit apa itu, karena dia seorang pria, tidak akan tahu seperti apa rasanya sakit yang dirasakan oleh wanita ketika melepaskan keperawanannya. Tapi karena dia pernah menjebol empat gawang, keempatnya selalu merintih saat Bryan menjebol gawang mereka, bisa dia pastikan mungkin rasanya cukup menyakitkan, tapi pada akhirnya mereka malah menjadi ketagihan.


"Mungkin hanya sakit sedikit, seperti ditusuk jarum." jawab Bryan, dia hanya asal menerka, dia mulai menempelkan senjatanya pada milik Angel, untuk segera dia masuki.


"Tapi Juan..."


Bryan sangat kesal kepada wanita itu, lagi-lagi mengganggu konsentrasinya. "Apa lagi?"


"Masa hanya sakitnya seperti ditusuk jarum? Punyamu sangat besar sekali. Apa mungkin seperti ditusuk pisau atau pedang?" tanya Angel sambil melihat ke arah sang joni agung yang sudah berdiri menantang, membuat Angel menelan saliva dengan susah payah.


Bryan menjadi pusing kepalanya mendengar segala pertanyaan yang dilontarkan oleh Angel, padahal sekarang ini mereka akan segera melakukan adu mekanik, bukan untuk sesi tanya jawab. Tapi wanita tersebut malah membuyarkan suasana yang memanas ini.


"Aku tidak tahu, Angel. Agar kamu tahu tentu saja kamu harus merasakannya, nanti kamu jelaskan padaku bagaimana rasanya, oke!" ucap Bryan dengan nada kesal.


Angel walaupun nampak deg-degan tapi dia mencoba untuk membuat dirinya rilex, dia menarik nafas dalam-dalam, membiarkan Bryan meneruskan aksinya.


"Oke, mari kita coba!" ucap Angel sambil mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya.


Dan kini Bryan pun berusaha untuk menerobos sesuatu yang teramat sempit itu, tubuhnya berdesir saat sang joni agung menyentuh kelembutan sesuatu yang teramat lembab itu. Lalu menghentakannya agar segera masuk


"Arrrgghh!"


Angel menjerit histeris, sampai kakinya menendang tubuh Bryan, membuat tubuh Bryan terhempas ke lantai. Padahal baru juga masuk bagian ujungnya saja.


"Aaargghh... punggungku!" Bryan merasakan punggungnya sakit, target kali benar-benar bar bar dalam segala hal, sampai dia terkapar di lantai.


Namun, Bryan tak akan menyerah, tinggal selangkah lagi dia harus bisa menaklukkan Angel, hati maupun raganya. Dia segera bangkit kembali untuk menyerang Angel lagi.


"Shiiit! Ternyata rasanya sakit." Walaupun Angel putri seorang mafia, dia juga wanita biasa, yang akan mengeluh jika merasakan sakit. Wanita tersebut mengumpat tiada habisnya.


"Sakit hanya sementara kok, beneran." Bryan mencoba untuk meyakinkan Angel, sambil memegang punggungnya yang sedikit encok.


"Gak mau, aku tidak ingin melanjutkannya. Aku ngaku, aku kalah." Angel ingin menyerah.


Ini bukan soal menang atau kalah, Bryan tidak akan membiarkan pertempuran diantara mereka berhenti begitu saja.


Angel ingin bangkit, tapi Bryan menindih tubuh Angel kembali, mencium bibirnya sekilas, dan tangannya mere-mas-rem-as buah dadanya Angel, untuk memancing gairahnya. Kemudian Bryan menghisap buah dadanya Angel.


"Mmmhhh...!" Hasrat Angel terpancing, menikmati hisapan mulut Bryan pada dadanya. Tapi dia masih berusaha untuk berontak.


"Aku tidak ingin mati gara-gara melepaskan keperawanan, Juan." Angel pikir mungkin rasanya pasti seakan ditusuk oleh pesan.


Lalu Bryan mencoba meyakinkan Angel kembali, kali ini tidak boleh gagal lagi. "Kamu jangan takut, tidak ada wanita yang mati karena melepaskan keperawanan, justru aku akan membawa kamu terbang, agar kamu tahu bagaimana rasanya surga dunia itu, Angel. Percayalah kepadaku!"


"Tapi tadi rasanya sangat sakit." ucap Angel dengan nada merengek, membuat Bryan merasakan gemas.


"Hanya sebentar sakitnya, Angel. Kamu boleh membunuh aku jika aku berbohong, kamu pasti akan merasakan nikmat nanti." Setelah mengatakan hal tersebut, Bryan menenggelamkan kepalanya diantara kedua paha Angel, sama sekali belum ada darah disana, Angel belum jebol juga.


Bryan memberikan rangsangan kembali dengan mencumbu miliknya Angel lagi, dan mengocokan lidahnya ke dalam, membuat Angel basah lagi. Badannya bergetar hebat merasakan banyak sekali cairan yang keluar dari miliknya tersebut.


"Ahhh! cepat masukan Juan!" Angel sudah tidak sabar, hasratnya sudah mulai tinggi.


Angel rasa perkataan Bryan memang benar, dia belum pernah mendengar ada seorang wanita yang mati karena bercinta. Karena itu dia harus berani mencoba. Jangan takut sebelum terjadi perang.


"Kamu yakin?"


Angel menganggukan kepalanya dengan malu-malu, mungkin dia kini sudah mempersiapkan jiwa dan raganya ketika Bryan akan segera menjebol gawangnya.


...****************...


...Harap bersabar. Lanjut besok pemirsa 🙌...