Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 55


Toko tas tempat kerja Devina telah laku habis sehingga Devina dan kedua rekannya bisa pulang lebih awal dan mendapatkan bonus juga.


"Oh lihatlah pria itu begitu tampan, kamu sangat beruntung mendapatkannya, Devina." seru salah satu rekan kerjanya Devina.


"Iya, ganteng banget." seru rekan kerja yang satunya lagi.


Devina hanya tersenyum tipis mendengar kedua rekan kerjanya memuji ketampanan Bryan. Pria tersebut memang memiliki pesona yang sungguh luar biasa, membuat banyak wanita jatuh hati kepadanya.


Ketika Devina telah keluar dari tempat kerjanya, Bryan rupanya sudah standby di atas motor maticnya, dia menepuk-nepukan jok motor di belakangnya, "Ayo teraktir aku makan, Devina. Aku sudah membuat kamu pulang lebih awal." ucap pria tampan itu dengan begitu bangganya.


Devina tak bisa menolaknya, karena dia juga mendapatkan bonus yang lumayan besar berkat Bryan, apalagi Bryan sudah banyak menolongnya, dia rasa tidak ada salahnya untuk menteraktir Bryan makan malam, sehingga akhirnya dia makan malam bersama Bryan di sebuah rumah makan sederhana yang ada di pulau tersebut.


"Makasih Juan, kamu sudah banyak membantu aku, aku telah berhutang nyawa padamu, berkatmu akhirnya aku tidak jadi ditumbalkan." Devina mengatakannya dengan sepenuh hati kepada Bryan. Berkat Bryan akhirnya dia bisa hidup sampai sekarang. Dua tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas kebaikan pria tersebut.


"Maaf aku cuma bisa menteraktir kamu ditempat seperti ini." sambung Devina kembali. Mungkin Devina hanya mampu mentraktir Bryan di rumah makan sederhana ini, sebenarnya dia malu, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya membalas atas apa yang telah Bryan lakukan kepadanya.


"Iya gak apa-apa, aku senang kok bisa makan malam bersama kamu, kebetulan aku juga tidak akan bisa lama tinggal disini, lusa aku harus kembali ke tempat asalku." Bryan memang sangat menikmati makanan yang di rumah makan sana.


Entah mengapa Devina merasa sedih mendengarnya, "Aku pikir kamu bakalan lama tinggal disini." Padahal dia masih ingin melihat pria tampan tersebut.


"Maunya begitu, aku juga nyaman dengan suasana di pulau ini, tapi aku harus kembali ke tempat asalku dan masih banyak hal penting yang harus aku lakukan." Suasana di pulau P memang sangat nyaman, apalagi ada Devina disana, membuatnya betah. Tapi dia masih harus mencari target lagi.


Devina menganggukkan kepalanya, dia paham betul pasti Bryan bukan driver ojek online sembarangan. Pria itu sebenarnya begitu misterius, entah siapa sebenarnya sosok ojek online tampan tersebut.


"Tadinya aku menginginkan waktu yang tersisa selama dua hari ini dengan aku bisa menghabiskan waktu bersama-sama dengan kamu, jujur saja diantara semua wanita yang ada di pulau ini, hanya kamu yang membuat aku tertarik." Bryan mengatakannya sesuai dengan apa yang dia rasakan, karena memang di pulau ini hanya Devina yang menarik perhatiannya.


Bryan malah menggoda Devina, "Kamu cemburu?"


"Tidak." Devina malah menyangkalnya. Mana mungkin dia terang-terangan bilang cemburu pada anak Pak Camat itu, lagian dia bukan siapa-siapanya Bryan.


[Sistem mendeteksi target sedang cemburu, Tuan. Target benar-benar tertarik padamu.]


Suara sistem malah merusak suasana, padahal Bryan lebih suka dia penasaran dengan perasaannya Devina kepadanya, tapi eh sistem malah memberitahunya.


Setelah makan malam, Bryan mengantarkan Devina pulang ke rumahnya, Bryan telah memarkirkan motor maticnya tepat di depan rumah sederhananya Devina. Keduanya nampak canggung mungkin karena Devina belum memberi jawaban apa dia mau menghabiskan waktu dua hari bersama Bryan di pulau ini.


Bryan bukan tipe seorang pria pemaksa, karena itu dia lebih baik memilih untuk berpamitan karena Devina sama sekali tidak menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah, padahal keduanya sama-sama telah turun dari motor.


"Emm... kalau begitu aku pulang dulu, Devina. Nanti besok aku jemput kamu ya, biar aku yang antar kamu ke tempat kerja." Mungkin untuk saat ini hati ini Devina belum luluh juga , tapi bisa saja kan besok Devina akan luluh kepadanya.


"Kamu gak usah jemput aku, Juan."


Perkataan Devina membuat Bryan terkejut, "Kenapa?"


"Besok dan lusa aku tidak akan masuk kerja, aku sudah izin ke bos aku lewat chat tadi, soalnya aku ingin menghabiskan waktu selama dua hari bersama dengan seorang pria yang aku suka." Devina mengatakannya dengan malu-malu, sampai wajahnya yang berkulit putih tersebut sangat terlihat memerah.


Bryan nampak loading mendengar perkataan Devina. Hal tersebut membuat Devina semakin salah tingkah tak karuan, karena Bryan tak merespon perkataannya.


Kemudian Devina membuka pintu rumahnya, dan dia berkata dengan nada gugup, "A-apa kamu mau masuk?"