Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 53


Awalnya Bryan nampak sedikit merinding begitu melihat bagaimana wujud aslinya iblis Malphas, iblis tersebut memiliki wajah yang sangat mengerikan, giginya bertaring, memiliki kuku yang tajam, memiliki tubuh yang tinggi dan besar, benar-benar mirip seperti monster.


Namun, walaupun begitu, Bryan tak boleh takut, dia segera menyerang iblis Malphas, menghunuskan pedang ke arah iblis tersebut, tapi sayang sekali iblis Malphas dengan cepat menahan lengan Bryan, melempar tubuhnya Bryan mengenai batu besar, sehingga pedang terlepas dari genggamannya.


Brakk...


"Arrrgghh!" Bryan merasa ngilu pada bagian punggungnya, tubuhnya seakan mau remuk.


Tak berhenti disitu saja, iblis Malphas mencekik leher Bryan, mengangkat tubuhnya ke atas.


Kaki Bryan meronta-ronta, merasakan kesulitan untuk bernafas. Tenaga iblis tersebut begitu sangat kuat, sampai iblis Malphas membantingkan kembali tubuhnya Bryan ke bebatuan yang ada disana.


Brakk...


"Arrghh!" Bryan menggeram kesakitan, sampai tubuhnya ada yang terluka karena benturan yang keras.


Bryan terengah-engah, rasanya tak mampu lagi untuk bangkit, sampai dia memuntahkan darah.


Iblis Malphas tertawa puas, "Hahaha, sudah ku bilang bahwa kamu bukanlah tandinganku, akan ku buat kau menjadi abu seperti si tua bangka itu." suara iblis tersebut begitu menggelegar, kekuatannya sangat sulit dikalahkan.


Iblis Malphas berjalan mendekati Bryan, dia bersiap-siap untuk menyerap semua energi Bryan dan menjadikannya abu, seperti apa yang telah dia lakukan pada Ki Darta.


"Bersiap-siaplah untuk mati, wahai pemuda!"


Akan tetapi, iblis Malphas dibuat terkejut ketika melihat Bryan bangkit dengan memancarkan cahaya biru dari tubuhnya, cahaya tersebut adalah cahaya milik sistem yang menyatu ke dalam tubuh Bryan.


Damn!!


Bryan meninju tubuh iblis Malphas, tepat ke bagian dadanya, membuat tubuh iblis tersebut terpental cukup jauh.


Wushhh...


"Arrrgghh!" iblis Malphas merasakan sakit dibagian dadanya, sampai dadanya terlihat ada bolong, cukup begitu besar.


Iblis Malphas segera bangkit, dia terlihat begitu murka, mencoba untuk menyerang kembali dengan mengeluarkan pedang yang ada di tubuhnya.


Bryan segera mengambil pedang ultra, menangkis pedang megatron milik iblis Malphas, kemudian mereka pun bertarung pedang.


Trang...


Trang...


Trang...


Jangan sampai Bryan terkena sedikit saja oleh pedang tersebut, tubuhnya akan hangus. Karena pedang iblis Malphas dapat membakar orang-orang yang terkena dengan pedangnya.


Bamm...


Iblis Malphas berhasil menendang tubuh Bryan, sehingga tubuh Bryan terpental cukup jauh.


Iblis Malphas berlari sambil menghunuskan pedang, siap untuk menebaskan pedang megatron ke arah kepala Bryan.


"Bersiaplah untuk mati, wahai pemuda!"


Tak ada pilihan lain, Bryan melemparkan pedang ultra, sehingga pedang tersebut telah menancap tepat di dadanya Ibis Malphas.


Jleb!


Seketika Iblis Malphas terjatuh, dia meraum-raum kesakitan.


"Arrrggghhh!"


"Arrrggghhh!"


"Arrrggghhh!"


Cahaya biru telah menguasai tubuh iblis Malphas membuat tubuh iblis tersebut kepanasan.


"Arrrggghhh!"


DUAARRRR!


Seketika tubuh iblis Malphas meledak menjadi buih-buih berwarna hitam bertebaran di udara.


[Tuan telah berhasil mengalahkan mereka, karena itu sistem memberikan bonus kepada Tuan, yaitu sisa dana Tuan dikalikan dengan jumlah usia Tuan.]


[Ketampanan naik 5, dan pesona naik 10.]


Bryan tercengang begitu mendengar uang yang telah dia dapatkan, sebuah pencapaian yang luar biasa. Namun dia merasakan nafasnya terengah-engah, tubuhnya telah menyerap semua pil penyembuh luka, akan tetapi Bryan masih merasakan tubuhnya kesakitan.


Kepalanya terasa sangat pusing, tubuhnya terasa begitu lemah tak berdaya, Bryan pun tak sadarkan diri, tubuhnya ambruk ke atas tanah.


...****************...


Bryan perlahan-lahan membuka matanya, dia terkejut begitu menyadari berada di tempat asing, "Dimana aku?" katanya sambil memegang kepala yang terasa pening.


Ding!


[Pemilik sistem telah sadarkan diri kembali.]


[Sistem sedang memproses data pemilik sistem dan penerapan kembali system playboy.]


[0%... 5%... 10%... 35%... 54%... 78%... 100%.]


[Nama: Bryan Juan Pratama


Usia: 27 tahun


Tinggi Badan: 180 cm


Berat Badan: 72 kg


Ketampanan: 110


Pesona: 105


Kekuatan: 60


Kemampuan: Berlari cepat (permanen), tahan api (permanen), kekebalan tubuh (permanen)


Pil Penyembuh Luka: 0


Senjata: Pedang ultra


Dana: 223.020.000.000


Level: 3]


Bryan baru menyadari bahwa dia baru telah sadarkan diri kembali, setelah bertarung dengan sengit melawan Ki Darta dan iblis Malphas.


"Berapa hari aku pingsan?" tanya Bryan kepada sistem.


Sistem segera menjawab pertanyaan dari Bryan.


[Dua hari, Tuan.]


Bryan menghela nafas, itu artinya dia hanya memiliki waktu 10 hari lagi untuk meluluhkan target keempat dan kelimanya.


"Lalu dimana aku sekarang?" tanya Bryan, dia merasa kamar yang ditempatinya begitu asing. Matanya beredar memperhatikan kamar tersebut, sepertinya kamar tersebut milik seorang wanita jika dia melihat bagaimana rapinya kamar tersebut, apalagi di sana terdapat banyak boneka.


Ceklek!


Belum juga sistem menjawab, terlihat ada seorang wanita masuk ke dalam kamar, dia tersenyum melihat Bryan sudah sadarkan diri.


"Akhirnya kamu sudah sadarkan diri juga." kata wanita tersebut, dia sangat bernafas lega sekali.


"Kamu siapa? Devina kemana?" orang yang pertama kali diingat oleh Bryan tentu saja target keempatnya.


"Nama saya Rara, anak Pak Camat disini. Devina sudah pulang ke tempat asalnya. Udah, mending kamu istirahat aja ya."


Bryan sama sekali tidak tahu bahwa selama ini semua wanita yang ada disana berebutan untuk bisa mengurus sang dewa penolong mereka, sehingga akhirnya pemenangnya adalah putrinya Pak Camat karena memiliki kuasa.


Sementara Devina, dia sadar diri, walaupun sebenarnya dia ingin sekali mengucapkan terimakasih kepada Bryan dan membalas kebaikannya, akan tetapi dia tidak diberikan kesempatan untuk melakukannya, karena para wanita disana berantusias untuk memenangkan hati Bryan.


Bryan segera beranjak dari tempat tidur, dia meminta maaf kepada Rara, "Terimakasih Rara karena sudah mau mengurus saya, tapi maafkan saya, saya harus pergi."


Tanpa menunggu persetujuan dari Rara, Bryan pun segera pergi. Akan tetapi dia dibuat terkejut karena di luar rumah Pak Camat ada banyak sekali wanita disana. Siapa yang tak akan tergila-gila pada seorang pria yang datang kesana membuat perubahan besar terhadap pulau tersebut, apalagi Bryan telah berhasil mengalahkan iblis Malphas dan Ki Darta, membuat semua orang bisa hidup dengan tenang dan mulai menata kehidupan mereka dengan menggunakan uang sebaik mungkin uang yang diberikan kepadanya.


"Nak Juan, aku memiliki tiga orang putri. Tolong jadikan aku sebagai mertuamu." ucap seorang ibu berusia 50 tahun.


"Mending sama aku aja, aku gak apa-apa kok jadi istri kesepuluh kamu juga." ucap seorang wanita berusia 30 tahun.


"Kalau seandainya lowongan menjadi istrimu sudah penuh, gak apa-apa kok jika aku daftar jadi pelakor juga, mau jadi pelakor magang juga gak apa-apa, aku ikhlas." ucap seorang gadis berusia 18 tahun.


Pesona kang ojek online itu memang sungguh luar biasa, sampai Bryan nampak kebingungan bagaimana caranya untuk menolak mereka.


Ding!


[Target keempat telah memesan layanan ojek online.]


Bryan terkejut begitu mendengar suara notifikasi dari aplikasi ojek onlinenya.


Sementara itu, Devina nampak melamun, sampai dia tidak konsentrasi dengan data ojek online yang akan menjemputnya. Dia sedang menunggu kedatangan ojek online yang akan menjemputnya.


"Hm, pria itu sedang apa sekarang? Apa dia sudah sembuh?" gumam Devina.


Bryan sangat berjasa sekali di dalam kehidupannya, karena pria itu akhirnya dia bisa menjalani kehidupannya dengan tenang, seorang tante yang selalu bersikap jahat kepadanya kini telah pergi, anak-anaknya Tante Siska pun memilih pergi karena tidak enak harus terus menumpang di rumah Devina, apalagi mereka sudah pada berumahtangga. Sehingga kini Devina benar-benar merasa bebas tinggal sendirian di rumahnya sendiri.


Walaupun selama dua hari ini hatinya tidak tenang karena sangat mengkhawatirkan Bryan, tapi sayangnya dia tidak diberikan kesempatan untuk merawatnya, saingannya begitu banyak, membuat dia merasa tersisihkan, sehingga dia menyadari betul bahwa diantara dia dan pria itu bagaikan bumi dan langit. Sangat susah untuk digapai.