Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 62


Satu hari kemudian...


Di sebuah Mansion keluarga Pratama. Tasya merasa akhir-akhir ini Jordan telah berubah, Jordan sering berlaku kasar kepadanya, bahkan sekarang dia sedang hamil memasuki usia satu bulan, tapi Jordan malah menyuruh Tasya untuk menggugurkannya.


Sehingga wanita itu nampak sedang menangis, perlakuan Jordan sangat berbeda dengan Bryan, selama ini Bryan tak pernah berlaku kasar kepadanya. Pria itu begitu lembut dan sering memanjakan Tasya, sangat berbeda jauh dengan Jordan.


"Bryan, mengapa aku harus merasa kehilangan setelah kamu sudah mati? Seharusnya aku tidak pernah menyia-nyiakan kamu." lirihnya sambil memandangi foto tampan suaminya itu.


Badannya penuh dengan luka lebam karena Jordan sering melakukan kekerasan kepadanya jika wanita tersebut berbuat salah sedikit saja.


Tasya menjadi teringat dengan masa-masa bahagianya bersama Bryan, ketika dia merasa benar-benar menjadi wanita yang spesial untuk pria tersebut. Tasya begitu dinomorsatukan oleh Bryan. Bryan begitu memanjakannya dan menjadikannya seperti seorang ratu.


Jika mengingat bagaimana perlakuan bodohnya Tasya yang telah menyia-nyiakan Bryan, membuat dia merasa wanita paling bodoh di dunia ini. Sungguh dia sangat menyesali kebodohannya.


Sementara itu, Jordan hari ini sedang berada di kota D, tepatnya di Mansion Tuan Arsen, Tuan Arsen adalah mantan gurunya Jordan sehingga dia bisa menjadi mafia sampai sekarang, walaupun Jordan kini sudah tidak bergabung lagi dengan Genk Mabius, karena dia telah membuat sekelompok mafia bernamakan Tengkorak.


Mata Jordan beredar mencari keberadaan wanita yang akhir-akhir ini sering membuatnya tak bisa tidur, wanita tersebut bernama Angel. Dan Angel adalah satu-satunya putri tunggal dari Tuan Arsen, sang ketua Genk Mabius.


Kedatangan Jordan kesana tentu saja untuk melamar Angel, dan dia juga ingin menguasai kekayaan milik Tuan Arsen, apalagi Tuan Arsen memiliki sebuah cincin sakti, walaupun sekarang pria tua itu tak memakainya lagi, mungkin karena sedang dalam masa memperbaiki diri.


Sayangnya Jordan tidak menemukan keberadaan Angel, membuat dia menghela nafas, sepertinya wanita itu tahu bahwa dia akan datang kesana.


"Maaf Jordan, saya tidak bisa menerima lamaranmu. saya tidak bisa memaksakan kehendakku kepada putriku, karena itu tolong jangan datang lagi kesini." ucap Tuan Arsen, saat ini dia dan Jordan sedang duduk di ruang tengah.


Di ruang tengah tersebut terdapat Tuan Arsen dan Jordan beserta anak buah mereka yang selalu setia berdiri di belakang mereka.


Jordan tertawa ketika mendengar penolakan dari Tuan Arsen, kemudian dia menodongkan pistol ke arah Tuan Arsen, "Hahaha... rupanya kamu telah membuat aku kesal, Pak Tua."


Zdor...


Sebuah peluru telah bersarang tepat di kepalanya Tuan Arsen, membuat pria tua itu mati seketika, darah segar bercucuran di kepalanya.


Hal tersebut menimbulkan peperangan hebat diantara kedua kubu. Penembakan itu begitu cepat, sehingga anak buahnya Tuan Arsen tidak menduga bahwa Jordan akan bisa setega itu kepada mantan gurunya.


"Cepat cari keberadaan Angel! Aku akan memberikan dia pelajaran karena telah berani menolakku!" bentak Jordan, Jordan bukanlah orang yang gampang menyerah begitu saja, dia harus mendapatkan apapun yang menjadi incarannya, termasuk dalam harta maupun wanita.


Wajahnya nampak merah padam, memperlihatkan bahwa dia benar-benar sangat marah sekali.


...****************...


Rupanya sekarang ini Angel sedang melarikan diri, walaupun dia sebenarnya tidak tega meninggalkan ayahnya, tapi ayahnya menyuruh anak buahnya untuk membawa Angel pergi secara paksa.


Zdor!!


Zdor!!


Zdor!!


"Kita harus secepatnya pergi dari sini, Nona!" ucap David, kaki tangannya Tuan Arsen.


Angel ingin melepaskan diri dari genggaman David, sayangnya David tidak bisa melepaskannya, karena dia telah berjanji kepada Tuannya untuk menjaga sang Nona.


"Lepaskan aku, Paman. Aku harus kembali ke Mansion." Angel masih saja berusaha berontak.


"Maafkan saya, Nona. Saya harus menjaga Anda sampai titik darah penghabisan. Tuan Arsen mencoba untuk mengulur waktu agar Nona bisa melarikan diri, tolong hargai pengorbanannya. Tuan Arsen tidak ingin Nona menjadi korban kebengisan Jordan." lirih David.


Angel hanya bisa menangis, dia pun pasrah ketika David menarik tangannya membawanya berlari. Sungguh dia tidak akan pernah memaafkan Jordan jika seandainya ayahnya terluka oleh pria itu. Dia sangat berharap ayahnya baik-baik saja.


Suasana menjadi tegang ketika mereka mendengar suara langkah beberapa orang yang sedang berlarian untuk mengejar mereka.


"Itu mereka!" teriak salah satu anak buahnya Jordan.


Angel dan David berusaha untuk mempercepat larinya.


Akan tetapi...


Zdor!!


Sebuah peluru melesat ke bagian kepala David, membuat badan pria itu tumbang ke tanah, dan mati seketika, hal tersebut membuat Angel menjerit histeris, apalagi wajahnya terkena cipratan darahnya David.


...****************...


...Acungkan kaki kalian yang menjawab Angel !! Silahkan lempar no hpnya ke chat....