Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 54


"Maafkan saya, saya tidak bisa menikahi siapapun wanita yang ada di pulau ini. Bukan karena diantara kalian tidak ada yang menarik, kalian semua cantik, hanya saja saya masih memiliki banyak urusan yang harus saya selesaikan, dan belum siap untuk menikah." perkataan Bryan telah membuat hampir semua wanita yang ada di pulau tersebut patah hati.


Pupus sudah harapan mereka untuk bisa bersanding dengan Bryan, seorang pria yang sudah membuat mereka terpesona dengan ketampannnya, dan membuat mereka kagum dengan kebaikan hatinya.


Bagaimana bisa dia menikah? Sementara dia juga masih belum jelas statusnya apakah dia manusia atau hantu.


Tapi mau bagaimana lagi, yang namanya cinta tak harus memiliki dan tak bisa dipaksakan, sehingga mereka semua menerima dengan lapang dada keputusan dari Bryan. Tidak ada alasan untuk membenci pria itu, karena Bryan telah berbuat baik kepada mereka, sekarang ini telah diadakan perbaikan jalanan yang rusak dan merenovasi sekolah dasar yang atapnya sudah rusak, apalagi pria tampan itu telah membuat mereka terlepas dari Ki Darta dan iblis Malphas.


Bukan hanya itu, hari ini pun Pak Camat ingin berbicara secara langsung dengan Bryan, secara terang-terangan ingin meminta Bryan untuk menjadi suami putrinya.


"Saya ingin sekali Nak Juan itu menjadi suaminya Rara, anak saya." ucap Pak Camat. Dia sangat menginginkan memiliki sosok memantu seperti Bryan. Pintar, tampan, berwibawa, dan memiliki kekuatan sampai bisa mengalahkan Ki Darta, siapa yang tak ingin memiliki menantu seperti itu.


Saat itu Bryan terpaksa harus masuk ke dalam rumah Pak Camat sebentar untuk berpamitan padanya. Bagaimanapun juga Pak Camat sudah merawatnya ketika dia pingsan setelah bertarung dengan iblis Malphas dan Ki Darta, sungguh sangat menguras tenaga.


Rara memang cantik, dia pun tersenyum-senyum mencuri pandangan pada Bryan, berharap Bryan mau menerima permintaan ayahnya. Karena dia telah jatuh hati kepada pemuda tampan tersebut.


"Maaf sekali Pak, saya tidak bisa menerima tawaran dari bapak. Saya belum siap menikah dan saya rasa Rara pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari saya." Bryan memang tidak bisa menerima permintaan dari Pak Camat tersebut.


Rara dan Pak Camat sebenarnya kecewa, tapi mau bagaimana lagi, Bryan memang tak memiliki perasaan apapun pada Rara. Mereka tak bisa memaksanya.


"Emm... ya udah tidak apa-apa, Nak Juan. Tapi saya sebagai camat disini, ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada nak Juan, atas kebaikan nak Juan, akhirnya kami bisa terlepas dari Ki Darta dan juga nak Juan sudah membantu perekonomian masyarakat disini." Pak Camat mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


Bryan pun menganggukkan kepalanya. "Iya sama-sama, Pak."


Setelah menyelesaikan semua masalahnya bersama dengan para wanita di pulau tersebut termasuk dengan Rara, sang putri dari Pak Camat, Bryan pun segera pergi.


Bryan harus pergi menjemput Devina, sepertinya wanita tersebut akan pergi ke tempat kerjanya karena Devina sudah mulai bekerja lagi. Devina bekerja di sebuah toko tas di pulau tersebut.


Bryan tersenyum ketika dia melihat Devina yang sedang menunggu kedatangan sang ojek online di depan rumahnya.


"Ojek mbak?" tanya Bryan sambil membuka helm hitamnya, sehingga membuat Devina terkejut ketika melihat wajah sang ojek online itu.


"Juan?"


Bryan tersenyum menawan, wanita manapun yang melihat dia tersenyum seperti itu, pasti hatinya akan meleleh. "Hai Devina."


Devina tak paham mengapa orang sehebat dan sekaya Bryan masih mau bekerja sebagai driver ojek online, tapi dia tidak ingin bertanya apapun kepada Bryan dan dia tidak boleh berharap lebih kepada Bryan. Mungkin karena masih teringat kata-kata para wanita yang menghina dirinya karena tahu dia dan Bryan pernah tinggal bersama di hutan.


Devina berpura-pura bersikap biasa-biasa saja, padahal hatinya sangat berdebar-debar, dia segera memakai helm khusus penumpang, kemudian dia naik ke atas motor matic tersebut, tepatnya dibelakang Bryan.


Tak ada pembicaraan apapun diantara mereka berdua, mungkin karena mereka berdua belum sempat melakukan pendekatan, apalagi waktu itu Bryan lebih fokus ingin melenyapkan Ki Darta dan iblis Malphas dahulu. Walaupun mereka belum bisa melupakan dari tragedi handuk melorot itu.


Setelah sampai di toko tas, Devina pun turun dari motornya Bryan, dia memberikan uang 30 ribu untuk membayar ongkos, "Makasih ya sudah mengantarkan aku, ini ongkosnya, Juan."


Bryan tak ingin menerima uang tersebut, "Bagaimana kalau teraktir aku makan?"


"Maaf Juan, sepertinya aku harus pulang malam sekali." Sebenarnya Devina ingin bisa makan malam bersama seorang pria yang sudah membuatnya tidak bisa tidur nyenyak selama dua hari ini, tapi dia harus bekerja. Apalagi toko tas tempat dia bekerja sangat sepi pengunjung, mungkin karena kalah saing dengan toko tas lainnya di pusat perbelanjaan yang ada di pulau P sana.


"Kalau kamu pulangnya tidak malam berarti mau dong?" Bryan mengatakannya sambil tersenyum menggoda.


Hal tersebut membuat hati Devina semakin tak karuan, mengapa harus ada mahkluk setampan itu di dunia ini. Tapi dia berusaha menyembunyikan perasaannya kepada Bryan, "Emm... kayaknya gak mungkin deh, soalnya toko tempat aku kerja harus mencapai target disetiap harinya, makanya aku sering pulang malam."


Devina melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya, ternyata waktu menunjukkan telah jam 8 pagi, "Juan, maaf aku buru-buru sekali, aku kerja dulu ya." pamitnya.


Bryan hanya menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum manis.


...****************...


Siang ini Devina nampak mengeluh bersama kedua rekan kerjanya, karena tak ada satu konsumen pun yang datang berkunjung kesana.


"Haduh, kalau begini terus gaji kita gak akan full lagi bulan ini dan kita harus lembur." ucap Sulastri, rekan kerjanya Devina.


"Iya benar, padahal toko tas sebelah rame terus." ucap Diani, rekan kerjanya Devina juga.


Devina lebih memilih diam, karena keluh kesah dia sudah terwakilkan oleh kedua rekan kerjanya.


Akan tetapi mereka bertiga dibuat terkejut ketika melihat ada segerombolan wanita masuk ke dalam toko tas tersebut, rupanya di depan toko tas itu terlihat ada Bryan yang sedang mempromosikan toko tas tempat kerja Devina.


Hal tersebut membuat Devina dan kedua rekannya kewalahan, karena banyak wanita yang berdatangan untuk membeli tas, pesona Bryan sungguh luar biasa, membawa keberuntungan pada toko tas tempat kerjanya Devina.


Bryan tersenyum di depan toko tersebut sambil mengedipkan mata ke arah Devina begitu menyadari Devina diam-diam sedang melirik ke arahnya, membuat Devina menjadi salah tingkah dan wajahnya nampak merah merona, rupanya dia ketahuan diam-diam memperhatikan Bryan.