Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 60


Bryan ingin rasanya mengumpat kepada sistem karena sistem menolak untuk membantunya, sehingga dia akhirnya harus pasrah saja ketika Rachel, Luna, dan Lilis ternyata sudah berada di depan rumahnya, sehingga terjadi kegaduhan di luar sana.


Hanya Devina yang tidak hadir, mungkin karena Devina sedang sibuk memantau proses pembangunan mini market di pulau P.


Bryan mencoba untuk memisahkan mereka bertiga yang sedang saling jambak-jambakan di depan rumahnya.


"Juan itu punyaku!" ucap Luna dengan tegas, dia menjambak rambut Rachel dan Lilis.


"Gak bisa, dia adalah milikku!" Rachel tak mau kalah, tangan kanannya sedang menjambak rambut Luna, sementara tangan yang kiri sedang menjambak rambut Lilis.


Lilis pun tak mau kalah, dia menjambak rambut kedua wanita tersebut, "Siapa bilang? Juan itu milikku!"


Bryan tak menyerah, dia berusaha untuk memisahkan ketiga wanita tersebut, "Hei sudah... sudah, jangan berantem kayak gini."


Kini menjadi berbalik, mereka bertiga malah menjambak rambut Bryan, sampai Bryan beberapa kali dibuat meringis, "Ahhh... ahhh... aduh...!" Seakan rambutnya hampir mau rontok semua, bahkan ada juga yang menjewer kupingnya.


Sepertinya mereka benar-benar geram kepada Bryan, seakan telah dipermainkan olehnya, mungkin karena ketiga wanita tersebut kini telah menaruh hati kepada Bryan. Siapa yang tak menaruh hati kepada pria yang memiliki ketampanan di luar nalar dan memiliki sejuta pesona.


Sebuah penyiksaan yang amat mengerikan.


Setelah satu jam kemudian, akhirnya Bryan bisa menenangkan mereka bertiga, kini dia sedang duduk di kursi pendek yang ada di ruangan tengah. Sementara Rachel, Luna dan Lilis duduk di kursi panjang yang sama, mereka duduk bersebrangan dengan Bryan.


Bryan merasa ngeri melihat tatapan mereka begitu tajam memandanginya, seakan seperti singa betina yang siap untuk menerkamnya sampai habis.


"Sebenarnya diantara kita bertiga, siapa yang kamu pilih, Juan?" tanya Rachel kepada Bryan.


Bryan mengkoreksi ucapan Rachel, "Emm... sebenarnya bukan tiga, tapi...tapi empat hehe... " Bryan pura-pura terkekeh sambil menunjukan salam empat jarinya kepada ketiga wanita dihadapannya.


"Empat?" Ketiga wanita tersebut mengatakannya hampir bersamaan, sama-sama memelototkan kedua mata masing-masing, saking kagetnya.


[Lima, Tuan. Target kelima lagi on the way.]


Akhirnya sistem mulai memberanikan diri untuk muncul lagi, setelah sekian lama bersembunyi, mungkin karena suasana disana sudah mulai tenang, maka dari itu sistem memberanikan diri untuk muncul lagi.


"Apa? Lima?" Mereka bertiga terkejut bukan main. Ternyata saingan mereka cukup banyak.


"Lalu siapa yang akan kamu pilih?" Kini Luna yang ingin meminta kepastian pada Bryan.


"Aku datang kesini karena ingin meminta kepastian padamu." Lilis pun tak mau kalah, dia ikut bicara.


"Sejujurnya perasaan aku sama kalian itu seimbang, aku mencintai kalian semua. Tapi untuk saat ini aku harus fokus menyelesaikan masalah aku dulu, apalagi aku saat ini masih berstatus suami orang, aku ingin segera menceraikan istriku." Memang benar, sampai kini Tasya masih berstatus istri sahnya Bryan, Bryan berencana untuk segera menceraikan wanita itu setelah dia bisa kembali menjadi manusia yang seutuhnya.


"Astaga! Jadi selama ini aku sudah menjadi pelakor?" sewot Rachel, dia nampak menganga, sambil menunjuk dirinya sendiri. Sebuah gelar yang tak pernah dia harapkan sebelumnya.


Sementara Luna terkekeh, "Hm, why not? Kapan lagi ada pelakor cantik, elit, dan baik hati, dan manis kayak aku." Dia tak mempermasalahkannya, bahkan wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada, seolah-olah bangga dengan gelar baru yang dia dapatkan.


Lilis juga ikut terkekeh, "Apalagi pelakor made in kampung, itu sangat langka." Lilis merasa hal tersebut sangat langka sekali.


Rachel menimpali ucapan mereka, dia tak mau kalah dengan mereka berdua. "Dan aku adalah pelakor multitalenta, aku begitu ahli dalam urusan dapur, kasur, dan sumur. Bukan hanya itu, aku juga bisa berbisnis." Rachel mengedipkan matanya kepada Bryan.


Bryan pikir akan terjadi perang besar mengalahkan perang shinobi yang telah terjadi di negeri konoha, sehingga dia nampak lega dengan ketiga wanitanya itu, sementara Devina sudah tahu itu semua, dan tentu saja Devina tidak mempermasalahkannya.


Tapi sayangnya Bryan di buat kesal oleh mereka bertiga, mereka bertiga malah menganggurkannya, mungkin karena mereka kini telah saling akrab, sehingga keasyikan untuk saling berbagi cerita, sampai mereka bertiga tidur satu kamar, sementara Bryan terpaksa harus mengalah, dia tidur di kursi tua.


Prokk...


Prokk...


Prokk...


Bryan menepukan kedua tangannya beberapa kali, untuk memukul nyamuk-nyamuk yang mengganggu tidurnya. Dia tak keberatan harus tidur di kursi, yang penting ketiga wanitanya akur. Untung saja Devina lagi sibuk, kasurnya tidak akan muat jika harus ditiduri oleh empat orang.


Bryan menghela nafas ketika mendengar suara gelak tawa ketiga wanitanya, entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya mereka sangat akrab sekali.


"Apa yang sedang mereka bicarakan? Apa mereka sedang membicarakan joni agungku?" gumam Bryan, akan sangat nikmat jika seandainya mereka mau diajak bercinta bersama, tapi sepertinya mereka masih kesal kepada Bryan.