Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 90


Alex baru saja tiba disekolah dengan menaiki motor miliknya,setelah kemarin libur karena ada sebuah masalah kecil didalam keluarnya dan hari ini pemuda yang mendapat julukan Bad Boy oleh murid murid disekolahnya sudah masuk sekolah lagi.Setelah memarkirkan motor miliknya,ia melangkah memasuki area dalam gedung sekolah.Alex tentu tak langsung menuju kekelasnya,ia akan ke rooftoof terlebih dahulu.


Sesampai dirooftoof,Alex langsung mengeluarkan bungkus rokok miliknya dan juga menyalakan pemantik api.


Huf...kepulan asap rokok langsung keluar dari mulut dan hidung cowok itu,berterbangan disekitarnya.


"Pantes aja lo gak pernah dianggap dikeluarga,masih SMA kok ngerokok"


Alex tak bergeming mendengar perkataan orang yang kini berdiri dibelakangnya itu,tanpa menolehpun ia sudah tau siapa itu.


Tap...tap...tap...langkah kaki terdengar mendekat dan kini orang itu sudah berdiri disamping kiri Alex,posisi Alex sendiri kini tengah duduk diatas pembatas rooftoof yang terbuat dari beton cor.


Huf...Asap hasil pembakaran rokok kembali berhembus keluar.


"Bukannya lo dan nyokap lo seneng kalau gue gak dianggap sama mereka,lo jadi cucu sekaligus keponakan kesayangan orang orang munafik itu"ujar Alex kepada orang yang berdiri disebelahnya itu.


"Oh jelas iya.Selain itu gue emang layak buat itu semua.Gue dan nyokap ditakdirin untuk jadi pemenang, sedangkan takdir lo dan nyokap lo adalah jadi pecundang dibawah kami"


ujar orang itu,terdengar sangat sombong.


Alex tersenyum miring lalu kembali menghisap puntung rokoknya lalu menghembuskan asap ke udara


"Oh ya?tapi kalau lo emang udah ngerasa jadi pemenang,kenapa lo masih pontang panting dengan keberadaan gue?"


Alex menoleh kesamping atas,menatap langsung sosok lawan bicaranya sejak tadi itu dengan remeh


"Gue bahkan belum nyalain mesin gue di garis start,tapi lo yang bahkan menurut lo udah sampai finish dan jadi juara masih ketakutan kalau gue bisa ngelampui lo Vero Admajaya"


Vero mengepalkan dengan sekuat tenaga,ya lawan bicara Alex sejak tadi itu adalah Vero.Vero Admajaya,


kekasih mendiang Lala Gentari Abraham.


Alex beranjak dari posisinya lalu melompat turun keatas lantai rooftoof dan kini berdiri tegak disamping Vero,kini kedua cowok dengan image yang sangat bertolak belakang yang sangat melekat pada diri masing masing itu saling berhadapan beradu tatapan yang kuat


"Jangan pernah sombong atau meninggi didepan gue Vero.Gue bukan kalah tapi memang memilih untuk gak terlibat dalam kompetisi norak yang lo dan nyokap lo ciptain,jadi jangan pernah ngerasa lebih dari gue karena lo dalam hitungan sebenarnya bahkan gak pernah ada didalam posisi itu"ujar Alex.


"Lo bilang kayak gitu karena lo iri dan gak sanggup kayak gue-kan,lo gak bisa jadi pemenang kayak gue.Makanya lo bilang kayak gitu,biar lo gak malu sama diri lo yang terlahir sebagai pecundang itu!"balas Vero


Hehehe...Alex tertawa kecil mendengar perkataan Vero itu.


"Iri lo bilang?lo bilang gue iri?


Buat apa gue iri sama orang yang rela jadi peliharaan ambisi orang tuanya,cuma demi pengakuan"ujar Alex,membuat Vero menjadi geram mendengarnya.


"Pokoknya gue akan terus menang dari lo,liat aja!...,"Vero mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya langsung ke depan wajah Alex "Lihat aja,gue gak akan cuma bikin keluarga besar berpihak ke gue,tapi Lily dan keluarganya juga.Cam-Kan itu!"ujar Vero menggebu gebu.


Alex menaikkan sebelah alisnya saat tiba tiba orang didepannya itu membawa bawa nama Lily sahabatnya dalam perdebatan itu


"Apa hak lo ngatur ngatur gue?"tanya Vero dengan ekpresi yang menyebalkan menurut Alex.


"Lily sahabat sekaligus temen sekelas gue,jadi gue berhak ngelarang lo"jawab Vero.


"Tapi gue itu adalah kekasih dari mendiang kembarannya sekaligus mantan calon kakak iparnya,jadi gue lebih berhak dari lo Lex.Itu belum termasuk ada kemungkinan besar,gue sama dia punya hubungan yang lebih dekat"ujar Vero yang terdengar semakin menyebalkan.


Alex menatap nyalang sosok Vero yang berdiri dihadapannya itu,ini adalah sosok Vero yang sebenarnya.Bukan yang seperti yang dikenal oleh orang orang dengan sifatnya yang baik dan kriteria good boy.Vero yang sesungguhnya adalah seorang yang ambisius,manifulatif,dan bermuka dua.


"Lo gak akan bisa Vero"ujarnya pada Vero.


"Gue bakal buktiin sama lo kalau gue bisa,liat aja Lex"setelah mengatakan hal itu,Vero langsung berbalik meninggalkan tempat itu.


Huh...Alex menghembuskan nafas kesal,ingin sekali ia menonjok wajah manipulatif milik Vero namun harus ia tahan karena itu akan menguntungkan orang itu.


Alex memilih untuk kembali naik diatas beton pembatas rooftoof dan duduk disana menatap kebawah.


Baru beberapa saat ia berada dalam posisi itu kembali,namun ia langsung dikagetkan oleh sebuah susu kotak rasa coklat yang disodorkan padanya.


Ia langsung menoleh kebelakang dan menemukan Lily yang berdiri tepat dibelakangnya,tentu ia kaget dengan keberadaan cewek itu disana.*Sejak kapan Lily disana?*batinnya.


"Lo Sejak kapan disini?"tanya Alex dengan wajah paniknya.


"Terima dulu"suruh Lily sambil terus menyodorkan susu kotak ditangannya kepada Alex.Untuk kedua kalinya Alex turun dari atas beton pembatas itu lalu buru buru menerima pemberian Lily kepadanya.Lily berpindah berdiri di samping Alex setelah cowok itu menerima susu kotak pemberiannya,gadis itu kemudian menghisap selang susu kotak miliknya


"Gue udah ada disini sebelum lo datang btw"ujar Lily dengan tenang, namun ketengangan yang ditunjukkan Lily itu malah membuat Alex makin panik.


"Tapi tad..."


"Gue ada diatas sana tadi"Lily memotong perkataan Alex,ia menunjuk kearah sisi rooftoof dimana ada bagian rooftoof yang dibuat lebih tinggi dari tempat mereka berdiri kini.


"Jadi Lo...?"


"Gue denger semuanya"untuk kedua kalinya Lily memberi jawaban atas perkataan Alex yang belum selesai.


"Gue kira cuma feeling gue aja yang ngerasa kalau ada yang aneh sama tuh cowok,tapi ternyata feling gue bener...,"Lily kembali meminum susu kotak ditangannya"Satu anugrah yang selalu gue syukurin ke tuhan adalah dimana tuhan hampir selalu ngasih pembuktian atas hampir semua feeling yang gue rasain"lanjut Lily.


"Jadi lo sama Vero itu punya hubungan keluarga ya"ujar Lily sambil melihat kearah Alex.


"Hm ya gitulah,nyokapnya dan mama gue kakak adik.Tapi ya seperti yang lo bilang tadi,hubungan keluarga gue sama itu orang lebih cocok disebut musuh bebuyutan ketimbang sebuah kata keluarga"


Akhirnya hari ini Alex memberanikan diri mulai terbuka tentang permasalahan keluarganya.


"Tapi takdir kadang emang selucu itu Lex,orang terdekat bisa jadi musuh dan orang yang jauh bisa jadi kayak keluarga kita sendiri"ujar Lily kepada Alex.