Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 45


Suasana kantin sekolah hari ini nampak sedikit berbeda,suara riuh murid murid yang biasanya terdengar memenuhi area kantin sejak lebih kurang lima menit yang lalu terhisap entah kemana meninggalkan suasana senyap dicampur aura sedikit menegangkan.


Penyebab terciptanya suasana itu tak lain dan tak bukan adalah para penghuni dua meja yang berada ditengah tengah kantin,meja pertama yang dihuni oleh Anan-Agnes ddk sedangkan meja kedua dihuni oleh Lily-Alex serta bapak-ibu ketua ruang 11 lain dan Yura dkk juga.


nah keberadaan Yura dkk ini nih dimeja yang Lily tempati yang menjadi pemicu utama kesenyapan serta suasana tegang yang tercipta diarea kantin.


Gimana enggak,semua warga sekolah tahu sekali bagamana ketidak akuran geng Yura dkk dengan gengnya Agnes pacar sepupunya Lily itu.Disetiap kedua geng itu berada disatu tempat yang berdekatan,itu seolah olah pemantik api dan bensin.Keberadaan Alex didekat Lily akhir akhir ini saja sudah sering hampir menimbulkan bentrok dengan gengnya Anan,dan hari ini tiga kubu yang sebaiknya tidak boleh berada didalam jarak berdekatan kini malah duduk dimeja kantin yang bersebelahan.


Adam dan Iren sesekali menoleh mengamati sekitar kantin,setelah itu keduanya mengamati dua gadis yang kini duduk berhadapan dan sibuk dengan makanan masing masing.


Adam melirik juga kearah meja sebelah dimana para penghuni meja itu juga terlihat tak segan segan menunjukkan kalau mereka kini tengah ikut mengamati sekaligus mengawasi pergerakan dari kedua gadis itu.


Hah...Lily tiba tiba menghela nafasnya pelan,sikapnya yang terlihat cuek dan lebih memilih fokus pada makanannya bukan berarti gadis itu tak tahu serta tak paham dengan situasi yang terjadi.Kepekaan penilaian dan analisis sekitar adalah salah satu kelebihan yang dia miliki asal kalian tahu itu,gadis lain yang tak kalah peka juga menyadari helaan nafas pelan dari gadis yang duduk didepannya itu.


"Habiskan makanan lo aja dulu,gak usah hirauin tatapan mereka"ujar Yura kepada Lily.


"Gue gak hirauin tuh"saut Lily, meskipun tanpa ada nama yang disebut tentu dia tahu kalau perkataan Yura itu tertuju padanya.


"Baguslah.Nih sekolah emang dipenuhi orang orang kepo trus suka nyampurin urusan orang,jadi biasa biasain aja kalau mereka jadiin lo objek tatapan mereka"ujar Yura.


"Tapi kayaknya udah lo lakuin" sambung gadis itu.


Sebuah senyuman tipis terbit dibibir Lily,ia setuju dengan pendapat Yura tentang sifat sebagian warga sekolah ini.


"Tapi mata mereka gak bakal kesini semua kalau lo gak gabung sini"ujar Lily kepada Yura.


"Lo bener,apalagi meja sebelah"ujar Yura,kemudian gadis itu menoleh spontan kearah meja Anan-Agnes dkk.


"Hai Guys apa kabar,lama gak ketemu"


Yura menyapa semua penghuni meja sebelah,tak peduli kalau tatapan tak bersahabat dari sebagian besar mereka.


"Gak Usah Basa Basi Lo!"saut Rora dari meja sebelah.


"Dih.nona Rora sensian sekali semenjak satu anggota segengnya out.Ups sory"Yura mengatakan itu dengan sangat tenang.


"LO!"Rora bangkit dari tempat duduknya langsung menunjuk kearah Yura dengan penuh amarah,cewek itu hampir menyerbu Yura namun beruntung ada Agnes yang menahannya.


"Jangan gitu Yur,nona Rora sensi mungkin gara gara nih kepanasan liat ekhem ekhem"sahabat Yura bernama Ella.


"Bisa jadi tuh,apalagi ekhem ekhem gak peduli sama sekali"sambung Cristy,sahabat Yura yang satunya.


"Ah iya kah nona Rona?"ujar Yura menatap Rora dengan tampang tengilnya.


"LO KAYAKNYA EMANG MAU CARI RIBUT YA!"teriakan penuh emosi dari Rora menggema diseluruh kantin membuat tempat mereka kini semakin menjadi pusat perhatian oleh murid murid lain.


Rora melepaskan tangannya yang ditahan oleh Agnes tadi lalu langsung berjalan dan berhenti tepat dihadapan Yura,jangam tanyakan ekpresi Yura bagimana karena cewek yang satu itu nampak tenang dengan senyuman penuh ledekan yang masih melekat diwajahnya.Rora menunjuk tepat didepan wajah Yura lalu mulai bicara lagi


"Jangan Mentang Mentang Sahabat Gua Udah Gak Ada Lo Jadi Mau Semena Mena Sama Geng Kita Ya,ADA ATAU GAK ADANYA LALA ITU GAK BAKAL BIKIN KITA BIARIN LO NGUSIK GENG KITA!"ujar Rona Berseru diakhir.


Repon Yura?cewek cantik itu malah langsung terkekeh mendengar perkataan yang Rona lontarkan itu,


Lily sekarang asik memuji bagimana sikap Yura yang setenang itu didalam keadaan seperti ini.Kalau saja dirinya tengah bukan dalam sebuah misi,mungkin Lily akan menanyakan apakah Yura membuka les privat untuk itu.Ya meskipun kalau dipikir pikir sepertinya Lily lupa berkaca pada cermin.


"Rona rona rona,apa lo bilang barusan?ngusik geng kalian?kapan?gue gak pernah ngusik geng kalian sejak dulu sampai sekarang kini.Cuma lo sama temen se-geng lo itu aja yang risihan orangnya"ujar Yura


"Dan soal my rival Lala,temen lo itu udah mati.Gak baik sebut sebut orang yang udah mati,datang beneran pingsan lo"sambung gadis itu.


"Jangan sebut sebut nama sepupu gue dengan mulut kotor lo itu"Anan yang sejak tadi diam ikut bersuara.


"Ini urusan cewek bro,mending lo gak usah ikut campur"Alex.


"Lo yang seharusnya yang gak usah ikut campur"Vero menyelak perkataan Alex,cowok itu menatap Alex tajam.


Alex yang menyadari tatapan tajam yang Vero berikan kearahnya langsung menggerakkan salah satu tangannya merangkul pundak Lily,sebuah senyuman meledek dia layangkan kepada Vero.


Namun tindakan pergerakan kecilnya itu bukan cuma membuat darah Vero mendidih saja,tapi juga membuat darah Rora semakin mendidih karena ikut melihat hal itu.


"Kita balik kelas yuk Ly,gak baik buat anak baik kayak kita ikut keributan disini"ujar Alex kepada Lily,membuat Iren dan Adam menepuk kening spontan karena melihat tingkah Alex yang seperti bensin ditengah tengah tungku yang menyala.


"Yuk,makanan gue juga udah habis" jawab Lily yang mulai beranjak dari tempatnya,ekpresi tak peduli dipasang rapi oleh Lily diwajah cantiknya.


"Lo mau pergi gitu aja,gak peduli lo kalau geng kembaran lo lagi dihina sama ini orang.Lo kembarannya sahabat gue apa bukan?Lo harusnya ikut belain kita bukan cuma main pergi gitu aja!"ujar Rora yang membuat Lily langsung menaikkan alisnya menatap cewek itu heran.


"Gue emang kembarannya Lala,tapi apa hubungannya gue sama geng peninggalannya dia?Dan lagi gue itu orang baru yang bahkan gak tau sedikitpun tentang penyebab permusuhan lo pada"ujar Lily kepada Rora dan yang lain.


"Keberadaan gue disini juga bukan buat lo semua,tapi buat satu tujuan gue doang"tambah Lily,ia kesal mendengar perkataan Rora yang membuat dirinya seolah olah punya tanggung jawab dalam pertikaian itu.


Yura tersenyum mendengar perkataan gamblang dari Lily itu,ia kemudian menoleh kearah Alex.


"Alex,bawa cewek lo jauh dari sini.


Dia emang gak punya sangkut paut akan hal disini"ujar Yura kepada Alex.


"Oke"saut Alex singkat,setelah itu ia langsung mengeratkan rangkulannya dan membawa Lily pergi dari tengah tengah kantin itu.