
Seorang remaja perempuan berseragam sekolah baru saja memasuki rumah kediaman yang menjadi tempat tinggal dirinya dan keluarga,bukan gadis itu bukan Lily melainkan Iren.Iya Iren,ketua kelas 12 IPS 6 alias ruang 11.
Iren memasuki rumahnya dengan wajah tenang yang selalu ditampilkan,gadis itu melirik kesegala penjuru area yang dia lewati sampai menuju tangga.Arah lirikannya itu tak lain dan tak bukan adalah beberapa titik yang menjadi tempat cctv pengawas dipasang,mulai diatas meja tv didekat sofa hingga beberapa titik yang totalnya mencakup 4 cctv untuk bagian dalam ruang depan lantai satu saja.Saat gadis itu selesai menaiki tangga sampai ke lantai dua-pun, dirinya juga disambut oleh sebuah cctv.
Iren masih dengan ekpresi tenang dan bersikap seolah olah sudah terbiasapun akhirnya sampai didalam kamarnya,salah satu ruangan dari sedikitnya ruangan yang masih bisa melindungi privasi seseorang yang memasukinya.
Hah...helaan nafas berat langsung terdengar sesaat setelah pintu kamar ditutup.Meski sudah menjalani kehidupan seperti ini dirumahnya, namun sejujurnya Iren merasa sangat tidak nyaman seperti ini.Rumah kediaman keluarganya ini lebih mirip seperti penjara atau tempat isolasi para pelaku kriminal,dari pada bisa disebut sebagai sebuah rumah yang nyaman.Bayangkan saja,total ada 25 cctv yang terpasang diseluruh area lingkungan rumah ini.
Iren menyimpan tas sekolahnya dengan rapi,begitu juga dengan sepatunya yang disusun rapi didalam rak sepatu.Setelah itu ia mengambil baju ganti dari dalam lemari dan bergerak memasuki kamar mandi untuk berganti baju.
Iren keluar dari kamar mandi setelah ganti baju selesai,saat ia keluar sudah terlihat nampan berisi sepiring cemilan dan segelas jus buah serta segelas air putih diatas meja belajarnya.Gadis itu tak bertanya tanya siapa yang mebaruhnya disana karena sudah pasti itu adalah pekerjaan dari pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah itu,selain itu ini sudah menjadi kebiasaannya setiap pulang sekolah.
Iren maraih satu cookies didalam piring dan memakannya,bergerak mengunci pintu kamar lalu ia duduk dikursi didekat meja belajarnya kemudian mengaktifkan laptop miliknya.
Sepuluh menit berselang setelah ia fokus mengerjakan sesuatu didalam laptopnya,Iren melirik kearah jam yang ada disudut monitor laptop dan
sudah jam tiga sore rupanya.
*Kemana dia pergi?*batin Iren memikirkan sesuatu.
Gadis itu segera meraih hpnya dan menghubungi salah satu nomor kontak yang berada didalam daftar kontak yang tersimpan dihpnya.
"Halo"
"Dimana lo sekarang,udah jam tiga nih?"
"Iyakah?bentar...,"seseorang diseberang sana diam sebentar "Anj*ir iya lagi,aduh gimana nih mana bengkel masih rame lagi"lawan bicara Iren itu terdengar sedikit menggerutu sambil khwatir.
"Lo mah gitu terus,yaudah sekarang mending lo kirim pesan ke mereka.
Bilang sekaligus izin sama mereka kalau lo bakal terlambat pulang gara gara mau nongkrong dulu sama temen temen lo,jangan bilang belajar kelompok atau nugas tapi yang ada lo kena semprot sama mereka lagi"Iren
"Iya iya gue kirim pesan buat mereka habis ini,btw lo dimana sekarang?"
"Mau tau aja,kakak kembar gue lagi apa.Btw nanti kalau seandainya mereka curiga sama gue trus nanya ke lo,tolong bilang sesuatu yang buat mereka percaya sama alasan gue ya. Nanti gue bawain lo martabak manis deh sebagai ucapan makasihnya"
"Oke,nanti gue urus.Tapi jangan lupa lo sama martabak manis yang lo janjiin itu,beli martabaknya ditempat langganan kita tapi"Iren
"Iya iya gue nanti bakal beli disana"
"Nice kalau gitu"Iren
"Eh udah dulu ya kakak kembaranku,
ini sibos udah manggil nih buat lanjut kerja lagi"
"Inget,lo harus jeli memperhatiin pelanggan bengkel.Nanti lo gak sadar lagi kalau kalau salah satu dari mereka yang datang buat jadi pelanggan disana.Yaudah tutup aja, gue juga mau lanjut kerja nih"Iren.
"Tanpa diingetinpun gue bakal hati hati,yaudah see you tut..."
Iren meletakkan hpnya kembali setelah pembicaraannya dengan seseorang itu berakhir,kini seperti apanya tadi ia akan melanjutkan pekerjaannya.Yap Iren memang memiliki pekerjaan yang menghasilkan pundi pundi rupiah yang lumayan, dirinya bekerja bukan karena kekurangan uang tapi karena ingin memiliki uang pribadi untuk ditabung dan yang jelas keberadaan uang itu tak boleh diketahui oleh siapapun kecuali lawan bicaranya saat menelepon tadi.
Kalian mau tau pekerjaannya apa?Iren memiliki pekerjaan sebagai freelancer online,bidang yang dia geluti adalah sebagai seorang joki tugas sekolah khusus anak SD-SMA. Namun terkadang ada beberapa kondisi yang membuatnya dapat menerima pekerjaan joki tugas dari mahasiswa alias anak kuliahan namun itu hanya dibidang bidang tertentu saja,pekerjaan yang sudah dirinya geluti sejak SMP tingkat akhir. Jangan kalian tanya berapa jumlah uang yang dirinya dapat dalam pekerjaan ini,cukup banyak sehingga tabungannya kini sudah menyentuh angka dua digid didalam akun rekening banknya.Dan jangan tanyakan apakah uang hasil pekerjaan joki tugas begini baik atau buruk karena jujur saja gadis itu kini tak memedulikan hal itu,satu hal yang Iren pedulikan kini dalam pekerjaannya adalah menghasilkan dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin sampai dirinya lulus sekolah SMA nanti.Itu artinya hanya dalam hitungan bulan lagi,bagaimana dengan kegunaan uang itu?yang jelas bagi Iren uang itulah yang akan menjadi kunci utamanya bebas dari sangkar dan rantai yang membelenggu hampir semua kebebasan dirinya.
Apakah Iren mengerjakan pekerjaannya dengan asal asalan?oh tentu tidak,ia bahkan melakukannya dengan sangat baik.Makanya saat ini Iren banyak memiliki pelanggan tetap dan bahkan ada pelanggan yang telah menggunakan jasanya sejak awal awal dimana dirinya menjadi seorang joki tugas.
Iren itu pintar bahkan dapat dikategorikan sangat pintar,jika dirinya mau ia bisa bersaing dengan mudah dengan anak anak unggulan disekolahnya.Namun sayangnya kondisi tak berpihak bagi Iren untuk bisa unjuk taring kepermukaan dengan bebas,ia terus ditekan untuk tetap menjadi seorang pelajar yang biasa biasa saja bahkan ia harus berakhir dikelas yang mendapat jukukan sebagai kelas paling kacau dan paling brandalan disekolahnya karena tekanan itu.Meski untuk yang satu ini,Iren bisa dibilang bersyukur.
Bahkan untuk melakukan pekerjaannya ini,Iren harus melakukannya secara sembunyi sembunyi dan juga terpaksa menggunakan identitas samaran.
Lalu siapa yang menekannya untuk menjadi seperti sekarang?tak lain dan tak bukan adalah kedua orang tua gadis itu sendiri.
kalian pasti akan merasa heran mengetahui hal ini,karena orang tua mana yang menekan dan memaksa anaknya sendiri untuk tetap menjadi biasa biasa saja padahal anaknya memiliki kemampuan yang lebih namun itulah kenyataannya.Dan orang tua Iren melakukan itu karena sebuah alasan,dan akan kita bahas lain kali.