Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 74


Tok...tok...tok...


"Non Lily,dipanggil tuan dan nyonya untuk makan malam"


"Iya bik,bentar lagi saya turun. Bibik duluan aja"


"Baik non"


Lily yang sejak tadi rebahan diatas kasurnya langsung beranjak duduk dan dengan malas beranjak dari atas tempat tidurnya,ia bercermin sebentar sedikit merapikan rambutnya yang berantakan lalu berlalu pergi keluar dari dalam kamarnya.


Sesampainya Lily diarea meja makan,


matanya mendelik sebal kenapa ada tamu yang menyebalkan itu disana duduk dan lihatlah bahkan putra perempuan yang menyebalkan itu juga ikut duduk disana juga.Apa apaan keluarga menyebalkan itu bertamu dirumah ini sampai malam begini,apa mereka tak punya rumah batin Lily.


Masih dengan perasaan sebalnya,Lily mendekati meja makan.


"Lily,duduk disebelah mama-mu"suruh papanya Lily saat melihat kehadiran gadis itu disana.Tanpa bersuara Lily mengikuti perintah papanya itu duduk disamping mamanya,tak ada pilihan lain karena kursi yang biasa dia tempati malah dihuni orang asing sekarang.


"Selamat malam Lily"ucap papanya Vero.


"Malam Lily"ucap Vero.


"Malam"balas Lily singkat,ia akui bapak anak itu ramah tapi yang Lily tak suka adalah senyuman sok akrab dari Vero.


Beberapa saat kemudian bik Nur datang membawa makanan dibantu bik Inem,makanan itu ditata rapi diatas meja.Setelah selesai bik Inem langsung pergi sedangkan bik Inem yang hendak kembali kedapur langsung dihentikan oleh Lily.


"Bik Inem"


"Iya non Lily ada apa?"tanya bik Inem.


"Besok kalau gak sibuk bisa siapin bekal untuk saya bawa kesekolah gak?"Lily.


"Bisa non bisa,non Lily mau bibik siapin bekal apa besok?"bik Nur.


"Yang kayak tadi aja juga boleh bik.


Tapi siapin dua ya bik,satu untuk temen saya.Soalnya tadi disekolah,


temen saya suka banget sama nasi goreng seafood buatan bibik"ujar Lily kepada bik Nur.


"Siap non,besok pasti bibik siapin.Adalagi non?"bik Nur


"Yang untuk temen saya itu,brokoli rebusnya agak banyakin ya bik. Soalnya temen saya itu suka brokoli,itu aja bik.Bik Nur boleh kedapur sekarang"Lily


"Iya non"setelah percakapan itu selesai,bik Nur langsung meninggalkan area meja makan dan kembali kedapur.


"Anak gadis kok,minta disiapin bekal sama pembantu.Kamu itu seharusnya masak dan siapin bekal sendiri,anak gadis gak boleh manja"


Lily merotasikan bola matanya malas,tanpa diberitahu pasti kalian bisa menebak celetukan dari siapa itu namun Lily memilih tak berkomentar.Tapi keliatannya orang yang menyelutuk tadi tak mau diam dan malah lanjut berbicara lagi.


"Jeng ajarin tuh anak kamu buat mandiri,jangan bergantungan sama pembantu terus.Atau jangan jangan anak kamu gak bisa masak lagi,kalau gitu kasian nanti suaminya kalau dapat istri yang gak bisa masak"


"Gak perlu diajarin saya sudah mandiri,buktinya saya bisa hidup diAutralia sejak tahun pertama SMP.


Suami?Nikah?saya masih SMA jadi ngapain mikirin kesana,besok aja belum tentu masih hidup"jawab Lily.


"Kok jawaban kamu gitu sih,tante ini bicara gitu buat kebaikan kamu loh?


"Nah itu poinnya,tante bukan orang tua saya"Lily.


"Jeng Linda,anak kamu tuh jawab terus kalau dibilangin"Adu tante Lena kepada mamanya Lily.


"Iya jeng.Lily jangan terus menjawab"mamanya Lily langsung menegur Lily.


*Dih dasar tante tante sokap*batin Lily kesal.


Lily menghela nafas dam memilih melirik kearah sang papa dan dapat melihat kalau tangan kiri orang tuanya itu terlihat dibalut dengan perban,baguslah kondisi orang itu tak begitu buruk.Lily kemudian melirik kesekitar dan menyadari belum ada yang mulai menyantap makanan yang tersaji diatas meja didepan mereka.Akhirnya setelah jengah menunggu beberapa saat, Lily-pun memilih memulai makan malamnya tanpa menghiraukan penghuni lain meja makan itu tanpa menunggu adanya aba aba makan malam dimulai,biasanya juga begitukan.


Lily tak sadar mata julid dari mamanya Vero yang sejak tadi memperhatikan pergerakannya dan akhirnya menyeletuk


"Sebagai seorang anak,seharusnya kamu itu mendahulukan yang lebih tua bukannya menyerobot seperti seseorang yang tak beratitude begitu"itulah celetukan dari mamanya Vero.


Tuhkan ngomong lagi tuh orang!ini Vero dan papanya gak bisa nyeret itu orang balik kerumah mereka apa?


Jangan sampai Lily kena darah tinggi gara gara kehadiran yang tante Lena disini.


"Saya tahu hal itu,tapi saya tak bersedia menahan rasa lapar hanya karena kalian masih sibuk memandangi makan malam yang tersaji didepan" saut Lily tanpa melihat kearah wanita dewasa yang berbicara padanya itu.


"Sudah sudah,ayo kita mulai makan malamnya"akhirnya papanya Lily bersuara juga,sehingga mamanya Vero yang baru saja membuka mulut hendak bersuara lagi langsung membatalkan niatannya itu.Semua orang yang ada disana kecuali Lily mulai membalik piring didepan masing masing dan mengisinya dengan berbagai hidangan didepan,suasana terasa hening beberapa saat sampai semuanya selesau makan malam.Hanya sampai selesai makan malam saja karena setelah itu para orang tua mulai membuka percakapan,dan kali ini mamanya Lily yang membuka suara.


"Bagaimana sekolahmu Vero,apa berjalan dengan baik?"tanya mamanya Lily kepada Vero.


*Dih ajaib,gue anaknya kok gak pernah ditanyain kayak gitu?*batin Lily.


"Baik kok tan,semuanya berjalan mulai lancar kembali.Bahkan saat tadi ada ulangan disekolah,Vero mendapat nilai sempurna"jawab Vero dengan bangga.


"Wah bagus kalau begitu,tante turut senang mendengarnya"nyonya Linda.


"Anak saya emang hebat Jeng,pasti selalu dapet nilai tinggi setiap ada ujian.Jarang jeng ada anak laki laki yang pinter dan mau belajar seperti anakku ini jeng"tante Lena mamanya Vero turut bicara,terdengar sangat


memuji anaknya sendiri.


"Mama gak usah berlebihan.Terima kasih pujiannya tan"ucap Vero dengan senyuman.


"Bagaimana dengan Lily? Bagaimana rasa bersekolah disekolah baru,jauh lebih senang mana bersekolah disini atau diAustralia?"papanya Vero yaitu om Jaya kini bertanya pada Lily.


"Sekolah saya saat ini tidak ada yang menarik dan spesial,sama saja dengan sekolah pada umumnya kurasa.


Mana yang lebih senang?jika boleh jujur saya lebih suka dengan kehidupan sekolah saya diAustralia sih om"ujar Lily menjawab pertanyaan dari papanya Vero.


"Lebih senang disana ya.Sebagai seseorang yang pernah merasakan sekolah dinegri orang,om bisa memaklumi kenapa Lily lebih menyukai sekolah diluar"tanggap papanya Vero.


"Ngomong ngomong soal luar negri,Vero rencananya setelah lulus SMA mau lanjut kuliah diluar negri loh Lin,Ris"ujar mamanya Vero.


"Oh ya,benar begitu Vero?"tanya papanya Lily.


"Iya om,rencana Vero sih gitu.Dulu sih niatnya mau lanjut kuliah disini aja biar gak usah ldr sama pacar,tapi ya gitu takdir udah mendahui jadilah Vero akhirnya mutusin mau lanjut dikuliah diluar aja tante om.Mau cari suasana dan lingkungan baru"jawab Vero,raut wajah pemuda itu terlihat sedikit sendu.


"Ya mau bagaimana lagi Vero, takdirnya begitu.Maafin om sama tante ya,gak bisa jaga Lala dengan baik"ucap nyonya Linda dengan nada dan wajah sedihnya.


"Eh gak usah minta maaf tan,namanya takdir kita gak ada yang tau tan.Jadi ini bukan kesalahan om sama tante sedikitpun"ucap Vero.


Baiklah,Lily benci suasana dan topik pembicaraan ini.