Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang

Saat Sang Malam Dituntut Menjadi Siang
Bab 48


"Yang sabar Ly,ya mau gimana lagi.


Lain kali main aman aja,gak usah milih Dare segala.Lo kayak gak tau aja jiwa setan makhluk dikelas ini bakal muncul seketika"ujar Naira kepada Lily.


"Waktu lo 48 jam Ly,kalau gak bisa nyelesain tantangan.Itu artinya tantangan yang lebih besar menunggu loh"ujar Nesa.


"Iya iya,dalam 48 jam gue selesain" ujar Lily tentu tidak meyakinkan sekali terdengar.


*Gak lagi gue ikut main ginian*batin Lily.


Lily berbaring diatas kasurnya,ia menatap langit langit kamarnya sambil berfikir keras.Ia tengah memikirkan bagimana cara menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh Nesa sore tadi saat permainan truth or dare,hais gimana cara minta foto pap-nya Alex coba.


Kan gaje banget kalau kucuk kucuk dia chat Alex trus langsung minta pap,bisa bisa si Alex nganggap dia naksir lagi.Dih gak banget,hah Lily pusing.


Tok...tok...tok...


Lily menoleh kesamping tepatnya kearah pintu saat suara ketukan terdengar dari sana,ia beranjak dengan perasaan yang sangat malas mendekat kearah pintu dan membukanya.


"Permisi non,dipanggil untu makan malam"ternyata bibik pengurus rumah yang mengetuk pintu kamarnya tadi.


"Iya bik,bentar lagi Lily turun"ujar Lily kepada wanita tua itu.


"Baik non,itu saja kalau begitu saya permisi"setelah mengatakan hal itu, bibik pengurus rumah langsung pergi dari sana.


Lily menghela nafas berat setelah mendapat panggilan untuk makan malam,ia tak suka dengan kegiatan yang bertempat dimeja makan keluarga.Tapi ya mau tak mau dan dengan berat hati,gadis remaja itu mulai melangkah keluar dari dalam kamarnya.Ia menutup pintu kamarnya dari luar,lalu berjalan menuju kelantai bawah dimana ruang makan berada.


Sesampai dimeja makan,Lily nerasa suasana agak bersahabat karena tak menemukan sosok yang menjadi lawan debatnya hampir setiap berada ditempat yang sama.Papanya.Hanya ada sang mama yang terlihat dimeja makan.Lily duduk dikursi yang biasa dia duduki selama tinggal dikediaman itu,meski sebenarnya masih ada kursi kosong didepan dan disamping mamanya.Tapi Lily tak akan berani menggunakan kedua kursi itu meski tidak ada yang menggunakannya,kursi tengah adalah tempat papanya sedangkan kursi yang berada didepan sang mama serta disebelah kursi sang papa adalah kursi yang biasa ditempati oleh mendiang saudari kembarnya semasa hidup.Kursi yang Lily tempati sendiri persis disebelah kursi mendiang Lala kembarannya dan itu artinya berseberangan dengan kursi mamanya meski tak sejajar langsung. Sebenarnya tidak pernah ada aturan tertulis atau terucap mutlak dari posisi duduk itu,namun sejak dulu semuanya seolah sudah diatur begitu.


Dulu saat Lily masih kecil,ia pernah mencoba pindah tempat duduk disebelah ibunya serta pernah juga bertukar tempat dengan kembarannya.


Haih...Lagi lagi Lily mengingat satu lagi kenangan masa lalu yang membuatnya sedih dan termasuk menyakitkan baginya,ya meski kalau dipikir pikir semua kenangan masa lalunya selalu menyedihkan.


Hening.Hanya itu kata yang tepat menggambarkan suasana meja makan saat ini,meski penghuni meja itu berstatus mama dan anak.


Jika kalian tanyakan kepada Lily bagaimana hubungannya dengan sang mama?dan apakah seburuk hubungannya dengan sang papa?jawaban Lily adalah Ya,menurutnya bahkan jauh lebih buruk .


Jika hubungan Lily dan Papanya hampir berisi perdebatan, persitegangan emosi,dll.Mamanya Lily berbeda,wanita paruh baya itu sejauh ini memang belum pernah membentak atau memperlakukan Lily dengan kasar seperti sang suami aka papanya Lily.


Namun mamanya Lily lebih terkesan menghapus jejak atau terkesan tak menganggap keberadaan Lily dirumah,


dan juga memilih melupakan peran sebagai seorang ibu kandung kecuali melahirkan Lily.Sejauh ingatan Lily,ia sendiri tak pernah ingat ada moment kebersamaannya sebagai ibu dan anak bersama sang mama.Lily diurus oleh seorang baby sister sejak dia bisa mengingat,meski mamanya hampir selalu ada dirumah waktu itu.Tapi keberadaan sang mama dirumah bukan ditujukan untuk merawat atau membesarkannya, melainkan hanya mencurahkan semua kasih sayang kepada mendiang kembaranya Lily dan sangat acuh pada Lily.


Bagimana Lily menyimpulkan hal itu?


tentu dia tak main asal menyimpulkan itu sendiri tanpa alasan yang jelas melainkan kesimpulan itu tercipta atas beberapa kejadian yang sangat membuktikan kesimpulan itu.


Biar Lily beritahu salah satu contohnya,dulu saat usia Lily sekitatan 6 tahunan.Disuatu hari dimana saat itu Lily kecil merasa lapar karena jam makan siang sudah tiba,namun belum ada makanan yang ada diatas meja makan.Lily kecil mengetuk pintu kamar orang tuanya berniat menemui sang mama yang ada didalam untuk meminta tolong membuatkan sesuatu yang menghilangkan rasa laparnya,pintu kamar itu memang terbuka.Namun saat Lily kecil menyampaikan tujuannya pada sang mama saat itu,ia malah disuruh pergi dan diminta menunggu pengasuhnya pulang saja.Padahal saat itu jelas jelas sang mama tau kalau pengasuhnya izin tak masuk hari itu karena ada suatu keperluan dan bibik pengurus rumah juga sedang pergi ke supermarket untuk belanja keperluan rumah,dengan menahan air mata Lily pergi menjauh dari kamar orang tuanya itu dengan rasa lapar yang melanda.


Beruntung saat itu pak satpam keluarganya memasuki dapur hendak membuat kopi menemukannya tertidur dimeja dapur,pak satpam itu membangunkannya dan menanyakan apa yang Lily kecil lakukan didapur sendirian.Lily saat itu langsung mengatakan bahwa dirinya lapar.


Mendengar jawaban Lily saat itu,pak satpam rumahnya langsung membuatkannya telur ceplok seadanya supaya ia bisa makan.Bukankah itu sesuatu yang miris bagi seorang gadis kecil yang terlahir ditengah tengah keluarga yang lengkap serta bergelimang harta.


Hah..itu baru satu belum kisah kisah lainnya yang lebih menyakitkan, seperti mamanya yang tak pernah bersedia menemaninya ChekUp padahal punya banyak waktu luang,tak pernah terlihat mendampinginya saat penyakitnya kambuh dan saat Lily harus dirawat inap dirumah sakit sekalipun.


Jadi bukan hal yang mengherankan kenapa Lily berpendapat kalau hubungannya dan sang mama lebih buruk dari pada hubungannya dengan sang papa.Ya papanya meski selalu hampir memakai emosi saat berbicara padanya,setidaknya saat penyakit Lily kambuh.Laki laki itu masih terlihat batang hidungnya dihadapan Lily,setidaknya sang papa masih sadar kalau ia memiliki rasa empati untuk bersedia berada disekitar Lily pada anaknya yang sering sekarat karena penyakit bawaan sejak lahir.


Tanpa sadar Lily sudah hampir menghabiskan makanan dipiringnya saking fokus tenggelam dalam mengingat ngingat memory masa lalu.