
Setelah pernikahan Devano dan Keisha selesai, Stephanus pun mengajak keluarganya dan keluarga mempelai pria untuk mampir ke rumahnya terlebih dahulu. Ada beberapa hal penting yang harus di obrolin di antara dua keluarga yang mempelai yang kini sudah menjadi satu keluarga.
Mereka pun langsung menaiki mobil masing-masing dan bertolak menuju rumah Stephanus ayah mertua Devano. Tampak Devano dan Keisha menaiki mobil yang sama, mobil yang di tumpangi mereka pun tampak berbeda dengan mobil yang lain karena di hiasi beberapa bunga yang di susun cantik sedemikian rupa. Sementara mobil yang lain mengikuti mobil yang di tumpangi Devano dan Keisha dari arah belakang.
Sesampainya di rumah mewah Stephanus, mereka langsung di sambut oleh beberapa pekerja yang bekerja di rumah Stephanus. Mereka langsung masuk ke ruang tamu yang tampak indah dan megah.
Tampak beberapa stand aneka hidangan tersaji dengan begitu menggoda dari mulai kue tradisional, bakso, kambing guling, minuman dingin, dan beberapa buah-buahan. Sepertinya Stephanus telah mempersiapkan semuanya untuk menyambut putri dan menantunya.
Terlihat sepupu dari Devano dan Keisha berkumpul di dekat air mancur yang terletak di taman kecil di depan rumah. Keisha dan Tiara pun terlihat bergabung bersama mereka, mereka saling berkenalan dan bertukar cerita tentang kegiatan mereka. Hampir semua bercerita mengenai sekolah dan kampus mereka, karena mereka semuanya hampir mahasiswa.
"Halo kak Keisha ... " sapa adiknya Devano. "Aku Diva adiknya mas Devan, aku manggil kakak aja yah, biar lebih enak ngomongnya. Walaupun kayaknya kita seumuran," ucap Diva memperkenalkan diri kepada kakak iparnya.
"Oh iya, tidak apa-apa." Keisha menganggukkan kepalanya di sertai senyum manisnya, sepertinya dia menyukai Diva yang terlihat cantik dengan balutan dress merah muda berpadu dengan warna silver.
"Kakak sangat terlihat cantik," puji Diva. "Semoga aku bisa menjadi adik ipar yang baik, jangan sungkan yah kak kalau perlu bantuanku. Mau tanya info-info tentang mas Devan juga tinggal hubungi aja. Hehehe ... " tambah Diva yang mencoba akrab dengan kakak iparnya.
Walaupun pada awalnya Diva sangat kecewa dengan keputusan abangnya memiliki Keisha sebagai pendamping hidupnya, namun setelah Devano menjelaskan alasan dan proses di balik semuanya akhirnya Diva menerimanya.
"Terima kasih banyak," sahut Keisha yang langsung merubah komuk wajahnya. Entah kenapa setelah mendengar nama Devano di sebut, Keisha langsung menghilangkan senyumannya seakan alergi mendengar nama suaminya. Padahal bukan namanya saja yang akan sering ia dengar, orangnya langsung yang akan sering dia lihat, bahkan akan sering berada di sisinya.
"Bagaimana kuliahnya?" tanya Keisha yang langsung mengalihkan pembicaraan. Tampak obrolan mereka pun terdengar semakin hangat, suara tawa dan senyuman memenuhi obrolan mereka. Sepertinya Keisha sangat menikmati obrolannya dengan orang-orang di sampingnya, hingga Keisha terlihat sekali-kali tertawa melupakan kesedihannya.
Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya dan langsung memudarkan senyuman dan tawanya. "Keisha ... Pakde dan Bude ingin bertemu denganmu, mari kita temui mereka," ucap Devano.
Keisha hanya menganggukkan kepalanya dan langsung berdiri tanpa melihat wajah Devano. Keisha mengikuti Devano menemui keluarga Devano yang sedang berkumpul di ruang tengah. Tampak juga ayahnya Keisha sedang duduk berbincang dengan keluarga Devano.
Sesampainya, Devano dan Keisha pun duduk bersebelahan ala pengantin baru yang masih malu-malu. Devano mengenalkan anggota keluarganya dari pihak ayah dan ibunya kepada Keisha. Merekalah yang saat ini di anggap sebagai pengganti orang tua Devano.
"Devan, kamu harus ajak istrimu ke Yogyakarta yah, saudara yang lain pasti ingin tahu istrimu," ucap pakde.
"Iya, pakde."
Keluarga besar dari ibunya pun tidak mau kalah yang juga ingin meminta Devano mengajak istrinya ke Surabaya menemui saudara yang lain.
Mereka pun melanjutkan obrolannya, sementara Keisha lebih banyak diam, ia hanya berbicara kalau di tanya. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Keisha ajak suamimu ke kamar, barangkali mau ganti baju," ucap Astri menghampiri Devano dan Keisha. Mendengar hal tersebut, Keisha terlihat kaget. Apa mengajak Devano ke kamarnya? Kenapa harus ke kamarnya? Bagaimana ini? Itulah yang di pikirkan Keisha saat ini. Tampak Keisha malah diam terpaku.
"Keisha? Ayo Nak. Biar Devano bisa ganti baju, kamu juga sekalian boleh ganti baju," ucap Astri.
Sesampainya, Keisha berhenti di depan kamarnya dan langsung membuka pintu. "Ini kamarnya, kamu masuk aja!" ucap Keisha dingin. "Eh ... sebentar, aku mau ambil bajuku dulu." Keisha langsung masuk dan mengambil bajunya dari lemarinya dan segera keluar menuju kamar tamu di lantai satu.
Devano pun masuk dan mengganti bajunya. Setelah mengganti bajunya, dia langsung menuju ruang tengah menemui keluarganya sekedar berbincang-bincang.
Waktu terus berjalan, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Keluarga Keisha dan dan keluarga Devano pun mulai berpamitan. Keluarga dari ayah Devano langsung pulang ke Surabaya, sementara Diva, Kevin, dan keluarga dari ibunya pulang ke rumah Devano dan besok baru pulang ke rumah masing-masing.
****
Setelah selesai makan malam pukul setengah sembilan malam, Devano tampak berbincang dengan Stephanus dan Lucky di ruang tengah yang sudah kembali tertata rapi. Pembicaraan mereka mengenai pengalaman mengelola perusahaan. Sepertinya Stephanus sangat antusias berbagi ilmu dan pengalamannya kepada Devano, karena Devanolah yang akan meneruskan kepemimpinannya.
Sementara di tempat yang berbeda, tampak Astri tengah menemani Keisha di kamarnya. Dia membantu Keisha membuka bingkisan seserahan hadiah dari Devano. Sejujurnya, Keisha sangat malas membuka bingkisan tersebut. Namun kalau bukan karena ibunya yang memaksanya, dia tidak akan sudi membukanya apalagi untuk memakainya, no ... no ....
"Keisha ... apa kamu yang meminta semuanya ini kepada Devan? Perasaan kamu tidak pernah izin sama mommy untuk belanja sama Devan?" tanya Astri sambil tetap fokus membuka satu persatu bingkisan.
"Bukan Keisha yang minta mom apalagi belanja dengannya," jawab Keisha yang juga membantu membuka bingkisan, namun sama sekali tidak tertarik untuk melihat detailnya. Dia hanya menyimpan barang-barang tersebut di sampingnya.
"Benarkah? Devan yang membelikan ini semua? Tapi ini sangat cocok denganmu Sayang. Warna, motif, dan ukurannya juga sepertinya pas denganmu."
"Coba kamu pakai dress cantik ini. Sepertinya ini cocok sekali untuk badanmu, warnanya juga cantik. Mommy jadi suka!" ucap Astri meminta putrinya untuk mencoba baju yang di belikan Devano untuknya.
"Nanti aja mom."
"Ya sudah, gak apa-apa. Sepertinya menantu mommy pintar sekali memilih barang-barang untukmu," ucap Astri bahagia, sementara Keisha hanya menunjukkan wajah datarnya tanpa senyuman.
"Cincinnya juga cantik sayang, apakah kamu yang meminta di belikan cincin berlian?" Astri meraih tangan kiri Keisha. "Coba lihat, ini terlihat pas di jarimu."
"Keisha gak pernah minta mom, ini inisiatif mas Devan sendiri."
Astri pun mengulas senyuman di bibirnya. "Keisha, sepertinya ayahmu tidak salah memilih suami untukmu. Mommy harap, cobalah buka hatimu untuknya," ucap Astri mengelus rambut putrinya. Putrinya yang dulu gadis kecil yang lucu dan manja, kini telah menjadi gadis dewasa.
"Keisha, jadilah istri yang baik untuk suamimu. Walaupun mommy tahu hatimu belum bisa menerima Devano, tapi cobalah untuk belajar mencintainya."
Seketika Keisha menatap ibunya sendu dan kemudian langsung memeluknya. Tak terasa air matanya jatuh di pipinya. Bagaimana bisa dia mencintai Devano yang adalah suaminya, sedangkan di hatinya masih ada laki-laki lain yang sangat di cintainya.
...~ Bersambung ~...