Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Kekhawatiran Stephanus


Keesokan harinya, Stephanus memberi kabar kepada Devano kalau ia berada di rumah sakit untuk menemani Astri istrinya yang di rawat. Stephanus pun meminta Devano untuk datang ke rumah sakit. Devano yang sedang dalam perjalanan menuju kantornya langsung memutar arah menuju rumah sakit tempat Presdirnya berada.


Semalam Stephanus sudah meminta orang suruhannya mencari keberadaan putrinya Keisha. Namun sampai saat ini belum ada hasil, Stephanus sendiri pun sudah beberapa kali menghubungi nomor Keisha namun tidak aktif.


Sementara Lucky orang kepercayaannya, yang selalu di andalkan sedang berada di Banten karena memang di minta Stephanus  untuk menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan di sana.


Saat ini yang sedang bersama dengan Stephanus di rumah sakit adalah Ridwan. Semalam, Ridwan langsung mendapat kabar kalau bosnya sedang di rumah sakit karena istrinya dalam keadaan kritis. Jadi, sejak semalam Ridwan menemani bosnya di rumah sakit.


Saat ini Astri sedang di rawat di ruang CICU (Ruangan khusus perawatan intensive pasien dengan penyakit jantung). Astri pun sudah menjalin operasi guna mengatasi sumbatan di pembuluh darah jantungnya.


Sekitar dua puluh menit, Devano pun tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruang CICU tempat istri Presdirnya di rawat. Sesampainya, Devano melihat Stephanus dan Ridwan sedang duduk di kursi ruang tunggu pasien, lalu Devano langsung menghampiri kedua atasannya tersebut.


Devano pun mengucapkan salam sambil menyalami tangan kanan Stephanus dan Ridwan. "Bagaimana keadaan tante Astri, Pak?" tanya Devano kepada Stephanus.


"Dia masih belum sadar Devan, tapi kata dokter masa kritisnya sudah lewat. Tiga jam yang lalu baru selesai operasi," jawab Stephanus yang berusaha tegar.


Devano tidak bertanya lagi,  karena melihat wajah Stephanus yang kelelahan. Matanya begitu lusuh, sepertinya Stephanus semalam tidak tidur hanya untuk menemani istrinya yang sedang berjuang dalam melawan penyakitnya. Begitu juga dengan Ridwan yang juga terlihat lusuh. Melihat dua laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu, membuat Devano merasa kasihan.


"Maaf, Bapak dan pak Ridwan sepertinya belum sarapan pagi. Bagaimana kalau saya carikan makanan dulu buat bapak," ujar Devano dengan sopan. Tebakan Devano memang tepat, kedua atasannya itu memang belum makan sama sekali sejak semalam, hanya minum air itupun hanya beberapa teguk.


"Hmm ... anak ini sangat perhatian sekali, sayang putriku tidak tertarik dengannya," batin Stephanus.


"Terima kasih Devan, tapi saya tidak lapar. Belikan untuk pak Ridwan saja," jawab Stephanus yang memang tidak selera untuk makan. Perasaannya saat ini hanya mengakhawatirkan istrinya dan juga putrinya Keisha yang pergi entah kemana.


"Maaf sebelumnya Pak. Tapi Bapak harus makan, jangan sampai kesehatan Bapak juga menurun," ucap Devano.


Lalu Ridwan pun mendekati Devano dan membisikkan sesuatu. "Carikan saja roti dan air mineral. Kalau bisa, beli beberapa buah, semangka atau apel," bisik Ridwan yang sudah memang hafal kebiasaan sarapan bosnya. Mendengar hal tersebut, Devano pun menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Baik, Pak." Devano langsung bergegas meninggalkan Stephanus dan Ridwan.


Beberapa menit kemudian, Devano kembali dengan menenteng dua kantong plastik yang berisi roti, air mineral, dan beberapa buah yang ia beli di minimarket rumah sakit.


"Makan dulu Pak, mumpung rotinya masih hangat," ucap Devano sambil memberikan box roti kepada Stephanus dan Ridwan. Aroma roti yang masih hangat itu memang menggugah selera, hingga membuat Stephanus mengambil roti tersebut dan memasukannya ke dalam lambungnya yang sejak tadi berteriak minta untuk di isi.


Devano pun duduk tak jauh dari tempat duduk Stephanus dan Ridwan. Lalu ia memperhatikan sekitar ruang tunggu pasien, ia tidak melihat Keisha putri Presdirnya dan Lucky yang biasanya selalu mendampingi Stephanus.


"Di mana mereka, apa Keisha pergi kuliah dan Lucky ke kantor?" tanya Devano dalam hati.


Setelah Stephanus selesai melahap sarapannya, Devano pun menghampirinya. "Pak kalau Bapak mau istirahat dulu tidak apa-apa, biar saya menunggu tante di sini. Sepertinya Bapak belum tidur sejak semalam," ujar Devano yang tidak tega melihat bosnya yang tampak lelah.


"Terima kasih Devan buat perhatiannya, tapi tidak mungkin saya meninggalkan istri saya Devan," kata Stephanus tersenyum. "Tapi kalau kamu ada hal penting di kantor, silahkan saja, saya tidak apa-apa istirahat di sini."


"Oh yah ... Pak Ridwan lebih baik pulang saja istirahat di rumah, terima kasih buat waktunya." Stephanus menyuruh Ridwan untuk pulang, karena semalam juga Ridwan tidak tidur.


"Baik pak Stephan, saya akan pulang. Nanti siang saya ke sini lagi," jawab Ridwan, lalu pandangannya tertuju ke Devano. "Pak Devan bisakah kamu menemani pak Stephan di sini?" ujar Ridwan.


"Dengan senang hati Pak, saya akan menemani pak Stephan di sini. Masalah pekerjaan kantor bisa di kondisikan," jawab Devano sambil menundukkan kepalanya.


"Baik pak Ridwan, terima kasih banyak," balas Stephanus.


Sepeninggalnya Ridwan, Devano pun duduk di samping Stephanus. "Maaf Pak, bolehkah saya bertanya?"


"Silahkan Devan."


"Dari tadi saya tidak melihat pak Lucky dan putri Bapak. Apa mereka tidak menemani Bapak?" tanya Devano dengan sopan.


"Lucky sedang di Banten untuk menyelesaikan beberapa urusan di sana," kata Stephanus lalu kemudian menghela nafasnya.


"Kalau Keisha ...."


"Putri Bapak kenapa?" tanya Devano penasaran.


"Kalau Keisha pergi meninggalkan rumah sejak kemarin," ucap Stephanus dengan perasaan sedih. "Saya tidak tahu di mana putri saya sekarang berada."


Seketika Devano mengerutkan keningnya. "Maksud Bapak?"


"Huft ... kemarin Keisha meninggalkan rumah, dan kepergiannya dari rumah lah yang juga membuat ibunya mengalami serangan jantung," ucap Stephanus menatap ke depan dengan pandangan kosong.


"Emm ... kalau boleh tahu, apakah ini ada hubungannya dengan rencana Bapak menjodohkan Keisha dengan saya?" tanya Devano yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Stephanus.


Devano tidak terlalu kaget dengan ketidaksetujuan Keisha akan perjodohan ini. Devano sudah mengantisipasi kalau Keisha sendiri tidak siap dengan perjodohan ini. Sehingga pada saat memberikan jawaban kepada Stephanus beberapa hari yang lalu, Devano mengatakan bahwa ia bersedia menikah dengan Keisha dengan catatan Keisha menerimanya.


"Maaf Pak, apa sudah ada kabar keberadaan putri Bapak di mana?" tanya Devano.


"Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mencarinya tapi belum ada kabar, bahkan beberapa teman dekatnya sudah di datangi tapi tidak ada yang tahu. Aku sangat mengakhawatirkannya. Keisha mematikan handphonenya jadi tidak bisa di lacak keberadaannya," ungkap Stephanus dengan raut wajah sedih.


Devano hanya tertegun dan tidak berani menyahut ucapan Stephanus. Dia tahu bahwa saat ini suasana hati Presdirnya tidak baik-baik saja.


Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang pasien CICU dan meminta Stephanus untuk masuk ke ruangan karena dokter akan menjelaskan perkembangan kondisi istrinya. Stephanus pun sesegera masuk ke dalam untuk menemui istrinya.


"Ayo kita masuk, Devan!" ajak Stephanus.


"Iya, Pak."


Stephanus dan Devano pun sudah berada di ruang pasien. Stephanus mengantar Devano ke tempat istrinya terbaring, sementara ia langsung menuju nurse station tempat dokter yang merawat istrinya berada.


Tampak Devano duduk di kursi penunggu di samping kanan tempat tidur Astri. Terlihat Astri seperti sedang tertidur pulas, dengan terpaksa masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya.


Sambil duduk Devano menyempatkan dirinya untuk berdoa pada sang Kuasa. Dia memanjatkan doa untuk kesembuhan istri Presdirnya, yang juga merupakan calon mertuanya seandainya Keisha menerima perjodohan dengannya.


...~ Bersambung ~...