Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Pilihan Devano


Suasana kembali menjadi sepi kala kedua adiknya pulang ke Surabaya dan menyisakan Devano seorang diri di rumahnya. Waktu terus berjalan, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul enam sore.


Selesai Devano menyelesaikan ritual mandinya, dia langsung mengganti bajunya dan menyisir rambutnya lewat pantulan cermin yang ada di depannya.


Hari ini merupakan hari terakhir Devano untuk mengambil keputusan mengenai permintaan Stephanus satu minggu yang lalu. Dan besok Devano harus memberi jawaban atas permintaan Presdirnya apa dia setuju menjadi pendamping putrinya Keisha atau tidak.


Lalu Devano berjalan menuju meja kerjanya yang letaknya bersebelahan dengan ruang tengah di rumahnya. Sebuah ruangan kecil tanpa sekat dengan ruang tengah, namun dari ruangan kerja itu masih terlihat pemandangan taman kecil di luar rumah dari jendela kaca.


Devano duduk menghadap meja kerjanya, lalu dia mengambil selembar kertas HVS dari rak meja nakas tempat penyimpanan mesin printer dan scanner di samping meja kerjanya.


Terlihat Devano mengambil spidol berwarna hitam dan menuliskan dua nama perempuan yang beberapa hari ini selalu terlintas di pikirannya, siapa kalau bukan Naura dan Keisha. Kedua perempuan tersebut yang membuat Devano bingung mana yang akan menjadi pendamping hidupnya.


Pertama, Devano menuliskan nama Naura dan yang kedua Keisha. Dua nama tersebut, dia tulis dengan huruf berukuran besar. Lalu Devano memandang kertas di depannya.


Seketika terbayang di pikiran Devano wajah perempuan yang sudah lama di kenalnya, berwajah lembut dengan sedikit lesung pipit di pipinya. Devano sendiri sudah mengenal sifat dan karakter perempuan tersebut, bahkan sudah tumbuh perasaan suka dalam hatinya, atau lebih tepatnya cinta.


Namun perasaan itu selalu dia kubur dalam-dalam karena di anggap belum tepat waktunya. Bahkan beberapa bulan terakhir, Devano berniat akan melamar perempuan tersebut dalam waktu dekat. Ya ... perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah Naura. Perempuan yang dekat dengannya bahkan dekat dengan keluarganya sendiri.


Namun, Devano harus mempertimbangkan lagi niatnya untuk melamar Naura. Dia benar-benar berusaha mencari maksud sang Pencipta mempertemukannya dengan Stephanus Presdirnya, yang ternyata juga sahabat ayahnya, hingga Tuhan mempertemukannya dengan putrinya.


Devano tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti tidak ada yang kebetulan, semuanya sudah di rencanakan sang Pencipta alam semesta. Menurut Devano, pertemuannya dengan Stephanus bukan sebuah kebetulan, namun merupakan bagian rancangan Tuhan dalam kehidupannya.


Selesai wajah Naura muncul di pikirannya, tiba-tiba muncul satu perempuan lagi yang terlintas di pikiran Devano. Keisha ... wajah itu muncul di pikirannya, gadis berparas cantik yang memiliki senyuman manis dan merupakan putri seorang Presdir yang juga merupakan sahabat ayahnya.


Berbeda dengan Naura, Devano sama sekali belum mengenal sifat dan karakternya. Namun pertemuannya dengan putri Presdirnya di resto kemarin membuat Devano berpikir apakah itu petunjuk kalau Keisha lah yang seharusnya Devano pilih untuk menjadi pendamping hidupnya atau tidak.


Namun sayang Devano masih berat untuk menentukan siapa yang di pilihnya, apakah Naura atau Keisha. Matanya pun memandangi kertas bertuliskan dua nama di depannya, lalu beberapa detik kemudian Devano membuang pandangannya. Tampak dia memegang kepalanya sambil mengacak-acak rambutnya.


Entah kenapa wajah Naura dan Keisha muncul di benaknya silih berganti. Hingga Devano teringat pesan adiknya Diva sebelum pulang untuk tidak mengecewakan Naura yang sudah jelas menunggu juga lamaran darinya. Namun hati Devano masih belum yakin untuk menentukan Naura sebagai pilihannya.


Tampak Devano duduk sambil menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang menopang kepalanya. "Ya Tuhan, hamba mohon petunjukMu. Besok pagi berikanlah keyakinan dalam hati ini untuk memilih yang terbaik sesuai kehendakMu," doa Devano dalam hatinya.


Cukup lama Devano merenung, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Akhirnya Devano beranjak menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Otaknya terasa begitu lelah karena terus berpikir dan kelopak matanya pun sudah sangat terasa berat. Hingga dengan perlahan Devano memejamkan matanya dan tertidur lelap dalam keheningan malam.


****


"Ya Tuhan apakah ini petunjuk dariMu," batin Devano menghela nafas panjang. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dan tangannya sedikit bergetar. Ternyata Devano baru saja mengalami mimpi, yang menurutnya mimpi tersebut adalah petunjuk sang Kuasa kepadanya.


Lalu Devano pun beranjak dari tempatnya menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya dan membersihkan tangan dan kakinya.


Setelah membersihkan diri, Devano berjalan menuju ruang tengah dan langsung menuju tempat meja kerjanya. Devano duduk menghadap meja dan memandang kertas di depannya yang bertuliskan dua nama perempuan yang semalam ia tulis.


Sejenak Devano menghela nafas, lalu kembali menatap kertas tersebut. "Ya Tuhan ... jika memang perempuan di dalam mimpiku adalah pilihanmu, maka permudahkanlah hambaMu ini," doa Devano dengan penuh keyakinan sambil melingkari sebuah nama dengan spidol yang di pegangnya.


Kini Devano merasa lega, merasa tidak ada beban lagi di hati dan pikirannya. Devano benar-benar menyerahkan segala urusannya termasuk pilihan pendamping hidupnya kepada sang Pencipta yang menggenggam jiwa dan raganya. Devano yakin petunjuk dari mimpinya adalah pilihan yang terbaik yang di pilihkan Tuhan untuknya.


Matahari terus merangkak naik, hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Pukul setengah sembilan Devano sudah stand by di kantornya. Devano mempelajari berkas laporan proyek yang sedang di tangani pengawasannya.


Tampak Devano juga memberikan pengarahan dan semangat kepada para stafnya sebelum melakukan pekerjaan mereka.


Selama di ruang kerjanya, Devano tidak biasanya, tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. "Ah ... kenapa saya jadi tidak sabar ingin segera menyampaikan jawaban ke pak Stephanus. Apa pak Stephanus juga sedang menunggu jawaban dariku?" pikir Devano sambil memain-mainkan pulpen di tangannya.


Tiba-tiba salah satu stafnya menghampiri Devano. "kopinya pak Devan! Sepertinya dari tadi saya lihat pak Devan sedang gelisah dan tidak konsen. Jadi, saya inisiatif membuatkan kopi untuk pak Devan agar pak Devan kembali semangat lagi," ucap staf perempuan tersenyum.


"Terima kasih banyak. Jadi merepotkan," ucap Devano memandang staf perempuan tersebut yang berada di depannya.


"Gak merepotkan kok pak Devan. Oh yah, saya pamit kembali kerja dulu," ujar staf perempuan itu dan kembali ke meja kerjanya.


"Astaga Devan, jangan gara-gara ini pekerjaanmu jadi terganggu. Kamu harus pintar-pintar membagi urusan pribadimu dengan urusan pekerjaanmu. Jangan sampai urusan pribadimu menganggu kinerja pekerjaanmu," batin Devano bermonolog.


Waktu terus berjalan, hingga tak terasa waktu menunjukkan jam istirahat. Devano langsung merapikan meja kerjanya dan berniat untuk langsung menuju ke ruangan pak Presdir.


Tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponselnya Devano, terlihat nama Lucky muncul di layar ponselnya. "Pak Devano, di tunggu Bapak ke ruangannya segera," pesan Lucky asisten Stephanus.


"Baik, saya akan segera ke sana," balas Devano. "Ternyata pak Stephanus tidak lupa," batin Devano sambil meletakkan ponselnya ke saku celananya.


Tampak Devano berjalan menuju ruangan pak Presdir. Sesampainya, Lucky asisten Presdir langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Devano masuk ke ruangan Stephanus.


...~ Bersambung ~...