Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Membatalkan Perjodohan


"Apa aku harus katakan pada Jeslin bahwa Keisha sedang bersamaku? Tapi, aku udah janji sama Keisha untuk tutup mulut. Aduh ... gimana ini?" batin Tiara gelisah.


"Apa aku harus katakan pada Keisha yah, kalau tadi Jeslin nelpon nanyain dia," ucap Tiara dalam hati yang langsung berbalik ingin menemui sahabatnya Keisha.


"Aaaaaa ... hantu ... " teriak Tiara kaget melihat sosok yang ada di depannya.


"Hantu? Aaaaa ... mana hantunya?" teriak Keisha melompat dan langsung menoleh ke belakang.


"Keisha? Ternyata itu kau!" ucap Tiara membulatkan matanya. "Ku kira kau hantu. Apa itu di wajahmu? Apa kau lagi maskeran?" tanya Tiara.


"Aduh ... Ara, kau mengagetkanku saja. Jadi kau pikir aku hantu karena aku pakai maskeran," kata Keisha kesal. "Cantik-cantik gini kok di bilang hantu."


"Salah sendiri, kenapa kau berdiri di belakangku. Jadi ... aku kaget dong, ku kira kuntilanak," ucap Tiara tertawa.


"Udah ... udah jangan ketawa, nanti aku juga ikut ketawa. Bisa-bisa nanti maskeranku rusak," ucap Keisha. "Emm ... tadi siapa yang nelpon Ra?" tanya Keisha kepada Tiara.


"Oh, Jeslin telpon. Dia nanyain kamu."


"Terus kamu jawab apa? Kamu gak ngasih tahu aku di sini kan?" tanya Keisha yang langsung memasang wajah serius.


"Aku belum sempat menjawabnya, dia keburu masuk kelas," ujar Tiara. "Em, Keisha ... apa gak sebaiknya kamu hubungi ayah dan ibumu? Mereka pasti sangat khawatir," saran Tiara.


Seketika Keisha langsung berbalik. "Hmm ... nanti aku akan menghubungi mereka, tapi tidak sekarang. Biarlah, semoga ayah dan ibuku sedang memikirkan ulang niatnya menjodohkanku dengan laki-laki itu," tutur Keisha tanpa perasaan sedih. Keisha tetap pada pendiriannya bahwa ia memutuskan menolak perjodohan dengan Devano.


Tiara tidak menanggapi penuturan Keisha, sepertinya sahabatnya ini belum bisa untuk di berikan masukan. Namun di sisi lain, Tiara menjadi gelisah. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak di harapkan dengan ibunya Keisha, sementara dia menyembunyikan keberadaan Keisha dan juga tidak memberi tahu kondisi ibunya kepada Keisha.


"Keis ... aku mandi dulu!" Tiara langsung berjalan keluar kamarnya. Namun dia tidak langsung menuju kamar mandi, tetapi dia berjalan menuju ke ruang dapur. Dia menarik kursi di meja makan, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya dengan kasar.


Dia duduk sambil memikirkan keputusan yang akan di ambilnya. Dia juga tidak mau di salahkan kalau terjadi apa-apa dengan ibunya Keisha. Akhirnya Tiara pun memutuskan akan memberi tahu Jeslin kalau Keisha sedang bersamanya. Keisha pun menuliskan pesan chat kepada Jeslin.


Sementara di tempat yang berbeda, Jeslin yang sedang mendengarkan penjelasan dari dosen, merasakan getaran di HPnya menandakan ada pesan masuk.


Jeslin pun mencuri-curi kesempatan saat kuliah sedang berjalan untuk membuka pesan WAnya. Seketika dia membulatkan kedua matanya membaca pesan dari temannya Tiara, ternyata Keisha ada bersama Tiara.


Jeslin pun segera membalas pesan dari Tiara. "Ara, aku akan memberi tahu mas Devan, tapi kamu jangan kasih tahu dulu Keisha kalau ibunya sakit. Tunggu kabar dariku yah," balas Jeslin.


Lalu Jeslin meminta izin keluar kelas dengan alasan ingin ke toilet. Setibanya di toilet, Jeslin langsung menghubungi Devano dan memberitahu kalau Keisha sedang berada di Bandung di rumah keluarga Tiara.


Tidak lupa Jeslin juga memberikan nomor kontak Tiara untuk memudahkan komunikasi langsung dengan temannya Tiara.


"Terima kasih banyak, Jeslin." Devano mengucapkan terima kasih kepada Jeslin. Hal tersebut tentu saja membuat Jeslin merasa senang dan merasa di hargai oleh Devano.


Devano pun segera menghubungi Tiara, untuk meminta alamat rumah dan menyampaikan kalau Keisha akan di jemput oleh pihak keluarganya.


"Saya harus memberitahu hal ini kepada pak Stephan," batin Devano yang langsung menghampiri dan memberi kabar keberadaan Keisha kepada Stephanus.


Betapa bahagianya Stephanus mendengar kabar putrinya baik-baik saja. "Kalau begitu saya minta tolong Devan, bisakan kamu jemput Keisha?" tanya Stephanus penuh harap kepada Devano.


Sebenarnya Devano merasa tidak nyaman kalau dia yang menjemput Keisha, tapi menolaknya juga berat. Alhasil dengan berat hati Devano mengiyakan permintaan bosnya.


"Baik Pak, saya akan menjemput Keisha,"ucap Devano. "Emm Pak, ada hal yang ingin saya sampaikan sebelum saya berangkat menjemput Keisha," ucapnya menghela nafas sejenak.


"Sebelumnya saya meminta maaf jika keputusan yang saya ambil ini akan mengecewakan Bapak. Saya akan membatalkan perjodohan dengan Keisha, mungkin ini yang terbaik buat Keisha dan kita semua," ungkap Devano.


"Gak apa-apa Pak, mungkin ini yang terbaik untuk kita semua," ucap Devano meyakinkan, lalu dia mencium tangan kanan Stephanus dan beranjak meninggalkan ruangan untuk menjemput Keisha.


Dengan berbekal alamat yang di kirim oleh Tiara temannya Keisha, membuat Devano dengan mudah menemukan kediaman keluarga Tiara. Devano menempuh perjalanan hampir lima jam, hingga akhirnya mobil Devano tiba di depan rumah Tiara.


Tanpa berpikir panjang, Devano langsung menekan bel yang terpasang di dinding pagar. Tak lama kemudian, datang seorang perempuan paruh baya membuka pagar dan menyapa Devano. Lalu Devano pun menjelaskan maksud kedatangannya, kalau ia sudah ada janji dengan Tiara.


Kemudian wanita itu mempersilahkan Devano masuk dan menunggu di ruang tamu.


Sementara di kamar, Tiara sudah mengetahui kedatangan Devano. "Akhirnya mas Devan datang," batin Tiara yang langsung berjalan menuju ruang tamu dengan mengajak Keisha untuk menemui tamunya.


"Kita mau ketemu siapa Ra?" tanya Keisha bingung.


"Maaf yah Keisha, aku terpaksa memberitahu keberadaanmu. Ini semua kulakukan demi kebaikanmu," batin Tiara.


"Ada deh ... lihat aja nanti!" ucap Tiara yang memegang tangan Keisha dan membawanya menuju ruang tamu.


Alangkah terkejutnya Keisha melihat seseorang yang duduk di ruang tamu itu adalah Devano, laki-laki pilihan ayahnya yang di jodohkan dengannya.


"Ngapain laki-laki munafik ini datang ke sini,  mau apa dia?" batin Keisha yang tak suka dengan kehadiran Devano.


"Maaf menunggu lama mas Devan," ucap Tiara dengan ramah dan langsung menyalami tangan Devano.


"Gak menunggu lama kok, santai aja," jawab Devano tersenyum.


Tampak Keisha menatap sahabatnya Tiara seolah meminta penjelasan kenapa Devano datang ke sini. Tiara hanya menampilkan senyumannya dan menyuruh Keisha untuk duduk terlebih dahulu. "Keisha duduk dulu yuk!" ajak Tiara.


"Keisha, saya di minta ayahmu untuk menjemputmu," ucap Devano menyampaikan maksud kedatangannya.


Seketika Keisha menoleh dan menatap ke arah Tiara penuh kemarahan. Dia menunjukkan raut wajah kecewa dengan sahabatnya. "Ara ... kau mengkhianatiku? Aku sudah memintamu untuk tidak memberitahu keberadaanku. Apa kau tidak suka aku tinggal di sini?" kecewa Keisha.


"Jangan salah paham dulu Keisha, biar mas Devan yang menjelaskan semuanya," jawab Tiara.


"Keisha, pulanglah. Orang tuamu sangat mengkhawatirkanmu, mereka ... " belum selesai Devano berbicara Keisha sudah memotongnya.


"Hey! Dengar yah, aku tidak akan pulang. Dan satu lagi kamu tidak perlu ikut campur urusanku dengan ayah dan ibuku. Kamu tidak punya hak untuk membawaku pulang!" ujar Keisha dengan emosi, tampak wajahnya sudah memerah.


"Mentang-mentang aku di jodohkan denganmu dengan seenaknya kamu datang menjemputku, dasar pria bertopeng!" umpat Keisha dalam hati.


"Saya hanya di minta ayahmu untuk menjemputmu, dan satu lagi saya ingin menyampaikan bahwa ibumu sedang di rawat di rumah sakit karena mengalami serangan jantung."


"Cih ... kau pikir aku percaya? Pasti ini hanya akal-akalanmu saja kan agar aku mau pulang?" kata Keisha tidak percaya.


Tiara pun memberi pemahaman kepada sahabatnya Keisha. "Keisha ... mas Devan tidak bohong. Jujur saja, tadi Jeslin menelpon dan memberi tahu bahwa ibu masuk rumah sakit."


"Iya Keisha, dan masalah perjodohan kamu tidak perlu khawatir. Saya sudah membatalkannya," ucap Devano penuh ketegasan.


Mendengar penjelasan dari sahabatnya Tiara dan di tambah oleh Devano, membuat Keisha terdiam dan mematung.


...~ Bersambung ~...