Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Keisha Kabur?


Setelah Keisha menghabiskan makanannya, dia pun kembali ke kamarnya. "Ah ... rasanya malas berangkat kuliah, sepertinya telat juga kalau berangkat sekarang. Lebih baik masuk mata kuliah berikutnya saja." Keisha memutuskan untuk masuk mata kuliah ke dua pukul dua siang.


Tampak Keisha menarik kursi kosong di dekat meja belajarnya, lalu duduk. Kemudian dia mengambil ponsel miliknya dan membuka galeri di HP nya. "Ah, gak mungkin kak Nuel meninggalkanku setelah sekian lama bersabar menunggunya," lirih Keisha sambil memandang foto Nuelman.


Tidak pernah terpikirkan oleh Keisha jika dia harus menikah melalui proses perjodohan dengan laki-laki yang tidak di kenal dan di cintainya. Keisha tidak habis pikir oleh kedua orang tuanya yang berusaha keras menjodohkannya dengan Devano. Tapi Keisha tetap teguh pada pendiriannya tidak akan bersedia di jodohkan dengan Devano.


Keisha pun mengambil sebuah kertas lalu menuliskan sesuatu ke surat itu. Setelah menuangkan tinta pensil pada kertas itu, kemudian dia membuka lemari bajunya, mengambil beberapa set baju dan juga tidak lupa dia memasukkan beberapa alat kosmetik yang bisa ia gunakan.


Setelah selesai, Keisha mengirim pesan WA ke salah satu sahabatnya. Setelah beberapa menit, dia pun mendapat balasan. Lalu dia menghubungi taksi online untuk mengantarnya sampai ke tujuan. Dia melangkah keluar tanpa pamit kepada siapapun yang ada di rumahnya.


Waktu terus berjalan dan tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tampak Astri kembali ke rumahnya setelah kegiatan dari luar. Dia melihat mobil Keisha masih terparkir di garasi. "Jam segini, apa Keisha masih belum pulang dari kampusnya?" tanya Astri ketika tidak melihat putrinya di rumah.


Lalu Astri berjalan menuju dapur menemui bi Kiki untuk menyakan keberadaan Keisha putrinya. "Bi Kiki ... apa Keisha masih belum pulang dari kampusnya?" Biasanya jam segini Keisha sudah ada di rumah," ucap Astri.


"Kayaknya non Keisha tidak ke kampus nyonya, setelah sarapan ia kembali ke kamarnya dan belum keluar lagi," ucap Kiki.


"Hmm ... Keisha gak ke kampus? Kenapa? Apa dia tidak enak badan atau masih marah soal yang kemarin? Biarlah mungkin dia perlu istirahat," batin Astri.


"Bi ... makan siang sudah siap?"


"Sudah nyonya," jawab Kiki.


Sebenarnya Astri ingin menemui Keisha di kamarnya, namun dia tidak ingin istirahat putrinya terganggu, dia tahu bahwa semalam putrinya tidak bisa tidur. Astri pun masuk ke dalam kamarnya, ia merasa lelah setelah mengikuti acara kegiatan di luar.


Sebelum waktu magrib, Stephanus sudah berada di rumahnya. Dia langsung membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam bersama keluarganya. Tampak Stephanus dan Astri menuju ruang makan untuk makan malam.


"Mah ... Keisha mana? Sejak pagi ayah belum melihatnya. Apa dia masih marah?" tanya Stephanus kepada istrinya.


"Mungkin Keisha masih di kamarnya," ucap Astri sambil menyendokkan makanan ke piring suaminya. "Em ... mama ke kamar Keisha dulu, kayaknya dari pagi dia gak keluar ke kamarnya," lanjutnya yang langsung berjalan menuju kamar Keisha di lantai atas.


Sesampainya di kamar putrinya, Astri pun mengetok pintu kamar Keisha. "Keisha ... putri mommy, makan malam dulu sayang." Sudah lima ketukan, namun tidak terdengar jawaban dari kamar Keisha.


Astri pun mencoba membuka pintu kamar Keisha, ternyata pintunya tidak di kunci. Lalu dia masuk ke kamar sambil celingak-celinguk mencari keberadaan putrinya, namun tidak menemukan Keisha di kamarnya. Astri pun sudah mencoba mencari ke kamar mandi, namun di sana juga tidak ada Keisha.


"Keisha ... Keisha ... " panggil Astri. "Kemana Keisha? Apa dia keluar? Kenapa dia tidak pamit sebelum keluar?" gumam Astri yang mulai khawatir.


Sebelum meninggalkan kamar putrinya, Astri melihat secarik kertas yang berisi tulisan di atas meja belajarnya. Sepertinya itu sebuah surat yang di tulis oleh Keisha. Lalu Astri mengambil kertas itu dan membacanya.


Mommy, Daddy tersayang. Maafkan Keisha yang mengecewakan Daddy dan Mommy, yang tidak bisa menuruti permintaan kalian. Sejujurnya Keisha tidak terima perjodohan dengan laki-laki pilihan Daddy.


Keisha sungguh minta maaf kalau tindakan Keisha membuat daddy dan mommy sedih, yang membuat daddy dan mommy khawatir. Tapi, daddy dan mommy tidak perlu khawatir, Keisha baik-baik saja. Keisha bisa jaga diri baik-baik kok.


Daddy dan mommy tidak perlu mencari Keisha. Keisha akan pulang kalau daddy dan mommy tidak meminta Keisha lagi untuk menikah dengan laki-laki pilihan daddy.


Salam sayang.


-Keisha


Setelah membaca surat yang di tulis oleh Keisha, seketika tubuh Astri bergetar seolah tidak bisa menahan bobot tubuhnya. Astri pun berteriak memanggil suaminya sambil berusaha menghampiri ruang makan dengan berlinang air mata.


"Ayah ... Yah ... " teriak Astri histeris. "Keisha Yah ...."


Mendengar suara teriakan istrinya di lantai atas, Stephanus langsung berlari sekuat tenaga menghampiri istrinya. Dari teriakan istrinya sepertinya ada sesuatu hal buruk telah terjadi.


"Tak ... tak ... tak." Suara hentakan kaki Stephanus menaiki tangga. "Ada apa Mah ... hati-hati jangan berlari!" ucap Stephanus khawatir dengan istrinya karena kondisi istrinya memang belum pulih. Astri memang mengidap penyakit hepar, bulan yang lalu dia telah menjalani transplantasi hepar namun kondisinya belum terlalu fit.


"Keisha Yah ... " ucap Astri terisak dan memberikan surat yang di tulis Keisha kepada suaminya dengan tangan yang bergetar. Sebelum mengambil surat tersebut dari tangan istrinya, Stephanus mengajak istrinya dulu untuk duduk. Lalu memanggil bi Kiki untuk membawa segelas air.


Kemudian Stephanus membaca surat tersebut, namun tiba-tiba Astri merasakan nafasnya sesak. Dadanya terasa sakit seperti di hujani oleh beberapa anak panah.


Astri pun memegang dadanya sebelah kiri dengan nafas tersengal. Pandangannya mulai terasa kabur hingga akhirnya gelap dan tak terlihat apa-apa. Astri pun terkulai lemas, beruntung di sampingnya Stephanus segera menahannya hingga tidak terjatuh.


"Mah ... bangun Mah ... " cemas Stephanus melihat istrinya tak sadarkan diri. "Bi Kiki ... bi Kiki! tolong bantu saya ... " teriak Stephanus meminta bantuan.


Bi Kiki yang sedang berada di dapur untuk mengambil segelas air, mendengar teriakan tuannya dan langsung segera menghampiri.


"Ada apa Tuan? Ya ... Tuhan, nyonya kenapa Tuan?" tanya Kiki panik yang langsung menghampiri Astri yang terkulai lemas.


"Bi, kasih tahu Yoga, siapkan mobil untuk ke rumah sakit," ucap Stephanus kepada bi Kiki.


"Iya, Tuan." Kiki langsung mencari Yoga sopir nyonyanya ke rumah belakang tempat yang di sediakan untuk pengawal di rumah itu.


Sementara Stephanus mengangkat istrinya dan membaringkannya ke sofa. Tampak Stephanus cemas melihat kondisi istrinya. Dia mencoba memegang nadi pergelangan istrinya, ternyata masih terasa denyutannya.


"Mah ... " panggil Stephanus khawatir sambil jongkok dan memegang tangan kanan istrinya.


Yoga dan Kiki terlihat menghampiri Stephanus. "Mobilnya sudah siap Tuan," ujar Yoga.


"Yoga bantu bawa istriku ke mobil!" titah Stephanus. Yoga dan Stephanus pun membawa Astri ke mobil yang sudah di siapkan di depan teras. Tampak Kiki membukakan pintu mobil dan Astri langsung di baringkan di kursi mobil belakang di temani oleh Stephanus.


Tak perlu memakan banyak waktu, mobil pun melaju menuju rumah sakit. "Mah ... yang kuat," ucap Stephanus cemas. Lalu menyuruh Yoga sopirnya untuk menambah kecepatan mobil.


Sesampainya di RS, Astri pun di bawa oleh petugas rumah sakit menuju ruang IGD dengan menggunakan blankar. Tampak Stephanus berkali-kali berdoa meminta kesembuhan istrinya pada sang Kuasa.


...~ Bersambung ~...