
"Dady ...." Mata Keisha melotot menatap papanya.
"Ha ... ha ... ha .... Keisha ini cuma harapan Dady. Siapa tahu harapan Dady dapat terwujud, gak ada yang tahu kan?" Stephanus menatap balik putrinya dengan senyuman.
Sementara Devano hanya tersenyum dan tidak menanggapi ucapan Presdirnya yang ingin menjadikannya menantu untuk putrinya, Devano menganggapnya hanya candaan belaka.
"Mommy ... kita duluan pulang yuk, Keisha ada janji mau ketemu temen saya Tiara," ucap Keisha pada ibunya. Tampak Keisha melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua siang.
"Keisha gak mau lanjutin belanjanya?" tanya Astri ibunya Keisha.
"Gak ah ... Mom. Udah mau sore, nanti teman saya kelamaan nunggu," sahut Keisha malas, lalu berdiri dari tempat duduknya dan langsung menenteng tas belanjaannya.
"Pah ... Mama sama Keisha pulang duluan yah," ucap Astri beranjak dari tempat duduknya. Stephanus pun hanya mengangguk pelan mengiyakan.
"Oh yah ... Devan, tante mengundangmu untuk makan malam di rumah. Tante harap kamu datang yah," kata Astri pada Devano. Stephanus yang mendengar hal tersebut, seketika tersenyum menandakan setuju akan perkataan istrinya.
"Iya, Tante. Terima kasih, dengan senang hati saya akan datang!" jawab Devano yang tak punya pilihan lain selain mengiyakan.
Astri pun tersenyum mendengar jawaban dari Devano, lalu dia menghampiri suaminya. "Pah ... sampai ketemu makan malam di rumah. Pak Ridwan, Devano, Lucky! Kami duluan pulang yah." Astri mencium tangan kanan suaminya dan setelah itu di ikuti oleh Keisha dengan wajah yang masih cemberut.
Entah kenapa setelah mendengar ucapan ayahnya yang ingin mencoba menjodohkannya dengan Devano, Keisha tampak cemberut. Stephanus hanya tersenyum melihat sikap putrinya dan mengusap-usap kepala putrinya.
Setelah Astri dan putrinya Keisha meninggalkan ruangan tempat makan, Stephanus pun melanjutkan obrolannya dengan Ridwan dan Devano. Sedangkan Lucky yang merupakan asisten Stephanus hanya diam mendengarkan sambil menikmati jus buahnya.
"Pak Stephan, mohon maaf jam dua saya ada janji bertemu dengan salah satu mitra yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita. Mohon izin saya berangkat sekarang," izin Ridwan pada bosnya.
"Oh, tidak masalah pak Ridwan. Sekalian saja saya juga kembali ke kantor," sahut Stephanus. Lalu pandangannya seketika mengarah ke Devano. "Devan, kamu bareng saya saja. Kamu tidak ada kepentingan yang lain, kan?" tanya Stephanus berdiri dari tempat duduknya.
"Oh ... baik Pak. Saya juga tidak punya kepentingan lain."
"Baiklah, mari!" ajak Stephanus. Tampak mereka bertiga Stephanus, Devano, dan Ridwan meninggalkan ruangan makan. Sementara Lucky sudah lebih dulu keluar menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Cukup lama mereka berjalan turun dari lantai empat ke lantai satu. Setelah sampai di lobi, Ridwan pamit menuju basement tempat parkir mobilnya.
Sementara Stephanus, Devano dan Lucky berjalan menuju keluar gedung mall dan langsung masuk ke dalam mobil mewah milik Stephanus yang akan siap mengantarkan mereka menuju kantor Arkana Group.
Selama di dalam mobil, tak henti-henti Devano mengucap syukur karena bisa dekat dengan Presdirnya. Tapi dia juga merasa tidak enak karena terlalu di istimewakan oleh Presdirnya. Apalagi ketika istri Stephanus mengajak Devano untuk makan malam bersama di rumah.
"Devan, apa kita bisa berhenti sebentar di kafe. Ada hal yang saya ingin katakan padamu. Saya ingin mengatakannya tadi, tapi tidak enak karena keberadaan pak Ridwan," ucap Stephanus meminta persetujuan dari Devano.
"Oh, iya-iya Pak," jawab Devano gugup. "Apa yang ingin di katakan pak Stephan yah? Apa ada kejutan bahagia lainnya lagi?" tanya Devano dalam hati.
****
Saat ini Stephanus dan Devano sudah memilih salah satu tempat duduk dalam kafe tersebut. Tampak mereka berdua duduk berhadapan, tak lupa Stephanus memesan minuman sebagai teman pembicaraan mereka. Sementara Lucky menunggu mereka di dalam mobil.
Terlihat Stephanus menarik nafas panjang seperti berusaha melepaskan beban yang menjanggal di hatinya. "Devan, ada yang ingin sekali saya bicarakan denganmu," ucap Stephanus memulai percakapan.
"Silahkan, Pak."
"Devano terus terang saat ini saya merasa berat dengan amanah yang saat ini jalankan, mungkin karena banyak kekhawatiran yang terus menghantu-hantui pikiran dan hati saya," ucap Stephanus yang membuat Devano berusaha mencerna tiap kata oleh bosnya.
"Saya terlalu khawatir dengan sesuatu yang belum terjadi di masa depan. Ini mengenai perusahaan yang sedang saya jalankan. Saat ini saya sangat bersyukur karena perusahaan semakin berkembang, tapi di sisi lain usia saya semakin tua."
"Entah berapa lama lagi saya hidup di dunia ini. Penerus saya hanya tinggal Keisha dan sepertinya putri saya itu tidak berminat untuk terjun langsung di perusahaan."
"Saya sangat khawatir dengan perusahaan di saat nanti saya tidak ada. Saya ingin sekali mencari seseorang yang bisa menggantikan saya dalam memimpin perusahaan ini, tapi saya belum menemukannya. Saya bukan hanya mencari seseorang yang pintar, kerjanya cepat dan sebagainya. Tapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab yang tinggi," ucap Stephanus berhenti sejenak.
"Dan saya melihat potensi yang besar itu ada diri kamu Devan. Jika tidak keberatan, saya meminta kamu untuk membantu saya dalam meneruskan kepempimpinan dan mengembangkan perusahaan. Saya yakin sekali, kamu pasti bisa menjadi penerus saya kelak," tutur Stephanus sambil menatap Devano.
Sontak saja Devano kaget mendengar apa yang di ucapkan oleh bosnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memiliki jabatan di perusahaan. Devano hanya berpikir dia seorang arsitek profesional yang dapat menghasilkan karya. Jabatan baru sebagai manajer pengawasan pun tidak pernah terpikirkan olehnya. Sungguh betapa banyaknya nikmat yang Tuhan karuniakan bagi Devano.
Tampak Devano berpura-pura batuk untuk menutupi kegugupannya. "Pak ... kalau untuk membantu memajukan perusahaan, saya akan lakukan sesuai kemampuan saya. Tapi mengenai untuk menjadi penerus Bapak sepertinya saya tidak pantas, Pak. Bekerja di perusahaan Bapak saja, sudah membuat saya sangat bersyukur," ungkap Devano.
Devano merasa dirinya belum mempunyai banyak pengalaman dan tidak mempunyai kemampuan dalam mengelola suatu perusahaan. Butuh banyak waktu Devano untuk mempelajari hal tersebut.
"Pantas tidak pantas, itu orang lain yang menilai Devan. Kamu bisa belajar mulai dari sekarang, saya yakin kamu pasti bisa. Jangan mengecewakan Bapak yang telah menaruh kepercayaan saya padamu," ucap Stephanus penuh harap agar Devano bersedia memenuhi permintaannya.
Devano menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena masih sekarang dia merasa tidak percaya dengan permintaan Stephanus. Bagaimana mungkin seorang karyawan yang belum genap satu tahun bekerja, sudah di percayakan untuk menjadi penerus dalam mengelola dan mengembangkan suatu perusahaan. Itulah yang di pikirkan oleh Devano.
"Terima kasih banyak atas kepercayaannya Pak. Saya akan mencoba belajar dan semoga saya tidak mengecewakan Bapak." Hanya itu yang bisa Devano ucapkan dalam kebingungannya apakah dengan ucapan ini berarti dia menyetujui permintaan dari Presdirnya pak Stephanus.
"Syukurlah, saya senang mendengarnya. Saya yakin kamu tidak akan mengecewakan saya," ucap Stephanus.
"Em ... sebenarnya ada satu lagi yang saya minta darimu," ucap Stephanus tersenyum sumringah. "Tapi permintaan ini saya tidak akan memaksamu. Kalau kamu tidak setuju, saya akan menghargai keputusanmu," ucap Stephanus yang kembali menghela nafas dan menatap Devano sebentar.
"Apa lagi yang di minta oleh pak Stephan ya?" batin Devano yang mengerutkan keningnya dan mencoba memperhatikan tiap kata yang keluar dari mulut Presdirnya.
...~ Bersambung ~...