
Devano langsung meminta maaf atas ketidaksengajaan menyenggol gelas minumnya hingga terjatuh dan pecah di lantai. "Maaf pak Ludra membuat Bapak kaget, dan maaf atas kecerobohan saya."
"Gak apa-apa pak Devan, tenang saja. Biar saya panggilkan pelayanan untuk membersihkannya," kata pak Ludra.
Tak lama kemudian, pelayan datang untuk membersihkan gelas yang pecah di lantai.
"Terima kasih, Mas." Devano berterima kasih setelah pelayan tersebut selesai membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Oh yah, pak Devan tidak buru-buru kan? Kita bisa ngobrol-ngobrol dulu sebentar," ucap pak Ludra.
"Dengan senang hati Pak," ucap Devano walaupun masih di selimuti kegelisahan.
Mereka berbincang sambil menikmati makanan penutup. Walaupun perbicangan mereka terlihat santai, tapi entah kenapa perasaan Devano tetap tidak tenang. Devano tiba-tiba teringat dengan ibunya dan ingin sekali menghubunginya.
Setelah hampir setengah jam, Devano pamit undur diri dari hadapan pak Ludra dan berjalan menuju mobilnya. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada pak Ludra karena telah di traktir makan siang.
Sesampainya di mobil, perasaan Devano masih tidak tenang. "Kenapa perasaanku tidak enak begini ya?" batin Devano. Lalu dia membuka ponselnya dan ternyata ada panggilan tak terjawab sampai dua puluh lima kali.
Saat Devano berbincang dengan pak Ludra di dalam resto, Devano sengaja men-silent ponselnya agar tidak terganggu. Ponselnya pun tidak sengaja tertutup oleh tumpukan berkas-berkas yang Devano letakkan di atas meja, sehingga Devano tidak menyadari bahwa ada banyak panggilan masuk.
"Diva ... ada apa Diva nelfon sebanyak ini?" kata Devano yang langsung melakukan panggilan balik ke nomor Diva.
"Div ... ada apa?" tanya Devano setelah tersambung panggilan dengan adiknya Diva.
"Bang ... ibu Bang ... " kata Diva yang di sertai dengan isak tangis.
"I-ibu kenapa Div? Ibu baik-baik saja kan!"
"Hiks ... hiks ... ibu jatuh pingsan bang, sekarang ibu masih belum sadar."
"Ibu pingsan? Kenapa ibu bisa pingsan?" tanya Devano dengan mulut yang bergetar menggambarkan betapa khawatirnya ia mendengar ibunya tidak baik-baik saja. Apa yang di takuti Devano sejak pagi pun terjadi.
Diva sendiri tidak tahu kenapa ibunya bisa pingsan. Saat Diva ingin pamit untuk pergi ke kampus sekaligus mengantarkan Kevin ke sekolah, Diva menemukan ibunya sudah dalam keadaan terbaring tak sadarkan diri di dalam kamarnya.
Diva langsung berlari mendapatkan ibunya dan berteriak histeris memanggil adiknya Kevin. Air matanya pun tak bisa di tahan lagi, hingga membuat suasana menjadi mencengkam.
"Bang ... Diva lagi di rumah mengambil beberapa baju ibu, dan langsung ke rumah sakit. Diva lagi sama kak Naura, sedangkan Kevin dan om Toni sedang membawa ibu ke rumah sakit," jelas Diva tersedu-sedu akibat menangis.
Om Toni adalah ayahnya Naura. Jadi saat Kevin mencari bantuan, ayahnya Naura langsung mengusulkan ibunya Diva dan Kevin di bawa ke rumah sakit segera.
Tanpa pikir panjang, Toni langsung menyiapkan mobilnya dan langsung menuju rumah sakit mengantarkan ibunya Diva dan Kevin.
"Oke, tenang Div. Kamu langsung ke rumah sakit temanin ibu. Kalau ibu harus di rawat gak apa-apa rawat aja. Jangan pusingkan tentang biaya, abang akan urus semuanya. Nanti kabarin abang kalau sudah sampai di rumah sakit. Pokoknya kalau ada apa-apa, langsung hubungi ya," kata Devano menenangkan adiknya Diva.
"Iya, Bang. Nanti Diva hubungi lagi!" jawab Diva. Naura yang berada di samping Diva, hanya bisa menguatkan Diva dan membantu Diva membawa beberapa baju ibunya.
Berita yang baru saja Devano dengar membuatnya kaget tidak menyangka. Dia merasakan bagaimana kesedihan yang di alami oleh kedua adiknya. Baru tadi subuh Devano berbincang dengan ibunya lewat telpon dan ibunya masih baik-baik saja. Apa yang di khawatir Devano sejak malam dalam mimpinya seakan perlahan-lahan menjadi nyata.
Devano belum bisa mengambil keputusan apa yang harus ia lakukan dan pastinya sekarang Devano tidak mungkin melanjutkan pekerjaan. Kekuatan dalam dirinya seakan memudar setelah mendengar berita tersebut.
Devano ingin sekali pulang untuk segera melihat langsung kondisi ibunya, namun Devano sudah memiliki agenda pertemuan dengan beberapa relasi di hari esok. Hal tersebut membuat tersudut dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Tapi bagaimana mungkin Devano tidak menengok ibunya yang sedang sakit, pastinya saat ini keberadaannya sangat di butuhkan oleh ibunya saat ini. Rasanya kalau dia pulang sebentar menengok ibunya, pekerjaan proyek aman-aman saja.
Akhirnya Devano memutuskan untuk kembali ke kantornya walaupun perasaan sedikit galau dan gelisah. Dia merapikan dan menyiapkan beberapa berkas untuk di delegasikan ke stafnya kalau-kalau Devano harus segera pulang kampung ke Surabaya untuk melihat kondisi ibunya.
Sesampainya di kantornya, terlintas di pikirannya untuk menghubungi adiknya, bermaksud menanyakan kabar mengenai kondisi ibunya. Dia langsung menghubungi nomor Kevin, karena menurutnya Diva masih dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama Naura.
"Halo, Kevin?" Gimana kondisi ibu?" tanya Devano setelah tersambung panggilan dengan adiknya Kevin.
"Bang Devan, syukurlah abang telpon," kata Kevin dengan nada khawatir. "Sekarang ibu lagi di tangani dokter di IGD, Bang. Sampai saat ini ibu masih belum sadar juga."
"Diva sudah sampai di rumah sakit?"
"Kak Diva sepertinya lagi di jalan menuju rumah sakit, Bang. Tadi Kevin di temani oleh om Toni untuk mengantar ibu ke rumah sakit," ungkap Kevin.
"Baiklah, sampaikan terima kasihku pada om Toni dan Naura yah Kevin. Kamu yang tenang yah, tetap berdoa agar ibu kita bisa cepat sembuh. Kalau ada apa-apa, pokoknya jangan lupa hubungi abang yah," ujar Devano.
"Iya, Bang."
Setelah panggilan berakhir, Devano langsung merapikan berkas-berkas dan menandatangani beberapa berkas yang akan di tindak lanjuti dan akan di kerjakan oleh stafnya.
Tak lupa Devano mengabari pak Niko tentang rencananya untuk pulang secepatnya ke Surabaya menengok ibunya yang tengah sakit. Pak Niko yang mengerti perasaan Devano saat ini, langsung memberi izin Devano untuk pulang ke Surabaya.
Setelah selesai berbicara dengan pak Niko yang merupakan atasannya, tiba-tiba ponselnya Devano berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Ternyata adiknya Kevin yang menelpon.
"Ya Kevin, ada apa?" tanya Devano.
"Ibu, Bang .... Kondisi ibu semakin menurun. Dokter meminta persetujuan untuk di pasang alat bantu nafas dan membawa ibu masuk ruang ICU. Kata dokter kalau tidak di bantu alat nafas, ibu bisa saja tiba-tiba henti nafas. Bagaimana bang?" tanya Kevin terburu-buru dengan tangan yang sedikit gemetar.
Tadi Dokter menemui Kevin dan diminta persetujuan untuk beberapa tindakan yang harus segera di lakukan untuk mempertahankan kondisi ibunya. Entah kenapa kondisi ibunya semakin lama semakin menurun, hingga membuat para medis harus melakukan tindakan selanjutnya.
Tentu saja Kevin tidak berani mengambil keputusan, sehingga dia langsung menghubungi abangnya Devano menanyakan kebijakan dari dokter.
Devano yang mendengar penuturan dari adiknya Kevin tersentak kaget. Dia tidak menyangka kondisi ibunya sampai seperti ini, Devano hanya membayangkan ibunya pingsan biasa dan akan segera sadar lagi.
Devano langsung mengambil keputusan untuk mengikuti saran dokter untuk kebaikan ibunya. Devano rela apa saja, yang penting ibunya bisa cepat di sembuhkan.
...~ Bersambung ~...