Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Mencari Keisha


Devano menatap istri Presdirnya tersebut dengan tatapan sendu. Dia merasa iba melihat Astri yang terbaring dan tak sadarkan diri, hingga muncul sedikit penyesalan dalam hati Devano. Jika seandainya dia tidak menerima permintaan Stephanus untuk menjadi pendamping Keisha, mungkin tante Astri tidak akan terbaring di ruangan ini.


Tapi Devano juga sadar bahwa semua yang terjadi sudah di atur yang maha Kuasa dan tidak lepas dari rencanaNya. Jadi yang harus Devano lakukan saat ini adalah membantu mencari keberadaan Keisha putri Presdirnya dan mencoba membatalkan perjodohan ini kalau memang Keisha tidak menginginkannya.


Devano pun menatap Astri di sampingnya, dia melihat ke layar monitor dan terlihat angka-angka nilai tanda vital yang menunjukkan angka normal. Devano sedikit paham dengan nilai tanda vital tersebut, seperti tekanan darah, denyut jantung, dan sebagainya yang terpampang di layar monitor.


Bukan tanpa alasan Devano dapat mengetahuinya, karena beberapa bulan yang lalu dia selalu berada di ruang ICU menemani ibunya yang sakit saat itu, hingga ibunya pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dia dan kedua adiknya.


Tak lama kemudian, lamunan Devano menjadi buyar ketika mendengar langkah kaki Stephanus menghampirinya. Melihat Stephanus menghampirinya, Devano langsung berdiri.


"Bagaimana Pak?" tanya Devano.


"Menurut kata dokter keadaannya baik-baik saja, tinggal menunggu kesadarannya saja. Semoga istri saya cepat sembuh dan kesadarannya cepat kembali normal," harap Stephanus.


"Syukurlah Pak, saya turut senang mendengarnya. Semoga tante Astri kembali sehat seperti sediakala," kata Devano. Lalu Devano mempersilahkan Stephanus duduk di kursi di samping istrinya.


"Mah ... tolong bangunlah. Ayah khawatir melihat mama seperti ini. Tadi Dokter mengatakan bahwa mama akan baik-baik saja, jadi kita akan segera pulang ke rumah. Jadi bangunlah Mah," ucap Stephanus yang menatap wajah istrinya dengan tatapan sendu.


Tampak Stephanus duduk, berbicara sambil memegang tangan istrinya. Laki-laki itu terlihat sangat mencintai istrinya.


"Pak sebaiknya Bapak istirahat dulu. Bapak juga perlu istirahat, jangan sampai kesehatan Bapak menurun," ujar Devano.


"Sebentar lagi Devan, nanti saya akan mencoba tidur di kamar penunggu pasien."


"Baiklah, kalau begitu saya nunggu di luar Pak. Saya akan mencoba membantu mencari keberadaan Keisha, menghubungi teman-teman dekat Keisha," ucap Devano dan di balas anggukkan kepala oleh Stephanus.


Stephanus sendiri sedikit merasa aneh kepada Devano, bagaimana mungkin Devano akan menghubungi teman Devano kalau kenal dekat dengan Keisha aja belum. Lantas dari mana Devano akan tahu teman-teman Keisha. Itulah yang di pikirkan oleh Stephanus, tapi dia tidak ingin ambil pusing. Saat ini dia hanya fokus oleh keadaan istrinya sekarang.


Sesampainya di luar, Devano langsung membuka handphonenya dan mencari nomor seseorang yang pernah melakukan misscall di ponsel miliknya beberapa hari yang lalu. Ya ... siapa lagi kalau bukan pemilik nomor itu Jeslin, teman Keisha yang pernah meminta nomor Devano saat di resto di sebuah mall.


Akhirnya Devano pun menemukan nomor tersebut, lalu Devano mencoba melakukan panggilan dengan nomor tersebut. "Semoga aja dia tidak sibuk," batin Devano.


Sementara Jeslin sedang berada di kantin kampusnya, merasakan ponselnya bergetar di dalam tasnya, dia langsung mengambil handphone miliknya. Dia melihat ada panggilan telfon dengan nama 'Devano ganteng'. Sontak Jeslin membulatkan kedua matanya, tidak percaya apa yang baru saja dia lihat.


Betapa girangnya dia mendapat panggilan telfon dari Devano, lalu dia langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya agar tersambung panggilan dengan Devano.


"Ha-halo ... " ucap gugup Jeslin.


"Selamat siang," sapa Devano.


"Siang juga, ini mas Devan yah?" tanya Jeslin untuk memastikan. Tapi dari suaranya, Jeslin sudah tahu bahwa dialah Devano.


"Iya, ini Jeslin kan?" tanya balik Devano.


"Iya mas Devan, ini Jeslin. Wah ... saya sangat tersanjung mas Devan mau menghubungi saya," ucap Jeslin bahagia.


"Iya, soalnya ada hal penting yang ingin saya tanyakan. Apa saudari Jeslin sedang sibuk?"


"Gak kok mas, nih lagi makan di kantin. Sering-sering telpon juga gak apa-apa kok mas Devan," balas Jeslin tanpa malu-malu.


"Keisha?" kata Jeslin heran kenapa Devano menanyakan keberadaan temannya.


"Iya, apa kamu tahu Keisha di mana, soalnya kemarin dia pergi dari rumah," ucap Devano sekali lagi.


"Apa! Pergi dari rumah? Emm ... saya juga tidak tahu di mana Keisha, hari ini juga dia belum ke kampus. Semalam ada orang suruhan ayahnya Keisha datang ke rumah, menanyakan Keisha juga. Emangnya kenapa Keisha tiba-tiba pergi dari rumah?" tanya Jeslin penasaran.


Devano diam sejenak, ia sedang berpikir apakah dia harus memberitahu Jeslin kalau Keisha pergi dari rumah karena perjodohan yang di lakukan oleh ayahnya.


"Halo, mas Devan. Apa masih di sana?" Terdengar suara Jeslin di telfonnya.


"Eh iya ... ini saya hanya ingin memberitahu Keisha kalau ibunya sedang di rawat di rumah sakit. Nanti kalau saudari Jeslin bertemu Keisha tolong kabarin saya yah. Sekalian boleh minta tolong gak untuk menghubungi temannya yang lain barangkali sedang berada dengan temannya. Tapi jangan beritahu dulu kalau ibunya sedang sakit, nanti kabarin saya saja. Minta tolong yah, maaf kalau merepotkan," ujar Devano.


"Oh gak masalah kok mas, saya akan mencoba menghubungi teman-teman kami. Kalau nanti saya tahu keberadaan Keisha, saya akan menghubungi mas Devan," balas Jeslin tersenyum.


"Terima kasih banyak Jeslin, saya tutup dulu telponnya. Selamat siang, semoga harimu menyenangkan."


"Sama-sama mas Devan, selamat siang juga," jawab Jeslin.


Setelah telpon di tutup, Jeslin masih termenung menatap ke depan dengan pandangan kosong. Dia masih memikirkan ada apa dengan Keisha yang tiba-tiba meninggalkan rumah. Dan kenapa juga Devano mencarinya, apa hubungannya dengan Devano? Bukankah mereka baru kenalan dengan Devano hari minggu kemarin.


"Apa Keisha sedang bermasalah dengan kedua orang tuanya, tapi kenapa? Tampaknya orang tuanya sangat menyayangi Keisha," ucap Jeslin bermonolog. "Jika Keisha sampai pergi dari rumah, mungkin masalahnya serius. Tapi apa masalahnya?" tanyanya yang terus berpikir.


"Wait, kemana Tiara? Dia tidak kelihatan juga di kampus," batin Jeslin. "Apa jangan-jangan Keisha sedang bersamanya?"


Jeslin langsung menghubungi Tiara dengan ponsel miliknya. Tak lama kemudian, terdengar suara dari Tiara dari balik telepon.


"Halo, Jes?" tanya Tiara.


"Halo, Ara. Kamu sekarang di mana? Gak ke kampus yah?" tanya balik Jeslin.


"Aku lagi pulang kampung, kakakku perempuan mau menikah. Hmm ... kenapa, kangen yah seharian gak ketemuan?" canda Tiara tertawa kecil.


"Ih ... kepedean," ucap Jeslin cemberut. "Ara ... kamu tahu gak ke mana Keisha? Semalam suruhan ayahnya datang ke rumahku, katanya Keisha gak bisa di hubungi. Trus tadi mas Devan .... Kamu ingatkan laki-laki yang ketemu di resto yang kita godain hari minggu kemarin. Dia juga menanyakan Keisha, katanya ibunya Keisha di rawat di rumah sakit," kata Jeslin yang belum selesai menjelaskan, Tiara langsung memotongnya.


"Apa! Ibunya Keisha di rawat di rumah sakit?" tanya Tiara kaget. "Sakit apa ibunya Keisha?"


"Aku juga kurang tahu, kata mas Devan hanya cuma itu. Tapi kata mas Devan jangan di kasih tahu ke Keisha kalau ibunya di rumah sakit, mungkin biar Keisha gak khawatir. Udah ... udah, kamu tahu di mana Keisha gak?" tanya Jeslin dengan pertanyaan yang sama.


Tiara tidak langsung menjawab, dia bingung apakah harus memberi tahu kalau Keisha ada bersamanya atau tetap menyembunyikan keberadaan Keisha sesuai pesan Keisha padanya. "Aduh ... bagaimana ini?" bingung Tiara dalam hati.


"Lama banget sih, ya udah aku masuk ke kelas dulu. Jam istirahat sudah selesai, nanti kabarin aku kalau kamu menemukan Keisha," ucap Jeslin hendak menutup ponselnya.


Untungnya Jeslin masuk kelas, jadi Tiara tidak perlu menjawab pertanyaan Jeslin. "Oke, Jes. Nanti aku kabarin!"


...~ Bersambung ~...