
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat mobil Devano memasuki tempat parkir rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya dengan baik, Devano pun mematikan mesinnya. Dia melihat ke sampingnya, tampak Keisha masih tertidur pulas. Sepertinya Keisha sangat kelelahan dan ngantuk berat.
Devano pun mencoba membangun Keisha dengan memanggil namanya beberapa kali. Panggilan ke tiga barulah Keisha terbangun, ia mengucek kedua matanya yang sembab dan terasa sedikit perih.
"Kita sudah sampai," ucap Devano. Lalu dia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu mobil dekat Keisha dan membukakan pintunya. Keisha segera turun dari mobil setelah pintu di bukakan.
Devano pun mengambil travel bag Keisha yang di taruh di kursi tengah dan langsung menentengnya. Kemudian berjalan masuk menuju rumah sakit yang terlihat megah dan ramai.
Sementara Keisha berjalan di belakang mengikuti Devano. Perasaannya campur aduk antara sedih, menyesal, dan juga bahagia karena akan bertemu lagi dengan ayah dan ibunya.
"Lewat sini!" ucap Devano membukakan pintu CICU dan terlihat dalam ruangan Stephanus selalu duduk di kursi tunggu bersama Ridwan yang selalu menemani Stephanus.
Melihat ayahnya berada di ruangan tunggu pasien, Keisha langsung berlari menghampiri dan memeluknya di sertai deraian air mata yang tidak bisa di bendung lagi. Air mata yang tadi berhenti dan sempat mengering kembali keluar dan membanjiri kedua pipinya.
"Daddy ... " ucap Keisha memeluk ayahnya.
"Sayang ... akhirnya kau pulang. Ayah dan ibumu sangat mengkhawatirkanmu. Kamu baik-baik saja?" tanya Stephanus mengelus rambut putrinya dan mencium keningnya.
"Maafkan Keisha Dad ... maafkan Keisha. Ini salah Keisha, ini karena keegoisan Keisha. Maafkan Keisha Dad! Hiks ... hiks ... hiks," ucapnya sambil masih memeluk ayahnya.
"Sudah, sudah. Daddy sudah memaafkanmu. Ayo kita temui ibumu, daddy akan minta izin supaya kamu bisa masuk," ucap Stephanus mengajak putrinya menuju ruangan pasien.
Sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang pasien, Stephanus melihat Devano berada tidak jauh jauh darinya sedang berbincang dengan Ridwan. Stephanus pun menghampirinya terlebih dahulu. "Terima banyak Devan, telah membawa putriku padaku," ucap Stephanus.
Devano langsung berdiri menatap Presdirnya. "Apa yang Bapak katakan? Bukankah Bapak telah menganggap saya seperti keluarga Bapak?" ucap Devano tersenyum. "Mungkin yang saya lakukan hari ini untuk Bapak, tidak sebanding dengan kebaikan Bapak kepada saya," tambahnya.
Stephanus pun membalasnya dengan senyuman di sertai anggukan kepala. Dia pun merangkul bahu Devano dengan tangan kanannya. "Mari ... kita lihat ibunya Keisha," ajak Stephanus.
"Dengan senang hati Pak." Devano mengikuti langkah Stephanus menuju ruang pasien. Stephanus pun telah meminta izin kepada petugas agar putrinya bisa melihat ibunya.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruangan pasien tempat ibunya Keisha di rawat. Sesampainya, Keisha langsung mencium kening ibunya dan memeluk ibunya yang tetap dalam keadaan tertidur.
Tangisnya tumpah tak tertahankan melihat wanita yang melahirkannya terbaring lemah di ranjang tidur pasien. Dengan terisak, Keisha memanggil ibunya dengan suara pelan takut mengganggu pasien di sebelah ibunya yang hanya terhalang oleh gorden.
"Mom ... ini Keisha mom. Maafkan Keisha mom ... Keisha yang salah," panggil Keisha dengan tangisan.
Stephanus pun mendekat dengan putrinya. "Mah ... bangun Mah, lihat ini Keisha putri kita. Buka matanya mah, Keisha kangen sama mama ... " ucap Stephanus mengelus rambut putrinya dan berusaha menenangkannya. Namun Keisha masih terus berbicara dengan ibunya yang belum juga mau membukakan matanya.
"Please, bangun Mom .... " Air mata Keisha terus membasahi pipinya hingga membasahi punggung tangan ibunya yang sejak tadi di pegang oleh Keisha.
Sempat terpikirkan oleh Keisha kalau ibunya tidak akan bangun lagi dan meninggalkannya untuk selamanya. Tidak ... itu tidak boleh terjadi, Keisha masih belum siap kalau harus di tinggalkan oleh ibunya. Keisha bertekad akan melakukan apapun asal ibunya bisa bangun dari komanya.
"Bangun Mom. Keisha sangat merindukan mommy. Mommy boleh hukum Keisha sekarang, tampar aja Keisha mom. Keisha telah membuat mommy jatuh sakit. Hiks ... hiks ... hiks," ucap Keisha yang meletakkan tangannya ibunya di dekat pipinya. Namun, Astri tetap betah dengan tidur lelapnya.
Seketika Keisha mencoba menghapus air matanya dan membenarkan rambutnya yang jatuh di wajahnya. "Mom ... mommy mau lihat Keisha menikah dengan mas Devan kan? Keisha mau menikah dengan mas Devan mom, tapi mommy harus bangun dan pulih kembali. Keisha akan melakukan apapun asalkan mommy bahagia."
Mendengar ucapan putrinya, Stephanus pun terharu. Ternyata Keisha sangat menyayangi ibunya. "Keisha, jangan sampai seperti itu ... kami sudah membatalkan perjodohanmu dengan Devano. Daddy tidak mau perjodohan ini membuat kamu bersedih Nak dan kamu terpaksa melakukannya."
Keisha langsung menoleh ke arah ayahnya. "Tidak Dad, Keisha bersedia menikah dengan mas Devan. Keisha tahu mommy sangat menginginkan Keisha menikah dengan mas Devan," ucap Keisha yang kembali menatap ibunya.
Itulah yang di ucapkan Keisha, tidak peduli ia mencintai Devano atau tidak, yang penting saat ini keputusannya bersedia menikah dengan Devano bisa membuat ibunya bahagia. Keisha bisa membayar kesalahannya yang menyebabkan ibunya mengalami serangan jantung. Urusan kehidupan rumah tangganya setelah menikah itu urusan nanti yang akan ia pikirkan lagi.
Stephanus pun beranjak keluar ruangan pasien membiarkan Keisha mendampingi ibunya. Melihat bosnya keluar, Devano pun mengikutinya dari belakang. Namun langkah Stephanus berhenti dan menoleh ke belakang. Stephanus meminta Devano untuk menemani Keisha di ruangan pasien.
"Devan, kumohon temanilah Keisha. Dia akan kesepian jika dia sendirian di sini," harap Stephanus.
"Tapi Pak ... " kata Devano yang belum selesai melanjutkan ucapannya, namun Stephanus telah memotongnya.
"Kumohon kali ini aja. Temanilah Keisha!" ucap Stephanus mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Jangan meminta seperti itu Pak, saya tidak merasa nyaman," ucap Devano menurunkan kedua tangan Stephanus. "Baik, saya akan menemani Keisha."
"Terima kasih banyak Devan."
Devano pun mendekati Keisha dan ibunya, jadi posisinya di belakang Keisha yang sedang duduk dan mengusap-usap tangan Astri. Merasa ada seseorang yang datang mendekat, Keisha menoleh ke belakang.
"Sepertinya laki-laki ini benar-benar mencari muka. Dia pandai sekali mendapatkan hati daddy dan mommy. Kenapa dia tidak pulang saja sih, ngapain masih di sini. Bukannya tadi dia bilang sudah membatalkan perjodohan denganku," batin Keisha.
Keisha pun tersadar dengan ucapannya tadi, bukankah tadi ia mengatakan bersedia menikah dengan Devano di depan ayah dan ibunya. Seketika muncul penyesalan di dalam hatinya.
Dia menyalakan diri sendiri karena berharap ibunya segera bagun dari komanya, sampai-sampai dia mengatakan bersedia menikah dengan Devano. Walaupun ayahnya mengatakan perjodohannya sudah di batalkan, namun Keisha mengatakan ia tetap akan menikah dengan Devano demi membahagiakan ibunya.
Sekarang Keisha harus mempertanggung jawabkan ucapannya. Mungkinkah Keisha akan menepati janjinya setelah ibunya sadar dari komanya? Yang pasti Keisha akan melakukan apapun demi kesembuhan ibunya, hanya demi kebahagiaan ibunya.
Keisha yang merasa tidak nyaman berada di dekat Devano mencium kening ibunya lalu beranjak keluar dengan alasan pergi ke toilet.
Devano pun duduk di kursi penunggu pasien di samping tempat tidur Astri. Ia menundukkan kepalanya, berdoa untuk kesembuhan istri Presdirnya. Selesai mengucapkan doanya dalam batinnya, tiba-tiba terdengar suara dari mulut Astri memanggil nama seseorang namun tidak begitu jelas.
Devano pun langsung berdiri dan memanggil perawat, takut akan terjadi apa-apa pada istri Presdirnya. Perawat dengan dokter jaga ruangan pun segera datang memeriksa kondisi Astri.
...~ Bersambung ~...