
Tampak Stephanus kembali menghela nafas, lalu menatap Devano sebentar. Sementara Devano mengerutkan keningnya dan menegakkan duduknya, mencoba memperhatikan tiap kata yang keluar dari mulut Presdirnya.
"Silahkan, Pak. Satu hal apa lagi permintaan yang Bapak inginkan, saya akan mencoba melakukannya sesuai dengan kemampuan saya," ucap Devano.
Mendengar hal tersebut, Stephanus pun tersenyum dan memberanikan untuk mengatakannya. "Devan ... saya meminta kamu menjadi menantu saya, menjadi suami putri saya Keisha," ucap Stephanus.
Deg.
Devano kembali di buat kaget oleh permintaan Presdirnya, sungguh dia tidak mempercayai apa baru saja yang dia dengar. Tampak Devano menatap Stephanus mencari kebenaran ucapan Stephanus.
"Maksudnya, Pak?" tanya Devano memastikan lagi ucapan Stephanus, khawatir dia salah dengar.
"Kita minum dulu, Devan. Sepertinya kita terlalu tegang dalam berbicara," ucap Stephanus mempersilahkan Devano untuk menikmati minuman yang telah tersaji di atas meja.
Devano pun menurut dan langsung menyeruput kopi yang tersaji di depannya, sambil memikirkan apa dia salah mendengar ucapan Presdirnya atau tidak.
Setelah suasana kembali tenang, Stephanus pun melanjutkan ucapannya pada Devano. "Kamu memang tidak salah dengar, Devan. Ya ... hari ini saya memintamu untuk menjadi pendamping putri saya Keisha."
"Menjadi pendamping putri Bapak?" tanya Devano mengulangi perkataan Stephanus.
"Tapi Pak, saya tidak pantas menjadi pendamping putri Bapak. Saya hanya pria dengan latar belakang yang berbeda jauh dengan latar belakang Keluarga Bapak. Menurut saya, masih banyak kok pria yang lebih baik dari saya dan sepadan dengan putri Bapak," ungkap Devano.
"Itu adalah menurutmu, Devan. Tapi menurut saya kamu pantas mendampingi Keisha. Saya adalah ayahnya Keisha, saya tahu mana pria yang cocok untuk mendampinginya," ucap Stephanus meyakinkan Devano.
"Tapi tenang saja, tidak perlu di jawab sekarang. Saya akan memberi waktu satu pekan untuk kamu bisa mempertimbangkan permintaan dari saya. Senin depan saya tunggu jawabannya dari kamu," lanjutnya sambil tersenyum ke arah Devano.
"Tapi Pak, bagaimana dengan putri Bapak sendiri? Apa dia menyetujui permintaan Bapak ini? Mungkin putri Bapak sudah memiliki calon pendamping pilihannya sendiri. Besar kemungkinan, dia akan kurang setuju dengan permintaan ini." Devano berusaha mencari celah agar permintaan Stephanus bisa di pertimbangkan lagi.
Seketika Stephanus tersenyum melihat tingkah Devano. "Jangan pusingkan hal itu Devan, itu nanti urusan saya dengan putri saya. Saya hanya ingin dalam waktu sepekan ini kami betul-betul mempertimbangkan permintaan saya ini."
"Saya tidak meminta keputusanmu karena terpaksa, kalau kamu setuju kamu betul-betul tulus menerimanya. Kalaupun menolak permintaan saya ini tidak apa-apa dan juga tidak berpengaruh pada apa pun termasuk dengan permintaan yang pertama. Saya akan tetap memilih kamu menjadi penerus saya," ungkap Stephanus.
Lagi-lagi Devano tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa. Selama ini Devano hanya menganggap ucapan bosnya sebagai candaan belaka tentang Stephanus yang ingin menjadikannya menantu untuk putrinya.
"Oh iya, kamu memang belum mengenal putri saya Keisha. Tapi saya pastikan dia anak yang baik, ya ... walaupun dia anak yang manja. Itu karena saya dan mamanya memperlakukan putri kami istimewa."
"Keisha adalah putri saya satu-satunya dan saya sangat menyayanginya. Saya sangat khawatir kalau nantinya dia mendapatkan pendamping yang tidak tulus mencintai dan menerimanya, dimana hanya ingin memanfaatkannya. Saya tidak ingin hal tersebut terjadi pada putri saya."
"Tapi setelah saya bertemu dan mengenal pribadimu, akhirnya saya menemukan pendamping yang cocok untuk putri saya Keisha. Pria yang baik hati dan penuh tanggung jawab, yaitu kamu Devan. Saya sangat percaya padamu dan jika seandainya kamu siap menjadi pendamping Keisha, saya akan merasa tenang Devan," tutur Stephanus.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Stephanus pun menyudahi obrolannya dengan Devano. Lalu Devano dan Stephanus pun pergi meninggalkan kafe dan berjalan menuju mobil sedan mewah Stephanus. Melihat kehadiran bosnya, Lucky langsung turun dari dalam mobil dan membantu membukakan pintu mobil.
Tak butuh waktu yang lama, mobil pun meluncur menuju kantor Arkana group. Di dalam mobil tidak terdengar sedikit pun obrolan antara Stephanus, Devano, dan Lucky.
Tampak Stephanus menyandarkan kepalanya dan perlahan memejamkan kedua matanya. Stephanus memanfaatkan waktu untuk bisa beristirahat karena perjalanan menuju kantor seperti akan di tempuh sekitar satu jam mengingat kondisi padatnya jalanan ibu kota.
Di sisi lain, Devano hanya menatap ke depan dengan hati dan pikiran yang sedang berperang argumen. Hari ini banyak sekali hal yang tidak di mengerti oleh Devano sendiri. Entah harus mulai dari mana dia memikirkan permintaan Stephanus Presdirnya. Tampak Devano memijat batang hidungnya sambil terus berpikir.
Lucky pun menyalakan musik untuk mengisi kekosongan di dalam mobil. Lucky menyetel suara yang tidak terlalu besar agar Stephanus juga tidak bangun dari tidurnya. Melihat Devano yang mulai menikmati alunan musik, Lucky pun tersenyum.
Akhirnya hampir satu jam, mobil sedan mewah Stephanus memasuki pelataran lobi kantor Arkana group. Stephanus yang merasakan mobil berhenti, perlahan membuka matanya seolah dia mengetahui kalau sudah sampai di kantornya.
Dengan cekatan, Lucky langsung membukakan pintu dan Stephanus pun keluar di ikuti oleh Devano. Mereka langsung berjalan menuju lift, tampak security dan beberapa karyawan yang berpapasan menganggukkan kepala di sertai senyuman kepada Presdirnya.
Setelah Stephanus, Devano, dan Lucky meninggalkan lantai satu menuju lantai atas, sontak para karyawan membicarakan keakraban Devano dengan Presdir.
"Beruntung banget ya pak Devan, masih muda tapi karirnya udah bagus. Bahkan setelah pulang dari Sulawesi sebagai pimpro, dia terlihat berwibawa yah," ucap salah seorang karyawan.
"Benar, udah ganteng tambah ganteng lagi," timpal seorang karyawan perempuan.
"Di lihat-lihat sepertinya pak Devan mempunyai hubungan keluarga dengan Presdir."
"Mungkin saja pak Devan keponakannya Presdir."
****
Stephanus, Devano, dan Lucky sudah berada di lantai lima belas. Lalu Devano pun pamit menuju ruangan divisi proyek, bermaksud menemui Emir sahabatnya.
"Pak, saya pamit dulu mau ke ruangan divisi proyek."
"Silahkan pak Devan. Hari senin depan saya tunggu jawabanmu," ucap Stephanus mengingatkan sebelum dia meninggalkan Devano menuju ruangannya.
"Baik Pak," jawab Devano tersenyum.
Setelah Stephanus dan Lucky hilang dari pandangannya, Devano pun menuju ruang kerja Emir yang dulu juga adalah ruangan kerjanya. "Permisi!" ucap Devano sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Emir.
"Iya, silahkan masuk." Tampak Juan mengalihkan pandangannya dari layar monitornya dan langsung memberikan senyuman lebarnya menyapa Devano.
Emir yang duduk menghadap jendela langsung memutar kursi kerjanya bermaksud melihat siapa yang datang. Sepertinya dia mengenali suara seseorang yang masuk ke ruang kerjanya.
"Gila lu bro ... kemana aja lu seharian. Dari pagi gue cari-cari, sampai-sampai gua umumin ke bagian informasi lu ngilang di telan bumi," canda Emir yang langsung menghampiri Devano.
"Sorry bang, saya lupa ngabarin. Saya tadi ada urusan di luar bersama pak Ridwan dan pak Presdir," jelas Devano.
"Oh gak apa-apa, Bro. Silahkan duduk dulu! Sepertinya wajah lu tegang banget," kata Emir. "Ada apa?" tanyanya pada Devano yang sudah duduk.
"Gak apa-apa bang, saya sedih aja gak di divisi proyek lagi."
"Mau pindah kemana lu bro?" tanya Emir penasaran.
...~ Bersambung ~...