Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Jawaban Devano


Sesampainya Devano, Lucky asisten Presdir langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Devano masuk ke ruangan Stephanus.


"Selamat pagi Pak," salam Devano yang langsung mendekati Stephanus yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Devano pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Siang juga Devan! Kita duduk di sofa saja biar santai," ajak Stephanus mempersilahkan Devano duduk di sofa bersama. Tampak mereka duduk berhadapan.


Sesekali Devano mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup di hadapan pak Stephanus. Entah kenapa ketika ia memasuki ruangan Presdir jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya dan perasaannya sama seperti saat akan mengikuti tes wawancara di perusahaan ini.


Seketika muncul perasaan khawatir dalam diri Devano, apakah jawaban yang akan di sampaikan adalah keputusan yang tepat? Devano sendiri telah berusaha mengenyampingkan keinginan dirinya.


Ya ... keputusan yang dia pilih memang tidak sesuai dengan harapannya, namun Devano selalu percaya bahwa pilihannya saat ini adalah kehendak Tuhan dalam hidupnya.


"Bagaimana kabar pekerjaanmu di divisi yang baru, apa ada masalah?" tanya Stephanus memulai percakapan.


"Saya mulai menikmati pekerjaan saya Pak. Walaupun ada beberapa masalah ketika baru pertama menjalaninya, tapi perlahan demi perlahan saya mulai belajar dari kesalahan," jawab Devano.


"Dan sekarang baru dua proyek yang sedang saya pelajari dan mudah-mudahan secepatnya semua proyek bisa saya kuasai," lanjut Devano menjelaskan lebih detail beberapa proyek yang berada dalam pengawasannya.


"Syukurlah, saya sudah yakin bahwa kamu dapat menguasainya. Kamu memang memiliki potensi lebih yang tidak di punyai oleh beberapa pegawai di sini. Jadi perusahaan ini sangat beruntung mempunyai pegawai sepertimu," puji Stephanus.


"Kalau bisa kedepannya kamu harus menguasai marketing dan keuangan. Kamu bisa atur waktu untuk melanjutkan sekolah S2, ambil saja jurusan manajemen bisnis. Cari universitas swasta yang bagus, nanti pak Ridwan akan membantu mencari info universitasnya."


"Soal biaya pendidikan nanti perusahaan yang akan membiayai," ujar Stephanus berbicara seperti memberikan instruksi yang tidak bisa di bantah oleh Devano. Devano hanya diam tertegun, dia tidak memberikan jawaban.


"Lalu bagaimana dengan permintaan saya minggu yang lalu, kamu sudah memikirkannya baik-baik kan?"  tanya Stephanus yang membuat Devano menegakkan duduknya dan berusaha menghilangkan ketegangannya.


Melihat Devano masih belum menjawab pertanyaannya, Stephanus pun kembali berbicara. "Santai saja Devan, apapun jawabanmu saya akan terima," ungkap Stephanus sambil tersenyum.


"Kalaupun kamu menolaknya saya akan tetap menganggapmu bagian keluarga saya dan kamu tetap menjadi penerus saya dalam memimpin perusahaan ini," lanjut Stephanus yang merasakan Devano begitu tegang.


"Terima kasih sebelumnya Pak, untuk permintaan Bapak minggu yang lalu saya sudah memikirkannya baik-baik. Semoga keputusan yang saya ambil benar-benar yang terbaik," kata Devano yang menarik nafasnya sebentar.


Stephanus pun makin penasaran apa yang akan menjadi jawaban dari permintaannya. Tampak Stephanus sedikit menundukkan kepalanya sambil tetap mendengarkan Devano.


"Saya bersedia menjadi pendamping putri Bapak," ungkap Devano yang seketika membuat Stephanus mensejajarkan pandangannya dan tampak senyum lebar di bibir Stephanus menampakkan kebahagiaan tiada tara.


"Saya bersedia menikah dengan Keisha putri Bapak dengan catatan Keisha juga bersedia menerima saya," tambah Devano menegaskan.


Stephanus pun berdiri dari tempat duduknya dan mendekat dengan Devano, lalu merangkulnya dengan penuh rasa bahagia.


"Terima kasih telah menerima permintaan saya. Tenang saja, saya akan membicarakan dengan putri saya Keisha. Selama ini dia menjadi anak yang baik dan penurut, dan saya yakin dia tidak akan mengecewakan kami orang tuanya," ucap Stephanus.


****


Stephanus, Astri istrinya dan Keisha baru selesai makan malam. Mereka masih duduk di meja makan, dan tampak Keisha sibuk dengan ponselnya sedangkan Stephanus dan istrinya sedang berbisik membicarakan sesuatu.


Akhirnya Stephanus pun memberanikan diri menyampaikan kepada Keisha rencananya menjodohkan Keisha dengan Devano. Sebelumnya sore tadi Stephanus membicarakannya dengan Astri. Astri pun setuju dengan rencana suaminya, ya ... walaupun ada kekhawatiran kalau Keisha akan menolaknya.


"Keisha, putri Daddy yang cantik. Ada hal yang ingin Daddy bicarakan dengan kamu. Kamu tidak sibuk kan?" tanya Stephanus dengan suara lembut.


Seketika Keisha mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menoleh ke arah kedua orang tuanya. "Keisha gak sibuk kok Dad, nih Keisha lagi santai. Tumben Daddy nanya dulu Keisha sibuk apa nggak, biasanya juga Daddy langsung bicara sama Keisha," ujarnya.


Stephanus pun tersenyum ke arah putri semata wayangnya. "Bukan begitu sayang, takutnya Keisha lagi banyak tugas di kampus, nanti buru-buru ngobrolnya. Nah ... kalau begitu kita ngobrolnya di ruang tengah saja," ajak Stephanus seraya beranjak dari tempat duduknya menuju ruang tengah. Keisha dan Astri pun mengikuti Stephanus dari arah belakang.


"Mom, Daddy mau bicara apa sih. Kayaknya serius banget," bisik Keisha di telinga ibunya. Astri hanya tersenyum memandang putrinya dan tidak menjawab pertanyaan Keisha.


Mereka pun duduk di sofa panjang yang sangat empuk, tampak Keisha duduk di tengah di antara ayah dan ibunya.


Stephanus pun memulai percakapannya. "Keisha putri kesayangan Daddy, terima kasih selama ini Keisha sudah menjadi anak yang baik dan menyenangkan daddy dan mommy. Maaf, bila selama ini daddy dan mommy belum bisa mengikuti keinginan kamu," ucap Stephanus.


"Tapi semua daddy lakukan karena daddy dan mommy sangat sayang sama kamu. Kamu adalah putri daddy satu-satunya yang daddy dan mommy sangat sayang. Keisha juga sayang kan sama daddy dan mommy?" tanya Stephanus berbicara dengan lembut sambil mengusap rambut putrinya.


"Daddy kenapa sih ... kok ngomongnya bikin Keisha sedih. Yah jelaslah, Keisha sayang banget sama daddy dan mommy," ucap Keisha sambil memegang tangan ayah dan ibunya.


"Makanya selama ini Keisha nurut sama daddy dan mommy. Keisha sudah ikhlas kok kalau gak bisa sekolah di London, yang penting impian Keisha menjadi desainer bisa tercapai," ucap Keisha bergantian memandang orang tuanya. "Keisha senang kok kuliah di sini, bisa dekat daddy dan mommy juga kan. Dan gak terasa Keisha udah semester delapan, mudah-mudahan tahun depan Keisha udah lulus," tambahnya.


"Wah ... gak terasa putri kecil mommy sekarang udah dewasa," ucap Astri mencium kening putrinya.


"Keisha ... sebenarnya daddy punya satu permintaan lagi. Daddy dan mommy akan sangat bahagia bila Keisha menuruti permintaan daddy ini," ucap Stephanus.


"Permintaan apa Dad?" tanya Keisha memandang ayahnya. "Kalau membuat daddy dan mommy bahagia akan Keisha usahakan."


Sebelum Stephanus melanjutkan obrolannya dia melirik istrinya, tampak Astri mengangguk pelan meyakinkan suaminya.


Lalu Stephanus tersenyum kecil dan kembali memandang putrinya. "Sayang ... daddy ingin menjodohkan Keisha dengan Devano karyawan daddy, dan daddy harap Keisha bersedia," ucap Stephanus hati-hati sambil memegang tangan putrinya.


Deg ....


Betapa terkejutnya Keisha mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh ayahnya. Bagaimana bisa di zaman modern ini ayahnya punya pikiran menjodohkan dia dengan seorang pria yang bahkan Keisha belum mengenal pria tersebut.


Seketika Keisha beringsut mundur menyisakan jarak antara dia dan ayahnya, seolah tak percaya apa yang baru saja di katakan oleh ayahnya.


...~ Bersambung ~...